KABARTIMURNEWS.COM. AMBON – Uang pemasangan listrik di Pasar Apung, Mardika, berasal pedagang. Bukan uang pribadi Bos Alham Valeo.
Pedagang di Pasar Apung, Mardika, akhir rame-rame menyebut Ketua APMA, Alham Valeo sebagai pembohong. Ini setelah, bos Alham mengklarifikasi soal berita listrik di Pasar Apung seperti dikutip salah satu media online, di daerah ini, Senin, kemarin.
Haji Pia, salah satu pedagang mengungkapkan, penjelasan Alham di media tentang dirinya rugi puluhan juta rupiah untuk soal listrik tidak sesuai fakta. Pasalnya, pedagang yang saat ini menempati Pasar Terapung, adalah mereka yang terdampak revitalisasi Gedung Putih.
Ketika direlokasi ke Pasar Terapung, kata dia, mestinya pedagang tidak boleh membayar biaya apa-apa. “Bahkan masuk kios kita tidak boleh bayar, karena kita ini terdampak revitalisasi. Faktanya kita bayar,”ujarnya.
Sedangkan menyangkut lampu lampu, Alham, sebagai pengembang Pasar Terapung harus juga menyediakan lampu. “Awal kita masuk lampu tidak ada. Kios yang dibuat saja masih amburadul. Jadi biarpun sudah bayar harga kios Rp3 juta, kita harus renovasi lagi sekitar Rp. 15 juta,”terangnya.
Selanjutnya, masalah yang dihadapi pedagang soal penerangan atau lampu. Pedagang akhirnya meminta ke Disperindag Ambon mencari solusi terkait listrik. Karena pedagang tidak mungkin jualan dengan kondisi gelap, paparnya.
“Dan Dinas sendiri bilang akan bicarakan masalah itu dengan pengembang dalam hal ini Alham Valeo. Lalu kita semua sama-sama ke PLN yang ada di kawasan Galala. Dan saat itu kita bilang ke dia, bahwa dia harus tanggulangi listrik karena dia kan pengembang,” paparnya.
Dari situ, lanjut dia, Alham Valeo sendiri mengaku siap tanggulangi listrik, asalkan dibantu pedagang mengenai anggarannya. “Waktu itu satu kios/lapak/los kita tanggung Rp 650 ribu,”jelasnya.
Dikatakan, bila Alham mengaku pedagang memohon-mohon untuk dirinya memasukan listrik di Pasar Terapung tidak benar, sebab fasilitas penerangan wajib diberikan kepada pedagang dari pengembang.
Selain itu, lanjutnya, biaya pemasangan yang dikatakan Alham sebesar Rp 200 juta tidak disanggupi pedagang menurutnya tak masuk akal. Pasalnya, jumlah uang yang dikumpulkan dari ratusan pedagang, melebihi angka Rp 200 juta.
Menurutnya, jumlah kios di Pasar Terapung sebanyak 402, sementara Los Kecil 160, dan Los Rombengan (RB) 78. Semua los dan kios di pasar terapung terisi penuh.
“Total sebanyak 640 pedagang berjualan didalam Pasar Terapung. Kita semua bayar Rp 650 ribu untuk biaya gardu dan biaya jaringan yang totalnya menurut Alham mencapai Rp 200 juta lebih,”terangnya.
Andaikan benar Alham Valeo membayar biaya gardu dan jaringan listrik di Pasar Apung Rp200 juta lebih, itu bukan dari uang pribadi Alham, tapi uang dari pedagang yang dikumpulkan.
“Ada 640 pedagang berjualan di Pasar Terapung, setiap pedagang membayar Rp650 ribu untuk biaya pasang listrik. Kalau 640 dikalikan Rp 650 ribu, jumlah yang disetor ke Alham Rp 416 juta,”jelasnya.
“Nah, kalau Alham bilang bayar biaya gardu dan jaringan Rp 200 juta lebih, berarti uang yang kita kumpulkan Rp 416 juta itu masih ada lebihnya. Terus yang jadi pertanyaan uang sisa dimana? Dan dia tidak rugi, tapi untung besar untuk pemasangan listrik itu,” beber pedagang.
Belum lagi, lanjutnya, ratusan pedagang itu harus membayar iuran per bulan untuk listrik Rp 50 ribu hingga mencapai Rp 300 ribu. “Setiap bulan kita bayar. Iurannya naik-naik terus dari Rp 50 ribu, Rp150 ribu, Rp 200 ribu bahkan Rp 300 ribu,”ujarnya.
“Rp 50 ribu dikalikan 640 pedagang, sebulan Alham menerima Rp 32 juta. Sedangkan Rp.100 ribu Rp 64 juta, kalau iuran Rp 150 ribu sebulan iuran listrik Rp 96 juta, kalau iurannya naik Rp 200 ribu sebulan Rp.128 juta, dan kalau pedagang harus bayar Rp 300 ribu listrik, per bulan yang diterima Rp.192 juta. Jadi kalau mau bilang rugi, dia rugi dari segi apa coba,”rincinya.
Kebijakan menaikan tarif iuran listrik di Pasar Apung, juga diprotes pedagang. Pasalnya, pembayaran tak sesuai pemakaian. “Masa kita yang punya satu mata lampu harus bayar sama dengan yang punya dua sampai tiga mata lampu, kan tidak rasional,”terangnya.
“Saya pernah telepon Alham pertanyakan kenapa iuran listrik naik semahal itu? Dan Alham menjawab itu kalau ada sisahnya bisa dimasukan ke uang kas APMA. Yang saya heran, ngapain kita harus isi uang kas APMA,”tegasnya.
“Jadi, yang Alham sampaikan bahwa dia harus bayar pakai uang pribadi selama 15 bulan hingga puluhan juta menutupi kekurangan iuran bulanan pedagang, itu pembohongan besar. Karena kita semua bayar rutin setiap bulan, tidak ada yang tunggak,” tambahnya.



























