Bareskrim Usut Skandal Izin BPS di Gunung Botak

Internasional

Saatnya Menekan Trump Bebaskan Palestina

badge-check


					Saatnya Menekan Trump Bebaskan Palestina Perbesar

Washington memandang Teluk sebagai titik patahan penting dalam ketegangan AS-China  yang lebih luas.

KABARTIMURNEWS.COM, WASHINGTON – Saat Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengunjungi Saudi, Qatar, dan Uni Emirat Arab pekan ini, negaranya bukan lagi adidaya yang dulu berkuasa. Kini, AS justru sangat bergantung pada ketiga negara itu, posisi yang semestinya digunakan negara-negara Teluk itu menekan Trump soal status Palestina.

Media-media Israel sudah mengendus perimbangan kekuatan baru ini. Lembaga penyiaran publik Israel Kan melansir pada Senin, selama kunjungan Trump ke Saudi akhir pekan ini, Riyadh akan mencoba mengajaknya ikut serta dalam paket kesepakatan regional yang mencakup pembentukan negara Palestina.

Ada tawaran soal Palestina yang didemiliterisasi, mengakhiri perang di Gaza sembari membubarkan Hamas, dan normalisasi hubungan antara Israel dan negara-negara Arab. Media tersebut mengutip seorang pejabat keluarga kerajaan Saudi yang tidak disebutkan namanya yang mengatakan ada banyak optimisme di Riyadh bahwa Trump akan terbujuk untuk mendukung kesepakatan tersebut.

Pejabat tersebut mengatakan bahwa beberapa rincian masih dapat diubah, namun pembentukan negara Palestina dan penghentian perang adalah komponen yang tidak dapat dinegosiasikan.

POSISI TAWAR KUAT

Koresponden luar negeri the Guardian Simon Tisdall menuliskan, para pemimpin negara-negara Teluk mempunyai kekuatan untuk meluruskan Trump, jika mereka memutuskan untuk menggunakannya. Trump kali ini sangat bergantung pada negara-negara tersebut – lebih dari Eropa – sebagai mitra diplomatik, mitra keamanan, dan pendukung keuangan.

“Pendekatannya terhadap Palestina, yang berada di ambang Nakba (bencana) kedua, merupakan campuran dari prasangka, kekejaman, dan ketidaktahuan belaka. Tanpa bantuan Arab, AS dan Israel mungkin akan terus terjebak dalam jalan buntu kebijakan yang merusak.”

Salah satu daya tawar negara-negara Teluk yang utama adalah soal finansial. Dengan meningkatnya tekanan inflasi akibat kebijakan tarif, Trump ingin menunjukkan kesepakatan yang menyalurkan kekayaan negara-negara Teluk ke dalam perekonomian AS. Hal ini termasuk komitmen investasi bernilai miliaran dolar AS dari Riyadh, Doha, dan Abu Dhabi.

Ketiga negara ini tidak hanya merupakan pilar stabilitas regional tetapi juga berfungsi sebagai proksi fungsional untuk proyeksi kekuatan AS tanpa memerlukan keterlibatan militer langsung. Mulai dari penguasaan energi fosil dan likuiditas keuangan hingga mediasi konflik regional, masing-masing negara bagian ini memiliki kekuatan untuk menekan Trump.

Merujuk Geopolitical Monitor, biaya energi yang tinggi juga mengancam akan memperburuk inflasi di dalam negeri, sehingga melemahkan narasi ekonomi Trump. Dalam konteks itu, Arab Saudi, raja harga minyak dunia, di atas angin.

Saudi mempunyai alasan kuat untuk mempertahankan kenaikan harga guna menyeimbangkan anggaran nasionalnya dan mempertahankan Visi 2030 yang ambisius, terutama dengan beberapa proyek infrastruktur bernilai miliaran dolar yang sedang dikembangkan. Trump dapat menawarkan jaminan keamanan yang diperluas atau kesepakatan senjata dengan imbalan konsesi jangka pendek terhadap produksi minyak.

Tinggalkan Balasan

Baca Juga

Trauma Panjang Pelucutan Senjata Pejuang Palestina

5 Desember 2025 - 00:11 WIT

Konflik Berdarah di Tanimbar, Satu Tewas dan Empat Luka

30 November 2025 - 23:38 WIT

Polda Maluku Kerahkan Pesawat Cari 11 ABK Hilang di Laut Banda

26 November 2025 - 02:10 WIT

Begini Cara Kejaksaan Awasi  Aliran Kepercayaan

20 November 2025 - 23:59 WIT

Tepi Barat Memanas, Batalyon Jenin Melawan

20 November 2025 - 03:01 WIT

Trending di Internasional