Bareskrim Usut Skandal Izin BPS di Gunung Botak

Malteng

Aroma Pala & Bisikan Sejarah Pasca “Banda Haritage Festival”

badge-check


					Aroma Pala & Bisikan Sejarah  Pasca “Banda Haritage Festival” Perbesar

BANDANAIRA-“Banda bukan hanya sejarah, tapi pride (kebanggaan) Maluku yang harus kita jaga bersama,” kata Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa.

Sepekan setelah gemuruh tabuhan tifa dan lengkingan Cakalele mereda, Kepulauan Banda, Kabupaten Maluku Tengah (Malteng), Maluku, kembali diselimuti ketenangan, namun kali ini dengan getaran optimisme yang baru.

Banda Heritage Festival (BHF) 2025 yang baru saja usai bukan sekadar perayaan tahunan yang dimeriahkan pejabat Jakarta, melainkan titik balik penting sebuah katalis yang mengubah cara masyarakat Banda memandang pala, laut, dan sejarah mereka.

Gelaran yang mengusung tema “Nafas Budaya, Jejak Sejarah, Pesona Alam” ini meninggalkan warisan yang jauh lebih berharga daripada semarak kembang api di atas Istana Mini. Ia meninggalkan komitmen politik dan—yang paling penting—kebangkitan ekonomi kreatif yang berbasis pada sejarah itu sendiri.

Kehadiran Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian dan para pejabat tinggi lainnya memberikan sinyal politik terkuat. Mendagri menegaskan Banda harus didorong menjadi destinasi wisata berkelas dunia, namun dengan etos pelestarian yang kuat.

“Bali digempur luar biasa [turis], tapi budaya adat lokal masih dominan dan menjadi bagian dari kehidupan. Kenapa? Karena instrumen-instrumen ketahanan budaya dan adatnya itu aktif dan dihidupkan dan didukung oleh regulasi,” tegas Mendagri Tito Karnavian, memberikan blueprint pariwisata berkelanjutan yang wajib ditiru Banda.

Dukungan regional diperkuat oleh Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa, yang melihat BHF 2025 sebagai penanda kesiapan daerah menyambut perhatian nasional.

“Festival ini adalah panggung pembuktian kesiapan Maluku untuk menerima status Warisan Dunia UNESCO bagi Banda Neira. Kita harus memastikan bahwa momentum ini diikuti dengan peningkatan kualitas pelayanan, kebersihan, dan terutama SDM lokal. Banda bukan hanya sejarah, tapi pride (kebanggaan) Maluku yang harus kita jaga bersama,” kata Gubernur Lewerissa, menggarisbawahi pentingnya tindak lanjut pasca-festival.

Sementara itu, Anggota Komisi V DPR RI, Saadiah Uluputty, memastikan dukungan anggaran dan kebijakan dari tingkat pusat.

“Kami di Komisi V akan terus mengawal agar alokasi anggaran infrastruktur yang mendukung pariwisata di Banda Neira, seperti konektivitas pelabuhan dan bandara, dapat diprioritaskan. Warisan sejarah ini adalah aset bangsa yang harus didukung dengan fasilitas modern,” ujarnya, memberi jaminan dukungan anggaran.

Di tengah keriuhan politik, cerita human interest yang paling menyentuh adalah transformasinya pala dari komoditas mentah menjadi produk kreatif berkelas.

Bu Rosi (55 tahun), seorang warga Neira yang bertahun-tahun hanya menjual manisan pala rumahan. Berkat mentoring menjelang BHF 2025, ia berani berinovasi dan memperbaiki packaging.

“Dulu, pembeli tawar-menawar sampai Rp 10.000. Sekarang, mereka lihat kemasan dan cerita di baliknya, mereka berani beli jauh lebih mahal. Pala bukan cuma jualan, tapi warisan yang bisa dibanggakan,” ujar Bu Rosi, menjadi simbol keberhasilan UMKM yang naik kelas.

Bupati Maluku Tengah, Zulkarnain Awat Amir, memastikan bahwa semangat ini akan terus dijaga.

“Festival ini akan menjadi ajang promosi wisata dan budaya, serta meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan kesadaran akan pentingnya melestarikan Warisan Budaya dan Lingkungan di Kabupaten Maluku Tengah,” kata Bupati, menetapkan BHF sebagai motor penggerak ekonomi lokal.

Puncak keindahan festival terletak pada keterlibatan komunitas adat. Lomba Perahu Belang (Kora-kora) dan Tarian Adat yang dibawakan pemuda Banda menjadi bukti bahwa budaya maritim tetap hidup.

Rusdan, seorang tokoh pemuda yang aktif dalam Komunitas Adat Banda, menggarisbawahi pentingnya pengakuan terhadap peran pemuda dalam pelestarian.

“Kami berharap festival ini bukan hanya pesta, tapi alat perjuangan. Melalui festival, kami sampaikan aspirasi agar pendidikan sejarah dan budaya adat di Banda Neira diperkuat. Generasi muda adalah pewaris tunggal peradaban ini,” harap Rusdan, mewakili suara komunitas yang ingin melihat warisan mereka bertahan melampaui gemerlap acara.

Banda Heritage Festival 2025 telah menguatkan harapan. Dengan dukungan pusat yang solid, sinergi regional, pengawalan dari legislatif, dan bangkitnya semangat UMKM yang didukung legitimasi adat, pala bukan lagi rempah pemicu sengketa, tetapi benih harapan bagi ekonomi yang bangkit, dan penentu langkah Banda Neira menuju panggung Warisan Dunia. (KIE)

Tinggalkan Balasan

Baca Juga

Pemkab Malteng Hadirkan Mesin Cetak E-KTP untuk Warga Banda

7 Maret 2026 - 00:06 WIT

Sinergi TNI-Polri & Tokoh Masyarakat Jaga Kedamaian di Hitu dan Morella

7 Februari 2026 - 10:18 WIT

Lapas Wahai Maluku Libatkan Warga Binaan Kelola Dapur SPPG

28 Januari 2026 - 00:30 WIT

Menunggu  “Action” Jaksa-Polisi di Skandal Bansos Malteng

26 Januari 2026 - 00:47 WIT

Tampil di Panggung Nasional, Bupati Malteng Pimpin Diskusi Strategis

20 Januari 2026 - 22:28 WIT

Trending di Malteng