Resmi Diadukan ke Krimum Polda Maluku Korban Ngaku Tertipu “Janji Manis” Lucky Wattimury

Korban bersama kuasa hukum telah mendatangi Direktorat Reserse dan Krimunal Umum (Krimum), Polda Maluku.

Korban kasus dugaan penipuan yang dilakukan Ketua DPRD Maluku, Lucky Wattimury, Kamis, siang, kemarin, diadukan ke Polda Maluku.
Adalah Husein Miangkabau. Bersama Ferchad Bachmid, kuasa hukumnya, resmi mengadukan politisi PDI Perjuangan Maluku, dalam kasus dugaan tindak pidana penipuan uang Rp 115 juta, milik korban.
Kepada wartawan, usai mengadukan, Lucky Wattimuri, di Mapolda Maluku, Husein mengaku, merasa “tertipu” dan dirugikan oleh janji manis Wattimury.
Ferchad kuasa hukum, Husein, membenarkan kasus dugaan penipuan yang dilakukan Lucky Wattimury, telah diadukan ke Polda Maluku.
“Kami, telah berkoordinasi bersama penyidik Krimum Polda atas kasus dugaan penipuan Ketua DPRD Maluku Lucky Wattimury sesuai pengaduan pelapor,”kata Ferchad.
Dikatakan, petugas telah menerima laporan pengaduan dan meresponnya dengan baik. “Jadi kami nyatakan bahwa laporan tersebut sudah resmi kami adukan. Bahkan, ada tanda terima dari pengaduan itu,” ungkapnya.
Hanya saja, lanjut Ferchad, Dirkrimum saat pengaduan yang dilaporkan pihaknya itu, sementara mendampingi Kapolda Maluku, dalam kunjungan Presiden Joko Widodo di Kabupaten Kepulauan Tanimbar (KKT).
“Untuk kelanjutan pengaduan menunggu disposisi Dirkrimum. Mungkin, Senin, pekan, depan kita sudah bisa dapat progres dari pengaduan itu,” tambah kuasa hukum, Husein Minangkabau ini.
Dia menjelaskan, setelah mendapat laporan pengaduan itu, nantinya Dirkrimum akan mendisposisikan ke penyidik, untuk dilakukan penyelidikan terkait dengan pengaduan korban.
“Petugas telah meminta nomor kontak korban sebagai pelapor dan menunggu penyelidikan. Korban nantinya dipanggil untuk dimintai keterangannya,” jelas Ferchad.
Menyoal pengaduan ke Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD), Farchad mengatakan, pihaknya akan mempelajari dulu. Apabila ada celah hukum terkait dengan pelanggaran kode etik, pengaduan ke MKD akan dilayangkan.
“Kita akan lihat celah pelanggaran hukum tentang kode etik. Kalau ada kita akan buat laporan dalam kapasitas Pak Lucky Wattimury sebagai Anggota DPRD Maluku. Intinya laporan akan kita layangkan,” tegasnya. Politisi PDIP itu dilaporkan atas dugaan penipuan, Kamis, 1 September 2022.

Selain itu, dalam laporan pengaduan tertulisnya yang diterima Redaksi Kabar Timur, Husein merinci detail kronologis pengambilan uang Rp 115 juta, berikut capture komunikasi via WhatsApp dan pesan singkat terkait penagihan dana tersebut.
Juga ada prin out komunikasi BM. BM merupakan perantara Lucky Wattimury dan Husein Minangkabau terkait, pemberitaan Harian Kabar Timur. Mereka (Huein dan Lucky) bertemu di Caffée Rizky Juli 2022.
Dalam kronologis itu, Husein mengaku, dugaan tindak pidana penipuan ini terjadi sekitar tahun 2014. Yang mana dirinya bersama Lucky Wattimury bertemu di Kantor DPRD Maluku. Pertemuan, tersebut, disaksikan almarhum Bakrie Hentihu.
Terlapor (Lucky) lanjut dia, langsung meminta uang Rp 50 juta dengan alasan uang itu akan dipakai melawan Edwin Huwae dalam perebutan kursi Ketua DPD PDI Perjuangan Maluku.
“Selang 20 menit kemudian terlapor kembali menelepon saya meminta tambahan uang sebesar Rp15 juta. Alasan untuk diberikan kepada DPC-DPC PDI Perjuangan di Maluku, dengan iming iming akan diberikan pekerjaan," urai Husein.
Selanjutnya, 10 hari kemudian terlapor menghubunginya lagi dan mengagendakan pertemuan di KFC Diponegoro, Kecamatan Sirimau. Dalam pertemuan itu, Lucky Wattimury kembali meminta tambahan uang s Rp 50 juta.
"Alasannya ingin memberikan kepada kenalan di DPP PDIP yang akan berangkat Umroh. Saya , dijanjikan dan mengimingi pekerjaan (proyek), yang sampai hari ini tidak pernah ditepati. Sudah tujuh tahun," terang Cheno, nama akrab Husein Minangkabau.
Setelah kejadian itu, sambung Husein, terlapor susah diajak bertemu. Bahkan dihubungi pun tak ada respon. Namun, setelah ada pemberitaan terkait kasus ini, ia dihubungi terlapor tanggal 9 Juli 2022. Mereka bertemu di Caffee Rizky membicarakan mengenai pemberian uang.
"Terlapor sempat menanyakan bukti apa dia ambil uang dari saya. Saya ceritakan kronologisnya, disitu baru terlapor mengakui kalau dia ambil uang. Pengakuan terlapor ini juga disaksikan BM," ucapnya.
Singkat cerita, terlapor kemudian menyuruhnya menemui La Sinta di Passo. La Sinta adalah salah satu pejabat di PUPR Maluku yang berkantor di Passo, agar diberi pekerjaan. Namun, faktanya pekerjaan yang dijanjikan itu tidak ada.
Lantaran itulah,Husein Minangkabau, meminta uangnya dikembalikan. "Terlapor melalui BM, meminta ketemu di ruangnya di Kantor DPRD. Saya dan istri datang 14 Juli 2022, tapi terlapor tidak ada. Bahkan Nomor Handphone baru yang diberikan pun tidak dapat dihubungi," jelasnya.
Karena tidak ada itikad baik dari terlapor, akhirya kasus ini dilaporkan ke Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Maluku. (MG1/KT)

Komentar

Loading...