KABARTIMURNEWS.COM, JAKARTA – Pergi ke Baitullah merupakan cita-cita umat Muslim. Mereka memiliki kisah tersendiri tentang perjalanan spritualnya.
Tangis Nurdiana Alam pecah saat menjejakkan kaki di tanah suci. Perempuan asal Pinrang, Sulawesi Selatan, itu tak kuasa membendung haru. Bukan karena lelahnya perjalanan, melainkan rasa syukur yang selama ini ia simpan dalam diam. Langit Madinah seolah ikut menyambut kehadirannya.
“Kurang lebih lima belas tahun saya menabung untuk bisa ke sini,” ucap Nurdiana, suaranya bergetar saat diwawancarai petugas Media Center Haji 2025 di Makkah, dikutip Senin (12/5/2025).
Tergabung dalam Kloter 2 Embarkasi Makassar, Nurdiana mendarat di Madinah dan langsung berziarah ke Masjid Nabawi. Di sana, ia mendapat kesempatan luar biasa: masuk ke Raudah—area yang disebut sebagai taman surga.
“Alhamdulillah, sangat terharu. Tidak bisa saya ungkapkan dengan kata-kata. Begitu masuk ke Raudhah, saya langsung berdoa di dekat mimbar, di barisan paling depan,” tuturnya.
Setelah beribadah di Madinah, Nurdiana melanjutkan perjalanan ke Makkah. Ia berencana melakukan sujud syukur di hadapan Ka’bah. “Saya tidak bisa berkata-kata, bersyukur sekali,” ucapnya sambil menitikkan air mata.
Nurdiana bukan pegawai negeri ataupun pengusaha. Ia hanya pedagang sandal plastik di kampungnya. Setiap receh dari hasil jualan ia sisihkan perlahan, hingga cukup untuk mewujudkan impian yang ia rajut selama belasan tahun.
Baginya, haji bukan sekadar ibadah. Ia adalah jawaban dari doa-doa panjang yang disertai kerja keras. Nurdiana percaya, jalan ke Baitullah bisa dimulai dari sudut pasar, selama ada tekad dan keyakinan yang kuat.
Kisah mengharukan lainnya datang dari Hasanuddin. Di usia 80 tahun, ia tak menyangka bisa menginjakkan kaki di tanah suci—tempat yang selama ini hanya hadir dalam doa-doanya. Hasanuddin adalah marbut Masjid Baitul Hikmah di kawasan BSD, Tangerang Selatan.
“Saya cuma bersih-bersih masjid,” ucapnya lirih, mata berkaca-kaca.
Istrinya meninggal 21 tahun lalu. Waktu berjalan, hingga takdir mempertemukannya dengan Sani, seorang janda beranak dua yang rutin mengikuti majelis taklim di masjid tempat Hasanuddin mengabdi. Cinta tumbuh dalam kesederhanaan. Mereka pun menikah.






















