KABARTIMURNEWS.COM.AMBON- Komando Daerah TNI Angkatan Laut (Kodaeral) IX Ambon resmi menuntaskan misi kemanusiaan penanganan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang melanda kawasan Negeri (Desa) Saleman, Kabupaten Maluku Tengah (Malteng).
“Keberhasilan ini menandai tuntasnya operasi gabungan dalam mengendalikan api serta memulihkan wilayah terdampak setelah berlangsung selama beberapa pekan terakhir,” kata Komandan Kodaeral IX Laksamana Muda TNI Hanarko Djodi Pamungkas di Ambon, Kamis.
Hanarko menyampaikan apresiasi dan penghargaan tinggi kepada seluruh personel Satgas atas dedikasi, kerja keras, serta rasa tanggung jawab yang ditunjukkan selama berada di medan tugas yang berat.
“Kami bersyukur seluruh rangkaian misi penanganan karhutla di Maluku Tengah ini dapat diselesaikan dengan tuntas, serta seluruh personel dan material kembali ke markas dalam keadaan aman dan lengkap,” ujarnya.
Ia menegaskan keberhasilan penanganan Karhutla ini merupakan wujud nyata sinergi yang kuat antara Kodaeral IX dan Bakamla RI dalam mengemban tugas kemanusiaan, merespons darurat bencana, serta hadir membantu masyarakat yang terdampak di wilayah Maluku.
Ia menjelaskan Satgas Karhutla Kodaeral IX yang dipimpin oleh Letda Laut (T) Arya Maulana Kampai bersama unsur Bakamla diterjunkan langsung ke lokasi terdampak di Negeri Saleman selama empat pekan. Selama di lapangan, tim berjibaku memadamkan titik api, melakukan pendinginan, hingga membantu memitigasi dampak bencana bagi warga setempat.
Dengan ditariknya seluruh personel kembali ke Ambon, penugasan Satgas Karhutla resmi berakhir dan para personel selanjutnya dikembalikan ke satuan serta instansi masing-masing.
Berdasarkan data dan laporan dari pemerintah negeri setempat, karhutla yang melanda Negeri Saleman, Kecamatan Seram Utara Barat, Kabupaten Maluku Tengah, meninggalkan dampak yang cukup signifikan terhadap perekonomian dan lingkungan warga.
Berdasarkan data, diperkirakan mencapai sekitar 50 hektare yang mencakup lahan perkebunan produktif dan kawasan hutan warga.
Titik api mulai berkobar sejak 13 September 2026 dan terus membara selama lebih dari satu bulan hingga pertengahan Oktober 2026.
Berkaitan dengan hal itu lebih dari 5.000 pohon perkebunan utama milik warga, seperti cengkih dan pala, hangus terbakar.
“Saat ini sedang dalam proses penghijauan kembali, saya ucapkan terima kasih kepada pihak yang membantu, terutama Bakamla,” kata dia. (AN/KT)
























