KABARTIMURNEWS.COM, AMBON – Mantan Ketua Sinode Gereja Protestan Maluku, John Ruhulessin, angkat bicara membela Jusuf Kalla terkait polemik ceramah soal “mati syahid” yang viral di media sosial.
Pernyataan tersebut disampaikan Ruhulessin sebagai respons atas laporan dugaan penistaan agama terhadap Jusuf Kalla oleh sejumlah organisasi kepemudaan Kristen di Polda Metro Jaya. Ia menilai, pernyataan JK tidak bisa dilepaskan dari konteks sejarah dan dinamika sosial saat konflik di Maluku dan Poso terjadi.
Ruhulessin menegaskan, Jusuf Kalla merupakan salah satu tokoh penting dalam proses penyelesaian konflik di Maluku, khususnya melalui Perjanjian Malino II.
“Kita tahu bahwa Pak JK adalah arsitek yang bersama-sama dengan pemerintah Indonesia ketika itu ikut menyelesaikan konflik Maluku,” ujarnya, Selasa (14/4/2026).
Ia mengingatkan bahwa masyarakat Maluku memiliki utang sejarah terhadap peran JK dalam meredam konflik. Bahkan, menurutnya, JK beberapa kali turun langsung ke Ambon untuk memastikan proses perdamaian berjalan.
“Beberapa kali beliau datang di Ambon dan kemudian proses Malino II, beliau adalah arsitek untuk perdamaian di Maluku. Dan kita berterima kasih kepada Pak JK,” lanjutnya.
Ruhulessin menegaskan, pernyataan JK soal “syahid” tidak dimaksudkan untuk menyentuh doktrin agama tertentu, melainkan menggambarkan realitas sosial yang terjadi saat konflik.
“Pak JK dalam konteks itu tidak berbicara pada kepentingan doktrin satu agama, apalagi doktrin yang menyangkut agama Kristen. Saya kira Pak JK tidak bermaksud untuk seperti itu,” tegasnya.
Menurutnya, dalam situasi konflik, masyarakat kerap mencari legitimasi agama untuk membenarkan tindakan kekerasan. Hal itu, kata dia, merupakan fakta lapangan yang direkam oleh JK dalam ceramahnya.
“Yang beliau lihat adalah kondisi praktis ketika penyelesaian konflik terjadi bahwa orang mencari legitimasi-legitimasi agama untuk terus berperang,” jelasnya.
Ruhulessin berharap polemik ini tidak berkembang menjadi konflik baru yang dapat mengganggu stabilitas sosial, khususnya di Maluku yang pernah mengalami konflik berkepanjangan.
Ia menegaskan kembali bahwa tidak ada niat dari Jusuf Kalla untuk melecehkan agama mana pun, melainkan semata-mata menyampaikan realitas sosiologis-historis.
“Saya kira Pak JK sampai pada taraf semacam itu tidak bermaksud melecehkan satu agama ya, hanya beliau melihat fakta sosiologis-historis bahwa orang mencari legitimasi agama untuk terus berperang,” pungkasnya. (OAN)


























