Sekilas Info

Transaksi Dollar di Perbankan Ambon Normal

Ist

KABARTIMURNEWS.COM,AMBON - Hingga hari ini nilai tukar rupiah terhadap dollar AS masih cukup tinggi dikisaran Rp. 14.785 per satu dollar AS. Kendati nilai tukarnya tergolong tinggi akhir-akhir ini, tidak mendorong pemegang dollar di Maluku melakukan transaksi penukaran.

Kepala Tim Advisory dan Pengembangan Ekonomi BI Maluku, Andy Setyo Biwado mengaku, berdasarkan informasi yang diterima dari perbankan di Ambon, transaksi penukaran dolar di sejumlah perbankan masih normal dan belum ada lonjakan aktivitas transaksi penukaran uang di perbankan dari dollar ke rupiah. “Belum ada peningkatan meskipun dolar cenderung menguat akhir-akhir ini,”ungkapnya saat dikonfirmasi Kabar Timur via seluler kemarin.

Sementara kondisi terbalik terjadi pada perusahan eksportir di Maluku. Berdasarkan informasi dari beberapa perusahaan eksportir yang berhasil dihubungi pihak BI Maluku, mengungkapkan penguatan dolar memberikan keuntungan bagi perusahaan mereka dengan margin yang tidak terlalu besar.

“Saat ini, perusahaan eksportir belum dapat memastikan seberapa besar kenaikan margin keuntungan karena perusahaan masih menghitung kebutuhan impor barang modal maupun pembelian spare part dari luar negeri yang membutuhkan pembayaran dalam dolar,”tandasnya.

Berdasarkan pernyataan resmi Bank Indonesia melalui websitenya dijelaskan tekanan terhadap nilai tukar Rupiah terjadi sejak awal Februari 2018 lebih disebabkan tren kenaikan suku bunga AS dan meningkatnya ketidakpastian global akibat perubahan kebijakan AS dan sejumlah risiko geopolitik.

Untuk itu, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menegaskan komitmen Bank Indonesia untuk mengawal secara ketat stabilitas nilai tukar Rupiah melalui serangkaian langkah stabilisasi yang telah ditempuh Bank Indonesia.

Pertama, menaikkan suku bunga kebijakan moneter sebesar 125 bps menjadi 5,50 persen selama tahun 2018. Kebijakan tersebut diambil agar pasar keuangan Indonesia, khususnya obligasi Pemerintah, tetap menarik bagi investor global dan untuk menurunkan defisit transaksi berjalan dengan koordinasi bersama Pemerintah.

Kedua, melakukan intervensi ganda di Pasar Valuta Asing (valas) dan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) dari pasar sekunder, khususnya pada saat terjadi pembalikan modal asing dalam jumlah besar.

Ketiga, menyediakan Swap Valas dan Swap Hedging dengan biaya yang relatif murah. Swap Valas (pada pagi hari) untuk pemenuhan likuiditas Rupiah dan Valas serta Swap Hedging (pada siang hari) untuk pemenuhan kebutuhan hedging korporasi. Keempat, melakukan relaksasi kebijakan makroprudensial untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi, seperti Loan to Value ratio untuk sektor perumahan, serta akselerasi pendalaman pasar keuangan seperti IndONIA sebagai referensi suku bunga di pasar uang.

Dan kelima, memperkuat sinergi dan koordinasi dengan pemerintah dan lembaga keuangan terkait, termasuk Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk memastikan bahwa stabilitas nilai tukar dan stabilitas sistem keuangan tetap terjaga.

Bank Indonesia meyakini bahwa kondisi perekonomian Indonesia tetap kuat dan berdaya tahan. Beberapa indikator perekonomian Indonesia menunjukkan ketahanan tersebut, seperti pertumbuhan ekonomi yang tumbuh cukup baik, dan inflasi yang rendah serta terjaga.

Kondisi stabilitas sistem keuangan juga terjaga sebagaimana ditunjukkan oleh intermediasi yang kuat. Namun demikian, Bank Indonesia juga senantiasa mewaspadai berbagai risiko yang mungkin timbul di tengah ketidakpastian global sebagaimana yang terjadi pada Turki dan Argentina.

Dengan dukungan kebijakan baik moneter, stabilitas sistem keuangan maupun fiskal yang berhati-hati (prudent), serta komitmen Pemerintah yang kuat khususnya dalam mengurangi defisit transaksi berjalan, Bank Indonesia meyakini ketahanan ekonomi Indonesia.

Bank Indonesia memperkirakan hingga akhir tahun defisit transaksi berjalan dapat mengarah pada 2,5 persen dari PDB pada tahun 2018, dan 2 persen dari PDB pada tahun 2019, khususnya didukung oleh beberapa kebijakan Pemerintah antara lain melalui kebijakan penggunaan bahan bakar B20 yang diperkirakan dapat menurunkan defisit hingga USD2,2 miliar.

Membaiknya defisit transaksi berjalan juga didorong oleh penguatan sektor pariwisata, penundaan beberapa proyek Pemerintah, dan peningkatan ekspor sekitar USD 9-10 miliar pada tahun depan. (RUZ)

Penulis:

Baca Juga