KABARTIMURNEWS.COM,AMBON, – Ia mengancam akan membawa keluarganya menyeruduk sekretariat Lintas jika tidak bertemu penanggungjawab majalah.
Aksi kekerasan terhadap wartawan kembali terjadi. Kali ini, dua awak media dari Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Lintas Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ambon. Keduanya dihajar preman suruhan oknum dosen.
Dua pengurus pers mahasiswa yang jadi korban aksi preman suruhan tersebut masing-masing Muh Pebrianto, dan Nurdin Kaisupy. Keduanya dihajar di Gedung Kembar, Fakultas Usluhudin dan Dakwa, IAIN Ambon, Selasa (15/3).
Sejumlah preman diduga diutus Kejur Sosiologi Agama di Fakultas Ushuluddin dan Dakwah (Uswah) Yusup Laisouw. Insiden kekerasan tersebut yang menimpah dua awak redaksi LPM, dibenarkan, Pemimpin Redaksi LPM Yolanda Agne, kepada Kabar Timur, Selasa (15/3) .
“Iya benar. Pebrianto adalah layout majalah dan Nurdin, wartawan yang terlibat dalam proyek liputan khusus bertajuk “IAIN Ambon Rawan Pelecehan”, mereka berdua yang di jadi korban dihajar preman suruhan itu,,” ungkapnya.
Yolanda menjelaskan, berdasarkan informasi dari dua anggotanya bahwa, aksi pemukulan diawali dengan kedatangan Kejur Sosiologi Agama, Yusup Laisouw, di sekretariat LPM (Gedung Kembar) pukul 12.00 WIT siang, kemarin.
Kedatangan Yusup tujuannya bertemu penanggungjawab majalah dengan liputan khusus bertajuk “IAIN Ambon Rawan Pelecehan”, yang didalamnya terdapat artikel milik Yusuf yakni “Tutup Kasus Itu”. “Tujuan awal mau klarifikasi,”ujarnya.
“Dalam berita ini, terungkap Yusup dua kali meminta salah satu korban, Mirna (bukan nama sebenarnya) menghapus dan tidak menyebarkan obrolan bernada mesum, yang dikirim terduga pelaku pelecehan seksual, IL,”paparnya seperti isi artikel.
Dikatakan, Yusup mengaku pernyataannya di dalam berita berjudul “Tutup Kasus Itu”, yang memaksa Mirna menghapus bukti chat IL, tidak sesuai fakta. “Kejur juga mempermasalahkan fotonya dimuat di majalah. Selain itu, Pak Yusup menyebut konten LPM Lintas melanggar kode etik,”ungkap Pimred LPM Lintas ini.
Kondisi semakin memanas, ketika Yusup mendesak Pebrianto dan Nurdin memanggil penanggung jawab majalah. Ia mengancam akan membawa keluarganya menyeruduk sekretariat Lintas jika tidak bertemu penanggungjawab majalah.
“Lalu pak Yusup mengatakan, sekarang telepon dong (mereka) datang kemari. Kalau tidak, wallahi billah, beta suruh masyarakat datang. Beta kasih tahu ini, beta siap tanggung jawab,”terang
Yolanda mengutip keterangan dua wartawannya yang menjadi korban dalam insiden itu.
Setelah itu, lanjut Yolanda, Yusup langsung meninggalkan kantor Lintas. Tak lama, sekitar lima menit kemudian, datang tiga pria yang mengaku sebagai keluarga Kejur.
Ketiga pria yang diduga mahasiswa IAIN Ambon ini menuduh berita kekerasan seksual tidak sesuai fakta. “Majalah itu isinya paling banyak menuai kontroversi, tidak sesuai fakta. Berita bohong, semua ada dalam majalah itu,”terang Yolanda, mengutip pernyataan salah satu pria, sesuai keterangan dua korban.
Mereka mengambil majalah dan membuka artikel “Tutup Kasus Itu.” Kemudian seorang pria berkaus merah maron langsung membanting majalah di lantai. “Melihat tindakan brutal ini, anggota saya
Nurdin menegurnya, dan berkata itu artinya tidak menghargai katong (kita) punya karya,”papar Yolanda.
Namun lelaki itu menjawab: “Ini bukan tidak menghargai, tetapi ini mengenai nama baik keluarga,” serganya.
Mereka langsung berdiri dan melayangkan tinju ke dada Nurdin. Di waktu bersamaan, Pebrianto ditendang pria tersebut karena merekam peristiwa intimidasi di sekretariat Lintas.
Tak hanya memukul dan menendang, Yolanda mengatakan, tiga pria yang mengaku saudara Yusup itu memukul kaca jendela kantor Lintas hingga gugur dan berserakan di lantai.
“Mereka berusaha masuk kantor organisasi, untuk kembali memukul Pebrianto dan Nurdin, tapi beruntung datang sejumlah anggota Lintas melerai mereka,”jelasnya.
Dia mengutuk keras aksi kekerasan yang mengatasnamakan saudara Yusup ini. Menurut Yolanda, itu tindakan yang tidak patut dilakukan terhadap wartawan Lintas.
“Jika ingin klarifikasi silakan, kami membuka hak jawab. Majalah ini kami liput sesuai kode etik jurnalistik. Jika ada sanggahan, maka harus sesuai prosedur. Bukan main pukul,”tandas Yolanda.
Aksi brutal yang diduga dilakukan utusan Kejur itu, dinilai mencederai marwah IAIN Ambon ,yang terkenal dengan slogan “Cerdas dan Berbudi”.
Menanggapi kekerasan oleh dua anggota pers mahasiswa, Ketua Bidang Advokasi, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Ambon, Nurdin Tubaka dalam rilisnya kepada media ini mengecam aksi tersebut .
“AJI Ambon mengecam tindakan arogan orang suruhan Yusup Laisouw, yang melakukan pemukulan jurnalis kampus Muh Pebrianto dan M Nurdin Kaisupy,”tegasnya.
Menurutnya, tindakan atau perbuatan menghalangi kegiatan jurnalistik atau pers kampus, termasuk menentang hak, kebebasan berekspresi dan berpendapat dalam Undang-Undang 1945 pasal
28, Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang hak asasi manusia.
“Catatan AJI Ambon, kekerasan terhadap jurnalis di Maluku tiga tahun terakhir, baik fisik maupun verbal mayoritas dilakukan oleh oknum negara/pemerintah, atau orang suruhan pemerintahan dan lembaga hukum,”tutupnya.
Untuk diketahui, majalah Lintas menurunkan liputan khusus kekerasan seksual, yang mencatat 32 orang mengaku menjadi korban pelecehan seksual di Kampus Hijau IAIN Ambon. Korban terdiri dari 25 perempuan dan 7 laki-laki.
Sementara jumlah terduga pelaku perundungan seksual 14 orang. Di antaranya 8 dosen, 3 pegawai, 2 mahasiswa, dan 1 alumnus. Liputan pelecehan ini ditelusuri sejak 2017. Kasus itu berlangsung sejak 2015-2021. (KTE)


























