Oleh: Dr. Matheos Talakua, S.Pi, M.Sc.
KABARTIMURNES.COM, – Indonesia akan memasuki usia ke 80 tahun pada 17 Agustus 2025, suatu usia yang panjang yang akan memasuki usia 1 abad dari sebuah negara kepulauan yang sangat besar dengan jumlah pulau besar dan kecil sebanyak 17.380 (BIG, 2023; detik.com 2025) dengan total penduduk sebanyak 282.477.584 jiwa pada tahun 2024 (Ditjen Dukcapil Kemendagri, 2024).
Jumlah penduduk yang sangat besar ini semestinya menjadi sumber daya manusia yang potensial untuk mengubah Indonesia dari Negara berkembang menjadi negara maju, namun kenyataannya tidaklah demikian adanya. Indonesia saat ini sementara dipacu untuk menuju negara maju dan negara berpenghasilan menengah dengan slogan ‘Indonesia Maju’ dan ‘Indonesia Emas’ oleh pemerintah di era Presiden Joko Widodo dan Presiden Prabowo Subianto.
Indonesia Maju dan Indonesia Emas di tahun 2045 sebagai sebuah perspektif nasional disambut baik oleh seluruh elemen bangsa dan masyarakat dengan berbagai persiapan baik secara fisik maupun nonfisik.
Adanya bonus demografi Indonesia yang puncaknya diperkirakan terjadi pada tahun 2030-2035, mestinya menjadi tonggak kebangkitan sumber daya manusia Indonesia untuk membawa transformasi menuju Indonesia Maju.
Bonus demografi Indonesia akan ditandai dengan proporsi usia produktif 15-64 tahun lebih besar dibandingkan dengan usia non-produktif (BPS, 2023). Artinya kelompok usia produktif yang mampu berkarya membangun masyarakat, bangsa, dan negara bukan secara kuantitas saja namun juga secara kualitas.
Potensi sumber daya manusia yang besar, didukung oleh luas wilayah yang besar, dan sumber daya alam yang melimpah tidak menjadikan Indonesia sebagai sebuah negara yang maju baik di kawasan Asia Tenggara maupun di Asia.
Bank Dunia pada April 2025 mengeluarkan laporan orang miskin di Indonesia pada tahun 2024 sebesar 194,6 juta jiwa yang masih hidup di bawah standar kemiskinan. Meskipun telah diklarifikasi oleh pemerintah melalui BPS RI terkait adanya perbedaan dalam standar garis kemiskinan oleh pemerintah dan bank dunia.
Namun demikian angka kemiskinan di Indonesia masih tetap tinggi sebesar 8,57 persen atau setara 24,06 penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan (BPS, 2024). Angka yang berbeda ini tidak untuk diperdebatkan karena setiap pemerintah dari setiap negara memiliki standar dan kebijakan yang berbeda.
Namun angka-angka kemiskinan ini merupakan potret kehidupan masyarakat Indonesia dan potret dari program dan kebijakan pembangunan oleh pemerintah yang ada selama ini. Kemiskinan yang terjadi membutuhkan terobosan baru dari pemerintah untuk menguranginya bukan ‘memberikan ikan namun harus memberikan alat untuk menangkap ikan.
Kemiskinan menjadi beban sosial ekonomi dan dapat mengganggu stabilitas keamanan bangsa dan negara bila tidak ada tindakan komprehensif dari pemerintah untuk menyelesaikannya.
Pada Mei 2025, tercatat kasus pemutusan hubungan kerja (PHK) sejak tahun 2024 sampai Mei 2025 sebesar 73.992, disampaikan oleh Ketua Umum Apindo dalam acara media briefing Apindo Indonesia quarterly update.
Tentunya angka ini akan berkontribusi terhadap naiknya angka kemiskinan dan pengangguran. Pemerintah harus mencatat bahwa bila tidak segera dibenahi maka apa yang menjadi impian Indonesia Maju dan Indonesia Emas hanya akan dinikmati oleh sebagian kalangan masyarakat, bahkan bonus demografi hanya sebagai sebuah tambahan gratis yang tidak berdampak kemajuan.
