Bareskrim Usut Skandal Izin BPS di Gunung Botak

EDITORIAL

Ambon Mencari “Panglima ASN” Bernyali

badge-check


Ambon Mencari “Panglima ASN” Bernyali Perbesar

Seleksi Terbuka Jabatan Pimpinan Tinggi Pratama (JPTP) untuk posisi Sekretaris Kota Ambon yang dibuka Senin lalu bukan sekadar rutinitas birokrasi. Bagi Wali Kota Bodewin M. Wattimena, ini adalah pertaruhan besar.

Pesan menohok yang dilemparkannya saat membuka seleksi di Hotel Manise mengirimkan sinyal kuat kepada publik: Ambon sedang darurat akselerasi, dan ia butuh seorang “Panglima ASN” yang punya nyali, bukan sekadar piawai dalam urusan disposisi.

Selama ini, birokrasi kita sering terjebak dalam romantisme prosedur yang berbelit. Bodewin secara jujur mengakui itu dengan menyentil alur pelayanan yang terlalu panjang.

Maka, tuntutan “Revolusi Keuangan” dan “Inovasi ASN” yang ia gaungkan bukanlah bumbu pidato semata, melainkan sebuah kebutuhan mendesak.

Tanpa Sekkot yang mampu membedah sistem keuangan dan memangkas rantai birokrasi yang gemuk, visi Ambon yang Manise hanya akan berakhir sebagai jargon indah di baliho kota.

Empat nama yang muncul—Robby Sapulette, Richard Luhukay, Steven Dominggus, dan Apries Gaspersz—adalah para pemain lama yang sudah hafal seluk-beluk Balai Kota. Di sinilah letak ujian sesungguhnya bagi Tim Pansel dan Asesor dari Kemendagri.

Mereka tidak hanya ditugaskan mencari sosok yang pintar secara administratif, tapi sosok yang memiliki integritas untuk menjalankan merit system secara murni.

Publik Ambon sudah terlalu sering melihat jabatan strategis diisi berdasarkan kedekatan atau kompromi politik. Namun, dengan melibatkan tim asesor pusat, ada secercah harapan bahwa kali ini objektivitas menjadi panglima.

Kita tidak butuh Sekkot yang hanya pandai menyenangkan atasan (ASAB), tapi kita butuh dirigen yang mampu memimpin ribuan ASN untuk bekerja lebih cepat, lebih ringkas, dan lebih berpihak pada kepentingan warga.

Siapa pun yang terpilih nanti, ia tidak akan memiliki waktu untuk bulan madu. Tugas raksasa sudah menanti di depan mata. Jika yang terpilih gagal melakukan gebrakan dalam 100 hari pertama, maka seleksi ketat selama dua hari ini tak lebih dari sekadar sandiwara administratif yang mahal.

Ambon butuh “motor penggerak”, bukan sekadar pejabat yang duduk manis di kursi empuk. Kini, bola panas ada di tangan Pansel. Jangan sampai salah pilih, karena taruhannya adalah masa depan pelayanan publik di kota  bertanah manise ini. (****)

Tinggalkan Balasan

Baca Juga

“Drama Oper Lempar” Kasus UP3 KKT

20 Februari 2026 - 03:32 WIT

Kejati Maluku & Lelucon Kepastian Hukum

2 Februari 2026 - 02:36 WIT

Trending di EDITORIAL