KABARTIMURNEWS.COM, AMBON – DemiUmmatAkuBerjuang…!!! dengan tagline atau slogan perjuangan ini, satu lagi calon Gubernur Maluku bakal meramaikan kontestasi pemilihan Gubernur Maluku, Februari 2024 mendatang. Dia lah, Habib Alwi, yang menyatakan siap mencalonkan diri sebagai Gubernur Maluku.
Nama lengkapnya, Dr. K.H Habib Ali Alwi bin Thahir Al Husainy, M.Si, kelahiran 2 September 1967. Pria asal jazirah (Hitu) Kabupaten Maluku Tengah ini ternyata pendiri Pondok Pesantren Modern Al-Husainy, Serpong, Tangerang Selatan.
Politisi, da’i, dan ulama jebolan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta (1986–1991) dan Pondok Pesantren Tebuireng Jombang (1980–1986) ini sempat masuk bursa pemilihan Bupati-Wakil Bupati Tangerang tahun 2008.
Ketika itu Habib Ali dicalonkan oleh Partai Demokrat dan PKB sebagai kandidat Wakil Bupati bersama Usamah Hisyam selaku calon Bupati. Namun keduanya dikalahkan kandidat Bupati petahana Ismet Iskandar dan wakilnya Rano Karno.
Habib Ali sempat menjabat sebagai senator mewakili Provinsi Banten di kursi Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Republik Indonesia periode 2014-2019.
Ayahnya, Habib Alwi bin Husain bin Thahir, merupakan keturunan ke-4 seorang ulama besar di Hadramaut Yaman. Yaitu Al Qutub Al Habib Abdullah bin Husain bin Thahir, yang merupakan guru dari seorang ulama besar pengarang Kitab Maulid Simthudduror, Al Habib Ali bin Muhammad bin Husain Al Habsy.
Maulid Nabi “Simtudduror” adalah karya Al Habib Ali bin Muhammad Al Habsyi, yang biasa disebut masyarakat dengan sebutan maulid Al Habsyi, merujuk pada nama pengarangnya.
Kitab Sullam Taufik yang disyarahi oleh Syech Nawawi Tanara Banten ini lah yang jadi rujukan tiap pondok pesantren di Indonesia. Sekadar tahu saja, Kitab Sullam At-Taufiq adalah kitab karangan Syekh Abdullah Bin Husein Bin Thahir Bin Muhammad Bin Hasyim Ba’alawi yang selesai pada tahun 1241 H di Hadramaut, Negeri Yaman.
Darah kepengarangan yang diturunkan oleh kakek buyutnya ini lah, jadi isyarat, bagi Habib muda ini akan mengabdikan hidupnya pada dunia ilmu dan dakwah. Baik di Provinsi Banten maupun di berbagai daerah di Indonesia.
Awal cerita, di usia 3 tahun, sang Habib sudah hijrah ke Ibukota Jakarta untuk menuntut ilmu. Kehausannya akan ilmu diawali di Madrasah Diniyah Al Mansyuriah Jembatan Lima Kota, milik seorang ulama besar Betawi, yang biasa dipanggil “Guru Mansyur” kakek buyut dari da’i muda Yusuf Mansur.
Selepas dari Madrasah Diniyah Al Mansyuriah, sang habib melanjutkan sekolahnya selama 4 tahun di Madrasah Ibtidaiyah Al Ittihad Tanah Abang, dibawah Asuhan KH. Syukur Ya’kub seorag ulama besar Jakarta.
Tahun 1978, Habib muda ini berangkat ke Jawa Timur, dan nyantri di Pondok Pesantren Tebu Ireng Jombang, yang didirikan oleh Hadrotussyech Hasyim Ashari, kakek dari mantan Ketua Umum NU dan Presiden RI ke-4 yaitu, KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur).
Setelah 6 tahun nyantri di Tebu Ireng, Habi Ali melanjutkan kuliah di IAIN Syarif Hidayatullah jurusan Perbandingan Agama Fakultas Ushuluddin, sambil mendalami kitab-kitab kuning kepada Habib Muchsin Al-Athos Petamburan dan KH. Syafii Hadhami Ulama Besar Jakarta, itu di tahun 1985.
Walau sambil kuliah, semangat dakwahnya mulai timbul, hampir setiap hari dia mengisi berbagai kegiatan pengajian anak muda di Jabodetabek ketika itu. Bahkan pada tahun 1987, ia menjuarai lomba khotbah Jum’at se-DKI, dan tahun 1988 menjuarai lomba pidato se-Jabodetabek.
Di tahun 1989 menjadi juara umum lomba pidato tingkat Nasional di Jakarta, yang saat itu juara keduanya adalah ustadz Arifin Ilham, Pengasuh majelis Adzzikro. Disamping itu sang Habib aktif dalam organisasi kepemudaan dan kemahasiswaan, sebagai Pembina Remaja Masjid DKI dan Aktifis HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) Ciputat.
Debutnya dalam dunia dakwah-pun sudah mulai nampak, sehingga Habib muda ini sering diundang berceramah diberbagai majelis dan instansi instansi pemerintah di Jakarta. Bahkan sampai keluar daerah, antara lain; Cirebon, Tegal, Pekalongan, Pemalang, Banyuwangi, Banjarmasin, Kutai, Batam, Padang, Aceh, Maluku, NTT, Makassar, hingga Merauke PapuaTahun 1991.
Kiprahnya dalam dunia pendidikan dimulai, dengan mendirikan Pondok Pesantren Al-Husainy di Tanah Banten, tepatnya di kampung Perigi Lengkong Wetan Serpong Tangerang Provinsi Banten. Selama bertahun-tahun, Habib muda ini, mengisi waktunya setiap hari dengan mengasuh dan mendidik santri, serta berdakwah.
Tahun 1998, era reformasi, diawali oleh ajakan Gus Dur untuk masuk jadi Pengurus Besar Nahdlotul Ulama (PBNU), yang berujung lahirnya Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) sebagai sayap politik kaum Nahdliyin.
Maka Habib muda ini pun bergabung membesarkan PKB. Dan Ia dipilih menjadi Ketua Umum PKB Kabupaten Tangerang.Mulailah sang Habib bergerak mengajak bergabung kaum Nahdliyin dikalangan santri maupun para ulama se-Kabupaten Tangerang untuk membesarkan PKB.
Pada tahun 1999 Habib Ali Alwi bin Thohir Al Husainy jadi anggota DPRD Kabupaten Tangerang. Bahkan di tahun 2004, dia terpilih menjadi anggota DPRD Provinsi Banten dari Dapil Kabupaten Tangerang.
Dan di tahun 2009 sang Habib dipilih lagi menjadi anggota DPRD Provinsi Banten dari Dapil Kota Tangerang. Sementara di Pemilu 2014- 2019 dia terpilih ke Senayan sebagai Anggota DPD (Dewan Perwakilan Daerah), sebagai senator DPD RI mewakili rakyat Provinsi Banten dan di Pemilu 2024 ini Beliau kembali mencalonkan sebagai Anggota DPD RI untuk periode ke 3 .
Ditengah kesibukannya yang padat sebagai wakil rakyat, dia tetap Istiqomah menjalankan tugasnya sebagai Pengasuh Pesantren dan membina ummat. Selalu bersama ummat di dunia dakwah.
Tidak pernah sekalipun sang Habib menolak undangan ceramah dari siapapun. Sekalipun wilayah terisolir, pelosok Banten atau daerah lainnya di Indonesia.
Tentu saja ini menimbulkan simpati ummat terhadap Habib Ali Alwi yang tak pernah putus. (KTA)


