LANSKAP PENDIDIKAN INDONESIA
Dunia saat ini telah memasuki revolusi industri generasi ke 4 bahkan sementara bergerak menuju generasi ke 5 dan ke 6. Revolusi industri generasi ke 4 atau yang dikenal dengan generasi 4.0 ditandai dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi berbasis digital untuk mencapai efisiensi yang tinggi dan kualitas produk industri yang sangat baik.
Penguasaan teknologi menjadi kunci penentu daya saing di era industri ini. Terdapat 5 teknologi utama pada sistem industri era 4.0 ini, yaitu Internet of Things (IoT), Artificial Intelligence (AI), Human-Machine Interface, Robotic dan Sensor, dan Teknologi Printing 3 Dimensi (3D).
Semua Negara di seluruh belahan bumi tanpa terkecuali telah menggembangkan teknologi digital dan AI. Teknologi ini akan mendominasi dan menggeserkan posisi pekerjaan konvensional menjadi pekerjaan berbasis teknologi digital dan AI.
Pertanyaan besar, bagaimana Indonesia mempersiapkan kondisi dalam negeri untuk beradaptasi dengan perkembangan global ini khususnya di sektor pendidikan nasional dengan output yang memiliki kapasitas, kualitas daya saing serta kreativitas dan inovasi untuk berkompetisi di kawasan dan global.
Atau pertanyaan lain bagaimana pemerintah mempersiapkan manusia Indonesia untuk menyongsong dan mencapai target Indonesia Emas dan Indonesia Maju pada tahun 2045 dengan adanya bonus demografi 2030 yang akan datang yang memiliki daya saing global, yang mampu mengembangkan teknologi dan industri dalam negeri yang mandiri.
DATA PENGANGGURAN INDONESIA
Mengaca dari kondisi riil saat ini, dapat membuat kita yang peduli akan masa depan bangsa dan negara menjadi miris dan pesimis. Miris dan pesimis terhadap potret dunia pendidikan tinggi tanah air bila membaca dan menelisik angka-angka statistik dunia pendidikan tinggi yang ada pada saat ini.
Harus diakui ada berbagai kemajuan dan keberhasilan namun di tengah-tengah euforia kemajuan dan keberhasilan, kita tidak dapat memungkiri adanya berbagai pekerjaan rumah besar yang harus ditangani dan diselesaikan secara sistimatis dan terukur oleh semua stakeholder pendidikan tinggi.
Data menunjukkan, terdapat lebih kurang 4600 institusi perguruan tinggi negeri dan swasta yang tersebar di seluruh tanah air dengan berbagai kurikulum dan tingkatan kualitasnya masing-masing. Melimpahnya institusi pendidikan tinggi ini yang setiap tahunnya menghasilkan jutaan lulusan perguruan tinggi baik itu program sarjana dan sarjana terapan maupun program pascasarjana.
Di sisi lainnya, daya serap lulusan ini sangat kecil sekali baik di sektor pemerintahan maupun di sektor swasta. Pada akhirnya yang tidak terserap akan menambah angkatan kerja yang menganggur sehingga boleh dikatakan perguruan tinggi sebagai ‘pabrik’ yang menghasilkan pengangguran, berkontribusi terhadap naiknya angka statistik pengangguran di tanah air.
Tingkat pengangguran terbuka (TPT) jenjang sarjana lebih tinggi dibandingkan dengan jenjang pendidikan lainnya. Data BPS tahun 2023, menunjukkan TPT diploma I dan II sebesar 7,21 persen, diploma III sebesar 5,86 persen persen, SMA/SMK sebesar 5,61persen dan sisanya adalah sarjana (S1).
