Semua Saksi Mengarah ke Deny Saiya, Pelaku “Fraud”

Ilustrasi

KABARTIMURNEWS.COM.AMBON - Sidang lanjutan 85 cek ke bank mitra yakni Bank Mandiri dengan pelaku utama Deny Franklin Saiya yang digelar "Sultan Telaga Raja" itu kembali berlanjut. Deny diketahui sebagai pelaku utama penggelapan uang bank setelah saksi-saksi diperiksa oleh pihak Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Maluku.

Tim JPU Kejari Ambon dikoordinir jaksa Sangadji mencercar 9 saksi terkait dugaan penggelapan uang BPR Bank Modern Ekspress ke bank mitra tersebut. Namun para saksi semua mengarahkan kesalahan ke Deny, terkait 85 cek senilai Rp 67 miliar itu.

"Ada masalah apa sampai saudara dihadirkan di sidang ini," tanya Sangadji kepada saksi Erna yang bergabung dengan Bank Modern sejak Nopember tahun 1994 itu.

"Yang lakukan penyalahgunaan cek itu siapa?," telisik Sangadji. "Deny Franklin Saiya," ujar saksi Ema.

Saksi menjelaskan adanya pencairan 85 cek ke bank mitra yakni Bank Mandiri, oleh Deny Franklin di tahun 2015 tanpa ditandatangani oleh direktur maupun jajaran direksi.  Menurutnya, sebelum cek dicairkan ke bank mitra (Mandiri) sesuai SOP harus ditandatangani oleh direktur dan 2 direksi lebih dulu.

Yang mana direktur keuangan di tahun tersebut adalah Fronsky Sahetapy

"85 cek yang dicairkan ke bank mitra ada tandatangan pak Fronsky Sahetapy gak?," cercar Sangadji ke saksi Ema.

Yang dijawab saksi, tidak ada.

Yang ada, sambung saksi, hanya nota perintah pembayaran (NPP). Saksi yang juga staf audit SKAI itu menyebutkan, pihaknya baru tau adanya penggelapan uang bank setelah diperiksa oleh OJK.

Semua saksi mengarahkan "fraud" atau penggelapan uang bank ke terdakwa Deny Franklin Saiya. Hal yang sama disampaikan para saksi lainnya.

Seperti saksi Welda yang merupakan staf manajemen bagian teller, kemudian saksi Diana Lekatompessy. Juga saksi Beny Bopati yang menyebutkan kalau terdakwa Deny di tahun 2020 menjabat Asisten Manajer.

"Nilai totalnya Rp 67 miliar," ungkap Khairina yang menjabat Head Teller pada BPR Modern Express itu menjawab JPU Donald Rettob. (KTA)

Komentar

Loading...