Bareskrim Usut Skandal Izin BPS di Gunung Botak

Internasional

Tak Ada Takbir, Tak Ada “Nadifka Ya Al-Aqsa” di Armada Sumud

badge-check


Tak Ada Takbir, Tak Ada “Nadifka Ya Al-Aqsa” di Armada Sumud Perbesar

KABARTIMURNEWS.COM, TUNIS – Seluruh delegasinya diminta untuk menahan-nahan diri mengikuti ritme penyampaian yel-yel semangat dari partisipan negara-negara Islam lainnya itu.

Bagi umat Islam, masalah penjajahan Zionis Israel di Palestina dan penderitaan di Gaza berbalut dimensi keagamaan. Tak perlu heran kalau melihat para aktivis ataupun relawan dari negara-negara Islam, maupun yang melakukan aktivismenya berdasarkan Islam, meneriakkan yel-yel ke-Islamannya sebagai pemicu dopamin perjuangan dalam membela Palestina dan rakyat di Gaza.

“Birruh… Biddam… Nafdika ya al-Aqsha!” ribuan kali berkumandang diteriakkan delegasi dari negara-negara Islam, termasuk partisipan-partisipan Turki, Indonesia, Malaysia, dan Pakistan. “Jiwaku… Darahku… Kukorbankan untukmu ya al-Aqsa”.

Selama pelatihan dan persiapan pelayaran Global Sumud Flotilla di Tunisia, yel-yel tersebut kencang diserukan.

Dalam setiap sesi pelatihan, gema-gema takbir, ‘Allahu Akbar’ pun sudah biasa jadi ungkapan penutup acara. Dua jurnalis Republika, Bambang Noroyono dan Thoudy Badai yang mengiringi partisipasi Indonesia Global Peace Convoy (IGPC) menyaksikan langsung semangat membara di Tunisia tersebut.

Ternyata, dalam konteks pelayaran Armada Sumud, semangat juang yang disurakan ini jadi persoalan. Oleh dewan pengarah dari Eropa, nyanyian dan ungkapan-ungkapan tersebut dinilai membahayakan. Yang mulanya adalah penyemangat, berpotensi mengancam nyawa.

Yel-yel dan ungkapan tersebut juga dinilai sebagai penyaluran semangat yang berlebihan. Bisa menjadi pemicu para partisipan yang meyakininya untuk mengambil tindakan atau reaksi yang tak diharapkan. Ini bisa fatal saat kapal-kapal jadi target penyergapan tentara Zionis.

Ungkapan-ungkapan dan yel-yel ke-Islaman tersebut bisa dianggap tentara Israel sebagai ancang-ancang mengambil sikap perlawanan.

Jika pun partisipan yang satu dapat menahan diri, teriakan oleh partisipan lain bakal membahayakan banyak orang  jika kapal kemanusian mengalami penyerangan.

Koordinator IGPC Muhammad Husein mengingatkan ke seluruh delegasinya untuk menahan-nahan diri mengikuti ritme penyampaian yel-yel semangat dari partisipan negara-negara Islam lainnya itu.

“Saya mengingatkan pesan penting dari steering committee, bahwa misi ini adalah non-violence movement, gerakan tanpa kekerasan,” kata dia.

Husein mengaku sempat kecolongan dalam mengontrol para relawan, dan aktivis Islam yang dibawanya agar tak terlalu reaktif dalam sambut-menyambut yel-yel ke-Islaman tersebut.

“Kemarin kita kecolongan akan hal itu. Kemarin ketika kita yel-yel, ‘Biruh Bidam Nafdika ya al-Aqsha’, itu tidak boleh di sini. Hati-hati!” ujar dia. Husein tak masuk dalam jajaran anggota Steering Committee Global Sumud Flotilla.

Karena IGPC hanyalah payung dari banyaknya organisasi-organisasi nirlaba di Indonesia yang sangat peduli soal Palestina. Dan IGPC hanyalah ‘anakan’ dari Sumud Nusantara yang berbasis di Malaysia.

Indonesia hanya anggota terbesar dalam Sumud Nusantara selain Malaysia, Pakistan, Maladewa, Bangladesh, juga Thailand, pun Filipina.

