KABARTIMURNEWS.COM.AMBON-Targetnya, seluruh kerja keras ini akan membuahkan hasil sepenuhnya pada tahun 2027.
Langkah besar diambil Pemerintah Pusat dengan menetapkan pembangunan ruas jalan Air Nanang–Kota Baru–Werinama sebagai prioritas nasional hingga tahun 2029.
Proyek ini bukan sekadar pembangunan infrastruktur biasa, melainkan sebuah misi besar untuk mengakhiri isolasi wilayah selatan Pulau Seram yang selama puluhan tahun terjebak dalam kendala geografis ekstrem.
Dengan dukungan anggaran Multi Years Contract (MYC) yang bersumber dari APBN dan SBSN, pemerintah menunjukkan keseriusan penuh untuk menyulap kawasan ini menjadi urat nadi ekonomi baru di Maluku.
Di balik layar, Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Maluku terus bergerak cepat memastikan proyek ini tidak hanya mengejar panjang aspal, tetapi juga ketahanan kualitas. Mengingat karakter tanah Pulau Seram yang labil dan rawan patahan geologis,
Kepala BPJN Maluku, Yana Astuti, menekankan bahwa fokus utama adalah memperkuat badan jalan agar mampu bertahan lama.
“Jika jalan Trans Seram Selatan ini tersambung sepenuhnya, waktu tempuh dari Bula ke Werinama akan terpangkas signifikan. Ini membuka akses pasar bagi hasil bumi masyarakat di Siwalalat, Werinama, dan sekitarnya,” tegas Yana saat mengawal koordinasi teknis di Jakarta.
Titik kritis dari proyek ini terletak pada tantangan hidrologinya yang ekstrem. Kehadiran Jembatan Wai Bobot menjadi kunci utama sekaligus ikon perubahan; jembatan rangka baja permanen ini akan menggantikan cara lama menyeberangi sungai yang berisiko tinggi saat banjir kiriman datang.
Transformasi serupa juga menyasar belasan jembatan lainnya yang kini bertransformasi dari konstruksi kayu darurat menjadi beton komposit dan girder baja yang kokoh, menjamin denyut nadi logistik tetap stabil tanpa terpengaruh cuaca.
Dampak sosial dari tersambungnya akses ini diprediksi akan sangat masif bagi masyarakat lokal. Para petani di Werinama dan Siwalalat kini punya harapan baru untuk memangkas biaya transportasi hasil bumi hingga lebih dari separuh harga biasanya.
Komoditas unggulan seperti pala, cengkeh, dan kopra yang dulunya terhambat ongkos distribusi kini bisa melaju lewat jalur darat dengan nilai ekonomi yang lebih menguntungkan.
Sektor perikanan pun ikut bergairah karena akses darat memungkinkan truk pendingin menjangkau desa-desa nelayan secara langsung.
Targetnya, seluruh kerja keras ini akan membuahkan hasil sepenuhnya pada tahun 2027. Terbukanya akses darat ini bukan hanya soal memindahkan barang dan orang, melainkan upaya nyata dalam meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Seram Bagian Timur.
Dengan jalan yang mulus, layanan kesehatan, pendidikan, dan kebutuhan dasar lainnya bukan lagi menjadi kemewahan yang sulit dijangkau, melainkan hak yang akhirnya bisa dinikmati oleh seluruh warga di pelosok selatan. (KT)
.