Pria Ini Ditangkap, Jual 12 Anak Untuk Bisnis Prostitusi di KKT

EKM (31) seorang pria di Saumlaki, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku yang berprofesi sebagai mucikari diringkus polisi, Jumat (12/2/2023)

KABARTIMURNEWS.COM.AMBON - Satu diantara yang “dijual” adalah masih berstatus sebagai keponakan pelaku.

Polres Kabupaten Kep. Tanimbar (KKT), berhasil membongkar skandal bisnis prostitusi anak di bawah umur. Seorang pria berinisial EKM (31), ditangkap kepolisian setempat, pada Jumat, pekan, lalu.

EKM ditangkap sebagai pelaku kasus Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO). Dia duga telah menjual 12 anak perempuan yang masih di bawah umur. Penjualan itu, terkait dengan bisnis prostitusi.

“EKM ditangkap ketika sedang berada di sebuah kamar penginapan di Kota Saumlaki,” ungkap Kapolres Kepulauan Tanimbar AKBP Umar Wijaya, kepada wartawan di Saumlaki, Kamis, kemarin.

Dari penangkapan EKM, kata Kapolres, polisi menyita sejumlah bukti berupa alat kontrasepsi serta ponsel milik korban dan pelaku. “Tersangka ditangkap ketika sedang melakukan transaksi menjual korban ke pria hidung belang,” bebernya.

Menurut Kapolres, korban “dipaksa” layani pelanggan pria hidung belang dua orang per hari. Tarifnya Rp 400.000 hingga Rp 500.000. Dari transaksi itu, pelaku mendapatkan keuntungan Rp.100.000 dari setiap pelanggan.

”Ini kejahatan luar biasa! Tidak hanya eksploitasi ekonomi dan seksual, tapi juga prostitusi, dan perdagangan anak dibawah umur. Pelaku harus diberi hukuman berat,” tandas Kapolres.

Terpisah, Kasat Serse, AKP Handry Dwi Azhari menjelaskan, pelaku terlibat TPPO, karena alasan ekonomi. Dia  (pelaku), lantas  tergiur praktik prostitusi hingga terlibat TPPO karena menghasilkan uang cepat dan akhirnya bisa menjual korban.

“Salah satu korban yang jual masih ponakannya sendiri,”  ungkap Handry.

Handry mengaku, dari hasil pemeriksaan yang dilakukan pihaknya terungkap, tidak hanya ponakannya, tapi juga ada 12 korban lainnya yang telah dijual untuk layani pria hidung belang di Kota Saumlaki, bebernya.

Dikatakan, pengungkapan kasus TPPO ini berawal dari adanya laporan masyarakat terkait  aktivitas anak dibawah umur yang dijual  untuk bisnis prostitusi. “Dari laporan  itu, Penyidik PPA bersama Anggota Opsnal Polres Kepulauan Tanimbar melakukan penyelidikan.

Petugas kemudian langsung melakukan pengintaian memastikan aktivitas TPPO itu. Selanjutnya dilakukan pengerebekan  dan menangkap pelakunya.

Tersangka dijerat dengan Pasal 2 Ayat  (1), ayat (2) dan Pasal 17 Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang atau Pasal 88 Jo Pasal 76I Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor. 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak. Sehingga tersangka diancam hukuman 15 tahun penjara serta denda Rp 60 juta hingga Rp 300 juta. (KT)

Komentar

Loading...