Global Nusantara, merupakan perwakilan dari Global Sumud Flotilla untuk kawasan Asia Tenggara dan Selatan. Dan Direktur Sumud Nusantara adalah Muhammad Nadir al-Nuri asal Malaysia, kawan Husein yang keduanya pernah sama-sama tinggal di Gaza.

Nadir adalah anggota dari Steering Committee Global Sumud Flotilla yang kerap tampil di arena termuka selama pelatihan dan training di Tunisia.

Kata Husein, melalui Nadir-lah IGPC mendapatkan jatah kuota relawan, dan aktivis sebanyak 30 orang untuk turut berlayar bersama armada Global Sumud Flotilla untuk menembus Gaza.

Jumlah tersebut, pun dikatakan sepadan dengan sumbangsih IGPC yang berhasil mengumpulkan bantuan untuk dapat membeli lima kapal untuk kebutuhan pelayaran menembus Gaza.

Husein mengatakan, keputusan tentang pelayaran ada di level steering committee. Termasuk yang berhak membuat aturan dan prinsip untuk keberhasilan misi kemanusian tersebut. Dan Steering Committee Global Sumud Flotilla, kata Husein menegaskan mengambil prinsip dalam msi pelayaran menembus Gaza adalah inklusif untuk kemanusian dan tanpa kekerasan.

Prinsip tersebut kata Husein yang wajib dipatuhi oleh seluruh partisipan pelayaran. Termasuk para partisipan dari Indonesia. Sebab itu, kata Husein penilaian penyelenggara agar seluruh partisipan menyimpan sementara motivasi keagamaan dalam misi pelayaran, sekaligus dengan tak menonjolkan semangat-semangat ‘angin surga’.

“Dalam kondisi seperti berkumpul seperti sekarang ini, psikologis massa kita jangan diperlihatkan kepada mereka. Satu orang teriak, yang lain ikut teriak. Hati-hati. Dan tentang itu sudah ditandai oleh teman-teman dari steering committee, jangan sampai ada narasi-narasi yang keluar dari jalur non violence movement ini..”

“Ini untuk kebaikan kita bersama semua. jadi kita harus lembut selembut-lembutnya,” ujar Husein. Dan sejak penjelasan dari Husein tersebut, selama pelatihan dan training Global Sumud Flotilla, para relawan, dan aktivis dari Indonesia tak lagi terbuka, dan ikut-ikutan dalam sahut-menyahut yel-yel untuk kemuliaan, dan keagungan semangat membela Gaza-Palestina itu.

JANGAN MELAWAN

Jangan pernah meyakini misi Global Sumud Flotilla menembus blokade Gaza sebagai aksi perlawanan fisik untuk penghentian penjajahan Zionis Israel di Tanah Palestina. Begitu selalu yang ditekankan para koordinator Armada Sumud.

Global Sumud Flotilla tak lain merupakan respons dari kalangan sipil tak bersenjata yang datang dari berbagai penjuru dunia, dan muncul lantaran melihat kegagalan peran otoritas-otoritas internasional, lalu merasa muak menengok keengganan negara-negara beradab untuk menghentikan kebiadaban Zionis Israel di Tanah Palestina. Koalisi orang-orang biasa dari 45 negara itu berkumpul di Tunisia sejak 1 September lalu.

Mereka adalah para relawan kemanusian, dokter, dan perawat, seniman, agamawan, dan pekerja hukum, serta wartawan. Dari mereka lainnya para pelaut mandiri dan dari kalangan pekerja perkapalan. Mereka berkumpul melalui panggilan misi dan prinsip yang sama dalam Global Sumud Flotilla.

Yaitu berlayar mengarungi Laut Mediterania membuka koridor bantuan kemanusian untuk mengakhiri penderitaan orang-orang di Jalur Gaza yang sudah 24 bulan jadi korban pengepungan, dan genosida tentara Zionis Israel. Misi kemanusian tersebut dibalut dalam prinsip yang sama: tanpa kekerasan.

Selama di Tunisia mengikuti kampanye tersebut, tak satupun ada materi kekerasan atau bela diri  diajarkan. Para penyintas pelayaran yang pernah melakukan aksi-aksi serupa sebelumnya menjadi pemandu bagi seluruh partisipan selama training dan pelatihan. Semuanya menegaskan, bahwa misi pelayaran Global Sumud Flotilla harus tanpa aksi kekerasan.