BPS tahun 2025 melaporkan jumlah pengangguran mencapai 7,28 juta orang dan dari angka ini terdapat 1,01 juta orang sarjana (S1) tanpa memiliki pekerjaan alias menganggur (BPS, 2025).
AKAR MASALAH: KESENJANGAN KETRAMPILAN
Dunia kampus dan dunia kerja sangat berbeda antara langit dan bumi. Sistem kampus perlu berinovasi secara kurikulum dan mendekatkan diri dengan dunia kerja yang bersifat praktis dan aplikatif teknologi dan industri sehingga tidak bersifat teoritis belaka atau simbolik akademik.
Bahwa terdapat gap yang besar sekali antara output perguruan tinggi dan kebutuhan industri, terjadi kondisi mismatch yang melahirkan angka-angka pengangguran. Menurut Mc Kinsey (2020), terdapat kesenjangan keterampilan antara pendidikan tinggi dan kebutuhan dunia kerja.
Jika dilakukan identifikasi permasalahan dasar dari perguruan tinggi tanah air untuk kondisi saat ini adalah lulusan perguruan tinggi yang kurang diperlengkapi dengan hard skill digital atau kemampuan khusus yang menjadi kebutuhan dunia kerja dan dunia industri, kurangnya soft skills berkomunikasi dengan penguasaan berbahasa Indonesia dan bahasa asing, dan kemampuan memecahkan persoalan (problem solving).
Persoalan dunia pendidikan tinggi di hulu sebenarnya adalah sistem pendidikan dari pendidikan dasar dan menengah yang tidak berkesinambungan dengan sistem pendidikan tinggi, ekosistem pendidikan nasonal tidak diciptakan secara intergratif dan berkelanjutan antara dunia pendidikan dan dunia industri.
Ada sejumlah pemikiran sejak orde reformasi yang tersimpan rapih dalam memori publik yaitu ‘ganti rezim maka ganti kebijakan, ganti menteri maka ganti kurikulum’. Padahal ekosistem pendidikan itu harus berkelanjutan, bukan sebatas regulasi saja namun harus upgrade program dan kebijakan yang inovatif, adaptif, solutif, kolaboratif serta berkesinambungan dari periode ke periode berikutnya.
Pendidikan dasar, menengah, dan tinggi harus sinergis, selaras, dan bersinambungan dengan melihat dan memandang jauh ke depan perkembangan global dan kawasan secara geografis, geoekonomik, dan geopolitik bahkan geopertahanan.
TANTANGAN DUNIA PENDIDIKAN INDONESIA
Tantangan dunia pendidikan tinggi tanah air semakin besar dan kompleks di masa kini dan masa datang dalam menghadapi kemajuan teknologi digital dan AI. Adaptasi dan inovasi menjadi kebutuhan saat ini dengan mengubah dan menyesuaikan sistem pendidikan dan kurikulumnya.
Wajah dan pola dunia kerja serta ekonomi dan industri sudah berubah secara drastis. Terjadinya otomatisasi dan robotik dibidang ekonomi dan industri dengan sistem digital yang tumbuh 8X lebih cepat dari sektor ekonomi konvensional.
Revolusi industri saat ini membuat dunia pendidikan Indonesia harus dapat mempersiapkan lulusan yang memiliki keterampilan baru yaitu keterampilan digital dan penguasaan teknologi berbasis AI. Kebutuhan dunia kerja saat ini harus disambut dengan mempersiapkan lulusan yang dapat diserap sehingga tidak terjadi akumulasi pengangguran dari waktu ke waktu.
Perubahan harus dimulai dari adanya keberpihakan pemerintah secara serius dan sungguh-sungguh untuk mencerdaskan masyarakat dan bangsa dengan mengeliminasi semua kepentingan politik dan kelompok.
Kepentingan pendidikan dan pengajaran masyarakat dan bangsa diatas segalanya karena pendidikan dan pengajaran yang baik menjadi jembatan utama menuju kemajuan bangsa dan Negara Indonesia.
