Ini Penyebab Kematian Rafi, Korban Penganiayaan Anak Ketua DPRD Ambon

KABARTIMURNEWS.COM, AMBON - Setelah pembacaan dakwaan pada pagi harinya pukul 9.00 Wit, sore harinya sekira pukul 15.00 Wit, tiga jaksa penuntut umum (JPU) ini langsung menghadirkan 6 orang saksi di perkara penganiayaan yang menyebabkan kematian Rafi siswa kelas III SMA Alfatah Ambon itu. Tampak duduk di kursi terdakwa, Abdi Toisutta, anak ketua DPRD Kota Ambon.

"Ini barang buktinya majelis, " ujar salah satu JPU, Endang Anakoda didampingi dua rekannya Novi S Temmar dan Evie Hattu di persidangan Jumat (13/10/2023) di PN Ambon.

Barang bukti dimaksud adalah sebuah helm hitam. Yang saat ditanyakan oleh hakim ketua Harris Tewa, apakah itu helm standar atau tidak, ketiga JPU sama mengaku itu helm standar.

"SNI?," tanya hakim ketua yang kemudian diiyakan oleh ketiga JPU asal Kejari Ambon itu.

"Kok bisa, helm standar kok," ujar Harris setengah tak percaya.

Tim JPU yang mengantongi BAP, kemudian membacakan visum et repertum pihak rumah sakit RST dr J.A.Latumeten. "Adapun fakta-faktanya, jaringan ikat selaput otak tampak pendarahan epidarial, otak kecil terjadi pelebaran pembuluh darah. Sedangkan ginjal, hati normal. Sementara anggota atas sampai kuku-kuku jari kebiruan. Maka kesimpulannya, saya dokter Kin, ini terjadi akibat kegagalan pernafasan disertai pendarahan akibat kekerasan benda tumpul," papar JPU Endang Anakoda, saat membacakan visum dokter tersebut.

Usai mendengarkan paparan tim JPU Kejari Ambon itu, hakim ketua Harris Tewa, didampingi hakim anggota Heny Somlay dan Lutfi Alzagladi mencercar lima saksi. Namun sebelumnya JPU lebih dulu menghadirkan saksi anak, yakni Fajri Semarang yang diboncengi korban Rafi.

Sayangnya untuk saksi yang satu ini seluruh pengunjung sidang termasuk wartawan dipersilakan keluar. "Saksi anak yang tadi bagus ceritanya," ujar hakim Harris, tanpa penjelasan.

5 saksi dewasa yang dihadirkan JPU, masing-masing Samsudin Rumuar alias Panzer, Alfi Kelilawa, Ansor Alamsyah, Sri dan Suharyati. Tiga saksi terakhir merupakan paman dan 2 bibi korban.

Ketiga saksi domisili Kampung Waringin Talake, sekaligus TKP penganiayaan yang mengakibatkan kematian Rafi. Dalam keterangannya, saksi Alfi Keliwawa, menjelaskan dirinya sempat mencegah terdakwa Abdi memukul korban.

Tapi pelaku Abdi seperti tak menghiraukan peringatan rekannya itu. Dia tetap berupaya memukul korban Rafi.

Hingga pukulan berupa tamparan telapak tangannya yang keempat kalinya itu membuat korban tertunduk diam tak bergerak lagi di stang kemudi motornya. Di persidangan, saat ditanyakan oleh hakim ketua, Abdi mengaku memukul dengan telapak tangan ke helm korban.

"Yang terakhir yang kaca helmnya lepas? Jadi posisi yang terakhir itu baru korban tertunduk ya," tanya JPU Endang kepada saksi Alfi, yang diiyakan oleh saksi.

Salah satu fakta persidangan yang cukup menarik ketika ibu korban, I Nalet Loho menjelaskan, walau ibu terdakwa datang di hari 40 kematian Rafi, untuk menyampaikan permintaan maaf, dirinya menerima. Tapi menurut I Nalet dia tetap memproses hukum pelaku.

"Setelah hari 40 baru mamanya Abdi datang minta maaf. Iya minta minta maaf, tapi tetap proses hukum," ujar I Nalet di persidangan.

Saat ditanyakan hakim Harris, apakah ibu terdakwa yang merupakan Ketua DPRD Kota Ambon itu memberikan bantuan berupa materi, I Nalet mengaku tidak ada. "Dong tidak ada kasih apa-apa?," tanya hakim Harris.

"Mamanya terdakwa hanya bilang katong jadi keluarga sudah," aku I Nale Loho. "Nah itu lah faktanya," ujar hakim Harris, masih tanpa penjelasan.

Di akhir persidangan kedua bibi korban menjelaskan, kalau ponaan mereka itu adalah anak yang baik. "Baik orangnya seng biasa bicara banyak," ujar saksi Suharyati.

Sementara saksi Samsudin Rumuar alias Panzer, mengaku hanya mengenal baik kakak korban. "Beta kira sama saja pa hakim, baik juga," ujar Samsudin. (KTA)

Komentar

Loading...