Paling lucu kiranya ketika Jacob Berger penyintas Kapal Handala menyampaikan praktik tanpa kekerasan yang pernah ia lakukan. Jacob Berger seorang aktor dan komedian asal Amerika Serikat (AS). Jacob seorang Yahudi. Tetapi ia anti-Zionis Israel.

Jacob melalui saluran media sosial (medsos) miliknya sering mengkampanyekan penghentian pembantaian manusia dan genosida yang dilakukan Zionis Israel di Gaza. Ia kerap tampil dalam aksi-aksi demonstrasi di New York, yang mengkampanyekan kemerdekaan Palestina.

Aktivismenya itu teruji ketika Juli 2025 lalu, ia turut serta dalam pelayaran kemanusian dengan Kapal Handala. Misi pelayaran itu untuk memberikan bantuan logistik makanan dan obatan-obatan kepada orang-orang di Gaza.

Tetapi misi pelayaran kemanusian itu gagal. Shayetet 13, skuat khusus angkatan laut Zionis Israel menyerang dan membajak Kapal Handala. Membawa kapal kemanusian itu ke Pelabuhan Ashdod yang berada di tanah pendudukan. Lalu memenjarakan 21 relawan dan aktivis yang berada di dalam Kapal Handala.

Namun kemudian tekanan internasional terhadap Zionis Israel membuat para penyintas Kapal Handala itu dibebaskan. “Apa yang akan anda lakukan ketika Israel menyerang kapal-kapal anda?,” kata Jacob kepada para partisipan Global Sumud Flotilla yang mengikuti training dan pelatihan di General Union of Tunisian Workers (GUTW), di Kota Tunis, Rabu, 3 September 2025.

“Apakah anda akan lari? Anda sedang berada di lautan. Apakah anda akan menjatuhkan (menceburkan) diri anda ke lautan? Mereka akan membiarkan anda terbunuh kedinginan. Apakah juga anda harus melawan? Itu adalah hal yang konyol,” kata dia.

Jacob lalu menegaskan, satu-satunya yang harus dilakukan adalah dengan sikap diam tanpa perlu melawan penyergapan Zionis Israel itu, apalagi dengan kekerasan. “Membiarkan diri anda dalam sikap yang tidak wajar, akan dianggap sebagai pengancaman. Dan itu akan membuat mereka (Zionis Israel) merasa berhak menghabisi (membunuh) anda,” ujar dia.

Karena itu Jacob mengatakan, agar seluruh partisipan Global Sumud Flotilla yang akan berlayar ke Gaza memahami apa-apa yang sudah ditegaskan. “Bahwa misi ini, adalah gerakan tanpa kekerasan,” ujar dia.

Bersama-sama Jacob, penyintas Kapal Handala yang turut datang ke Tunisia menyemangati Global Sumud Flotilla adalah Chloe Fiona Ludden.

Perempuan 30-an tahun warga negara Inggris-Prancis itu adalah mantan staf khusus Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB). Tetapi ia memilih berhenti dan bergabung dalam aktivisme Koalisi Freedom Flotilla. Republika bersama partisipan Global Sumud Flotilla lainnya sempat berbincang-bincang sebentar bersamanya saat rehat training dan pelatihan.

Ludden merasa senang partisipan dan armada Global Sumud Flotilla lebih besar dari misi serupa yang pernah dilakoninya saat lalu. Tetapi dia pun mengingatkan tentang keselamatan para pelayar menjadi yang paling utama jika terjadi penyergapan seperti misi-misi sebelumnya.

Dia menegaskan agar semua partisipan dapat memahami reaksi apapun yang berujung pada keselamatan diri sendiri, ataupun rekan-rekan lainnya selama di kapal.

Hal tersebut kata dia jika terjadi penyerangan saat pelayaran. “Apa yang anda lakukan, harus memikirkan rekan-rekan anda. Semuanya akan ada risikonya bagi diri anda sendiri dan juga orang lain yang bersama-sama dengan anda saat di kapal nanti,” ujar dia.

“Dan juga apa yang anda katakan saat terjadi sesuatu (penyerangan) juga bisa membuat mereka (tentara penyergap Zionis Israel) merasa berhak melakukan sesuatu terhadap diri anda,” ujar Ludden.

