KABARTIMURNEWS.COM.AMBON-Panggung pemilihan Sekretaris Kota Ambon mulai memanas. Antara ketenangan petahana, kalkulasi birokrasi, dan filosofi “Payung” yang provokatif. Siapa yang paling tangkas bermanuver?
DI koridor Balai Kota Ambon, bisik-bisik soal siapa yang bakal menjadi “Panglima ASN” tak lagi sekadar selentingan. Tiga nama besar sudah meletakkan kartu di atas meja adalah: Robby Sapulette, Steven Dominggus, dan Apries Gaspersz.
Namun, di balik tumpukan berkas administrasi itu, ada aroma persaingan yang lebih dalam dari sekadar urusan pangkat. Ketiga kandidat ini bukanlah orang baru. Mereka adalah “anak kandung” birokrasi Ambon dengan spesialisasi yang berbeda.
Robby Sapulette: Sebagai Plt. Sekkot, ia memegang kendali start paling depan. Banyak yang menjagokannya karena ia sudah “memegang setir.”
Di kalangan birokrat, Robby dianggap figur yang paham betul lekuk-lekuk mesin pemerintahan saat ini.
Steven Dominggus: Sosok yang dikenal punya kapasitas teknis dan manajerial yang solid. Ia adalah tipikal birokrat yang bekerja dalam sunyi namun punya hasil yang presisi.
Apries Gaspersz: Sang “Kuda Hitam” yang mendadak mencuri perhatian lewat narasi yang tak biasa. Ketika pendaftaran JPT Pratama dibuka, Apries Gaspersz tidak datang dengan tangan hampa atau sekadar janji manis.
Kepala Dinas LHP Ambon ini membawa sebuah antitesis terhadap wajah birokrasi yang kaku. Ia melempar metafora: “Memperkecil Hujan dan Memperbesar Payung.”
Bagi Apries, birokrasi jangan sampai menjadi beban yang malah menambah “basah” rakyat saat masalah datang.
“Hujan itu masalah, gangguan, dan konflik. Tugas kita meredamnya. Payung itu pelayanan publik. Kita harus memperluas perlindungan agar warga merasa aman,” ujarnya dengan nada puitis namun tegas.
Gebrakan Apries ini dianggap sebagai upaya membawa Ambon “naik kelas” agar tak sekadar jadi penonton bagi kemajuan kota-kota lain di Indonesia.
Sumber di lingkup Pemkot Ambon membisikkan bahwa seleksi kali ini akan sangat bergantung pada hasil assessment yang ketat. Bukan lagi soal kedekatan, tapi soal “Kecerdasan Komprehensif.”
“Kecerdasan adalah faktor penentu. Dan itu akan terlihat di hasil seleksi nanti,” ungkap sumber tersebut.
Meski Robby Sapulette diunggulkan karena faktor posisi saat ini, kehadiran Steven dan Apries membuat konstelasi politik birokrasi menjadi cair.
Apries, misalnya, menunjukkan ketelitian administrasinya—mulai dari ijazah hingga sertifikat PIM—adalah bentuk simulasi bagaimana ia akan mengelola anggaran kota nanti: Presisi dan tanpa cela.
Dinamika ini juga memunculkan spekulasi tentang “ambisi.” Ada suara-suara yang menyarankan agar para kandidat tak perlu terlalu agresif. Namun, bagi Apries Gaspersz, ia memilih jalan tengah: bekerja keras di jalur formal, namun berserah pada takdir.
“Jabatan adalah garis tangan yang ditentukan langit,” katanya kalem.
Bursa Sekkot Ambon kali ini memberikan pesan kuat: birokrasi Ambon sedang haus akan perubahan.
Pertarungannya kini bukan lagi soal siapa yang paling senior, tapi siapa yang paling mampu menjadi “eksekutor.” (KT)


























