Sekilas Info

Sepak Bola Maluku, Kaya Potensi Minim Perhatian

Bahkan untuk level kompetisi U16, U17, dan U19 Maluku tidak pernah absen di situ dan pasti ada selalu. “Itulah yang membuat organisasi sepak bola Jerman jatuh hati kemudian Maluku dan Jatim ditunjuk PSSI untuk memegang amanah itu,” tandas Faizal.

Dari seluruh Asprov di Indonesia, Maluku urutan tiga Asprov terbaik setelah Jawa Barat dan Jawa Timur. Dan ini sangat luar biasa karena apa yang diamanahkan PSSI pusat dijalankan oleh Maluku dengan baik.

“Terpulang lagi, banyak kekurangan yang harus kita lakukan saat ini dan PSSI Maluku tidak mungkin jalan sendiri sebab perlu ada kerja sama dengan pemerintah daerah,” katanya.

PSSI juga sudah menyeruakan bahwa sebesar apa pun potensi itu kalau tidak ditopang dengan infrastuktur yang memadai sama juga bohong, kemudian ditunjang dengan rutinitas kompetisi yang dilakukan secara kontinyu juga masih kurang.

Karena banyak keinginan yang kuat bagaimana Maluku bisa berbicara di level nasional, ketika sejarah mencatat sebuah desa dari Maluku melawan satu provinsi di tanah air tahun 2006 silam karena menjuarai Piala Medco. Ini sangat luar biasa, dan Desa itu adalah Tulehu, Kecamatan Salahutu, Kabupaten Maluku Tengah (Pulau Ambon).
Sehingga yang menjadi ukuran adalah minimnya dukungan dari pemerintah daerah. Karena itu mudah-mudahan lewat kepemimpinan yang baru bisa berubah sebab semua orang punya mimpi seperti itu, termasuk Kapolda Maluku Irjen Pol Royke Lumowa yang dalam beberapa kesempatan punya mimpi paling tidak Maluku bisa menjadi salah satu kontestan pada liga elit di Indonesia.

Kata Faizal, beberapa tahun lalu sudah ada seperti Persemalra, hanya saja ketika ada larangan untuk penggunaan APBD lalu macet sampai saat sekarang.

Dia juga berharap mencuatnya dugaan skandal mafia bola di tanah air tidak lagi terulang, dan para pengurus lebih fokus untuk memajukan dan mengembangkan olahraga sepak bola di Indonesia secara sportif.

Sementara itu, Kapolda mengakui olahraga sepak bola di daerah ini boleh dibilang sudah lama vakum dari berbagai aktivitas turnamen, padahal cukup banyak klub sepak bola yang tersebar di berbagai kabupaten dan kota.

“Karena itu kami mengajak seluruh pemangku kepentingan di daerah ini untuk membangkitkan kembali olahraga sepak bola yang sudah lama fakum, dan saya rasa kita semua sependapat bahwa sepak bola di Maluku ini harus kita kembang-suburkan,” kata mantan CEO Bhayangkara FC ini.

Melihat kevakuman yang terjadi, Polda Maluku menggelar turnamen sepak bola milenial U23 di Stadion Mandala Remaja Karang Panjang Kota Ambon pada 27 Januari 2019.

Kompetisi diikuti 12 tim sepak bola U23 dari berbagai daerah di Provinsi Maluku. Tim sepak bola Pelauw Putera berhasil menggondol piala Kapolda Maluku setelah di laga final menyingkirkan Tulehu Putra 1-0.

Menurut Kapolda, semua stakeholder harus bahu membahu mewujudkan cita-cita bersama, yaitu membawa sepak bola Maluku menembus liga 2 ataupun liga 1 Indonesia.

“Karena adik-adik banyak yang bermain bola di pinggir jalan. Tidak ada yang mewakili Maluku masuk liga 2, atau liga 1 sehingga kita harus bisa,” ujar Kapolda.

Orang Maluku, katanya, banyak yang tampil sebagai pemain sepak bola tetapi sayang, banyak pemain muda handal tidak mampu membawa perwakilan Maluku menembus turnamen bergengsi di Indonesia.

Selanjutnya 1 2 3
Penulis:

Baca Juga