KABARTIMURNEWS.COM.AMBON-Bandara Patrimura telah dikembalikan statusnya menjadi Bandar Udafa Internasional.
Dengan adanya perubahan status fasilitas penunjang tranportasi udara dimaksud, Wakil Ketua Komisi I DPRD Maluku Jhon Laipeny angkat bicara.
Menurutnya harus ada perubahan dalam pengembangan pengelolaan pariwisata di provinsi seribu pulau. Khususnya sektor dimaksud sangat membutuhkan manajer baru yang memiliki kepiawaian dan kreativitas tinggi untuk mendatangkan investor masuk ke provinsi seribu pulau.
“Bandara internasional butuh manajer. Untuk meningkatkan pariwisata, Kadis Pariwisata harus menjadi manajer. Ia harus punya kemampuan mendatangkan investor dan menggerakkan pelaku usaha lokal,” ujar Laipeny kepada wartawan di rumah rakyat, karang panjang, Ambon, Senin, 17 November 2025.
Kata Laipeny pariwisata tidak akan berkembang tanpa terobosan. Ia mencontohkan minimnya atraksi budaya yang dapat dinikmati wisatawan begitu tiba di Ambon.
“Orang datang harus bisa melihat tari-tarian tradisional yang menarik. Sekarang ini sudah jarang. Live music di sudut kota harus ditingkatkan,” tegasnya.
Politisi dari Partai Gerindra itu juga menyoroti potensi wisata bahari yang belum dikelola maksimal. Lokasi diving profesional masih terbatas, sementara banyak daerah dengan pesona laut kelas dunia tetapi belum tersedia fasilitas memadai.
Selain itu, Ia mahalnya biaya perjalanan dari Ambon ke daerah-daerah wisata unggulan seperti Maluku Barat Daya (MBD) dan Kepulauan Kei.
“Ambon ke MBD atau Kei rata-rata harga tiket Rp1,5 juta ke atas. Ini harus dicarikan solusi,” sebutnya.
Wakil rakyat dari Dapil VII itu juga meminta Dinas Pariwisata (Dispar) berani mengambil langkah inovatif, termasuk membangun jejaring dengan NTT yang memiliki pengalaman besar dalam pengelolaan wisata.
“Mereka datang dari perairan selatan. Tour trip Labuan Bajo bisa ditarik sampai Ambon atau MBD. Itu harus dijajaki, jangan menunggu orang datang lalu hanya dicatat tanpa meninggalkan kesan baik.”
Laipeny menegaskan Maluku tidak bisa mengembangkan pariwisata sendirian. Keterlibatan investor, kerja sama antar daerah, serta promosi agresif harus digencarkan.
Bahkan tegasnya event Ambon-Darwin yang dulu sempat berjalan adalah peluang yang harus dihidupkan kembali. Untuk itu, Dispar harus berani menciptakan event besar yang mampu menarik minat wisatawan global.
Namun ia mengingatkan, semua promosi tidak akan efektif bila fasilitas penunjang masih minim.
“Pariwisata ini tidak bisa asal-asalan. Harus ada orang kreatif. Kalau manajernya mampu melakukan maintenance yang baik, meskipun berbiaya mahal, orang pasti akan datang,”tuturnya.
Laipeny jmendorong agar pemerintah menggandeng swasta serta pemerintah negeri di daerah-daerah wisata untuk membenahi fasilitas, infrastruktur, dan layanan dasar bagi wisatawan.
“Pariwisata Maluku harus dikelola dengan kreativitas dan manajemen profesional. Bandara sudah internasional, kini saatnya pariwisata ikut naik kelas,”tutup Laipeny mengakhiri lomentarnya (KTL).


