Situasi-situasi tersebut, kata dia, juga pernah dialami para relawan dan aktivis saat misi pelayaran kemanusian Mavi Marmara pada 2010 silam. Dalam misi Mavi Marmara tentara Zionis Israel menyerang pelayaran kemanusian yang berujung syahidnya sembilan aktivis dan relawan.

Di dalam kelas training dan pelatihan, para pemandu dari Steering Committee Global Sumud Flotilla, dan juga penyelenggara lokal dari Sumud Maghribi selalu mengingatkan tentang pelayaran ke Gaza tak cukup dilakukan dengan hanya membawa niat dan hati nurani, pun nyali.

Tetapi juga harus dengan membawa sikap dan mental yang tak memikirkan untuk melakukan perlawanan dengan kekerasan jika terjadi penyerangan oleh Zionis Israel.

“Misi ini adalah gerakan tanpa kekerasan. Apa yang harus anda ketahui tentang gerakan tanpa kekerasan itu adalah dengan tidak melakukan perlawanan fisik apapun, atas apa yang akan terjadi pada diri anda yang disebabkan tindakan dari pihak-pihak yang anda lawan,” begitu kata seorang pemandu dari steering committee saat training dan pelatihan.

Dalam satu materi panduan melalui daring yang disampaikan oleh salah-satu saksi hidup penyintas Mavi Marmara, para partisipan Global Sumud Flotilla diminta untuk tak membawa benda-benda yang bisa dianggap sebagai alat untuk perlawanan. Dia menebalkan himbauan tersebut bagi kalangan pewarta yang turut serta dalam misi pelayaran.

Beberapa benda yang dia contohkan, termasuk kamera DSLR yang memiliki properti lensa panjang untuk menangkap momen penyerangan. Karena aktivitas pemotretan menggunakan lensa panjang yang biasanya dilakukan pewarta saat penyerangan terjadi bisa dianggap tentara Zionis Israel seakan-akan sebagai gerak tubuh yang memegang senjata.

Dan gerak tubuh itu membuat tentara Zionis Israel dapat membela diri seakan-akan dirinya yang akan diserang dengan senjata api oleh si pewarta di atas kapal. Begitu juga dengan halnya apabila ada peserta pelayaran yang membawa tripod, ataupun monopod. Bahkan senter konvensional yang penggunaannya dengan cara digenggam, pun dianggap sebagai benda yang berbahaya.

Karena Zionis Israel si penyerang menganggap benda penerangan itu mirip dengan senjata api. Lalu tentara zionis penyerang itu yang menjadi merasa memiliki hak untuk mengambil tembakan.

Steering Committee, pun mengingatkan para partisipan untuk selalu mempelajari sikap, maupun gerak anggota badan, pun perkataan-perkataan saat terjadi penyergapan.

Pada sebuah simulasi di atas kapal yang diserang, Steering Committee mengajarkan bentuk sikap badan tanpa perlawanan saat menghadapi penyergapan bukan dengan cara mengangkat kedua tangan ke arah atas. Melainkan harus menjulurkan kedua tangan ke arah depan dengan telapak terbuka.

Dan ditegaskan jangan pernah mencoba untuk memasukkan tangan ke kantong, ataupun tas pinggang karena hanya akan dianggap akan mengambil sesuatu yang dinilai mengancam. Pun perkataan menjadi penting untuk keselamatan. (ROL)

Tinggalkan Balasan

Baca Juga

Indonesia Kutuk Langkah Zionis Israel Tutup Masjid Al-Aqsa di Bulan Ramadhan

12 Maret 2026 - 17:13 WIT

Diroket  Hizbullah, Salah Satu Anak Menteri Kabinet Netanyahu Anti-Islam Jadi Korban

7 Maret 2026 - 03:16 WIT

AS dan Israel Gunakan 3.000 Amunisi Dalam 36 jam Pertama Serangan Iran

7 Maret 2026 - 00:01 WIT

Kebohongan Presiden Trump Serang Iran Terbongkar

6 Maret 2026 - 15:43 WIT

Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim Telepon Presiden Turki Erdogan 

6 Maret 2026 - 14:57 WIT

Trending di Internasional