KABARTIMURNEWS.COM.AMBON-Perjuangan itu buahkan hasil. Pukul 04.40 WIT, tepat saat azan subuh berkumandang, tim berhasil tiba di Desa Nusantara.
Gunung Api Banda yang berdiri gagah di ketinggian 658 mdpl biasanya menawarkan pesona matahari terbit yang memukau bagi para pendaki. Namun, bagi Tiara (20) dan kawan-kawannya, gunung api yang berada di Pulau pengasingan Proklamator Bung Hatta ini, justru memberikan cerita berbeda Minggu, 8 Februari 2026, dini hari. Niat berkemah berakhir dengan operasi evakuasi menegangkan.
Semua bermula Sabtu, 7 Februari 2026 sore, sekira pukul 15.02 WIT. Tiara bersama rombongan mulai menapakkan kaki di jalur pendakian Gunung Api Banda. Target mereka jelas, mencapai puncak sebelum gelap, mendirikan tenda, dan menikmati kopi di bawah taburan bintang Desa Nusantara.
Namun, rencana manusia tak selalu sejalan dengan kenyataan. Setibanya di puncak, masalah muncul. Logistik utama mereka—tenda—ternyata dibawa oleh salah seorang rekan yang tertinggal jauh di belakang.
Setelah berjam-jam menunggu dalam ketidakpastian sementara angin gunung mulai menusuk tulang, mereka mengambil keputusan pahit: batalkan camping dan turun malam itu juga.
Keputusan untuk turun di tengah kegelapan ternyata membawa petaka baru. Saat mencoba menuruni lereng yang licin dan curam, Tiara salah menumpu kaki. Krak. Pergelangan kakinya terkilir hebat.
Di tengah jalur yang sunyi dan gelap, Tiara tak lagi mampu melangkah. Kondisi ini berubah menjadi situasi “membahayakan jiwa manusia” karena suhu udara dan keterbatasan peralatan medis yang mereka bawa.
Laporan darurat masuk ke Pos SAR Banda sekitar pukul 00.20 WIT. Tanpa membuang waktu, Tim SAR Gabungan yang terdiri dari personel Basarnas dan unsur masyarakat bergerak cepat. Mereka harus menempuh jarak sekitar 3,69 kilometer dengan medan yang menanjak di tengah pekatnya malam.
“Kami merespons cepat laporan tersebut. Tim dikerahkan untuk mengevakuasi korban dari koordinat yang telah ditentukan,” ujar Muhamad Arafah, Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Basarnas Ambon.
Setelah dua jam pendakian darurat, tim penyelamat akhirnya menemukan Tiara pada pukul 02.25 WIT. Dengan kondisi kaki yang membengkak, Tiara segera mendapatkan penanganan awal sebelum dievakuasi menggunakan tandu darurat.
Proses penurunan korban dilakukan dengan ekstra hati-hati. Keamanan (safety) menjadi prioritas utama mengingat jalur turun Gunung Api Banda yang cukup teknis. Perjuangan itu membuahkan hasil; pada pukul 04.40 WIT, tepat saat azan subuh mulai berkumandang, tim berhasil mencapai Desa Nusantara.
Tiara yang tampak lelah namun lega langsung diserahkan kepada pihak keluarga untuk perawatan lebih lanjut. Pendakian yang awalnya direncanakan untuk bersenang-senang itu memang gagal mencapai tujuan puncaknya, namun berkat kesigapan Tim SAR, nyawa dan keselamatan sang pendaki berhasil diamankan. (AN/KT)


