DAMPAK PENGANGGURAN
Angka pengangguran yang relatif tinggi, akan berdampak negatif bagi kemajuan suatu bangsa dan negara oleh karena dapat menimbulkan kerugian produktivitas nasional yang tentunya dapat dihitung secara ekonomi dan sosial.
Indonesia yang akan mencapai bonus demografi justru angkatan kerja produktifnya tidak akan maksimal karena daya saing yang rendah dan kurangnya inovasi teknologi dan industri dalam negeri.
Adanya bonus demografi semestinya harus menjadi pengungkit kemajuan sosial ekonomi dan industri Indonesia. Pengangguran juga berdampak psikologis yang menimbulkan rasa frustasi dan ketidakpastian bagi seorang lulusan perguruan tinggi selain berdampak beban ekonomi dan sosial bagi keluarga dan masyarakat.
Solusi Mengurangi Angka Pengangguran Nasional
Angka pengangguran lulusan perguruan tinggi harus dapat dikurangi melalui kolaborasi dalam sistem pendidikan. Kurikulum pendidikan tinggi saatnya dibenahi dan ditingkatkan dengan berbasis pada kompetensi pasar industri atau berorientasi pada dunia kerja.
Para praktisi industri sangat penting dilibatkan secara aktif untuk menyusun kurikulum yang bersifat praktis namun tetap memelihara nilai akademik. Program studi yang ada didesain untuk memanfaatkan teknologi yang berkembang saat ini dengan melakukan terobosan inovasi teknologi pengolahan sumber daya alam menuju industri dasar dan menengah.
Mahasiswa sebagai calon sarjana diwajibkan untuk mengikuti pelatihan magang industri di dalam dan luar negeri.
Program merdeka belajar kampus merdeka (MBKM) yang sangat baik pada beberapa tahun pelaksanaanya, secara substansial bertujuan untuk mendekatkan dunia kampus dan dunia kerja, mendekatkan calon sarjana dengan dunia teknologi dan industri di berbagai bidang guna mempersiapkan lulusan sarjana memasuki dunia kerja dan dapat menciptakan lapangan kerja mandiri.
Masing-masing daerah di Indonesia dapat mengembangkan minimal satu industri lokal untuk pengolahan sumber daya alam yang sangat potensial di daerahnya, dan ini dapat menjadi prioritas road maps pemerintah pusat dan pemerintah daerah.
Industri pengolahan dari hulu sampai hilir dari industri lokal yang dikembangkan disetiap daerah tidak harus sama karena setiap daerah memiliki ketersediaan sumber daya alam yang berbeda.
Semestinya pemerintah pusat dan daerah sedapat mungkin mengembangkan industri lokal yang dapat diperkuat menuju industri nasional yang mandiri. Industri lokal yang mandiri sebagai upaya penyediaan lapangan kerja bagi para lulusan sarjana dan nonsarjana di daerah.
Dunia kampus dan pemerintah mungkin perlu untuk menimba ilmu di negeri China, ‘tuntutlah ilmu ke negeri China’. China sangat maju dalam ekonomi dan industri oleh karena ditopang oleh sistem pendidikan yang berkembang dengan sangat baik.
Saatnya pemerintah melakukan investasi yang besar untuk masa depan bersama khususnya dibidang pendidikan. Transformasi pendidikan sebagai kunci mengatasi pengangguran. Sinergitas dan kolaborasi pemerintah, perguruan tinggi, dan industri harus diciptakan sesegera mungkin dalam mengatasi kondisi darurat pengangguran di kalangan sarjana yang kian bertambah pada setiap tahun.
Semoga dengan terjadinya perubahan mendasar dunia pendidikan tinggi dalam negeri dapat menghasilkan talenta-talenta yang relevan untuk Indonesia Maju. Dirgahayu Republik Indonesia Ke 80 Tahun 17 Agustus 2025. (****)
Penulis Adalah: Penulis: Dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Iqra Buru.


























