Bareskrim Usut Skandal Izin BPS di Gunung Botak

Utama

Kapolda: Saya Bakal Kerahkan Polisi

badge-check


Kapolda: Saya Bakal Kerahkan Polisi Perbesar

KABARTIMURNEWS.COM,AMBON, – Kondisi sungai Anahoni yang ada di Desa Kayeli, Kabupaten Buru, makin hari kian memprihatinkan. Airnya tak bisa lagi dipakai oleh warga untuk keperluan mandi dan kebutuhan hidup lainnya.

Padahal, sebelum ditemukan tambang emas Gunung Botak (GB), sungai ini menjadi andalan warga setempat. Selain mandi, warga juga mengkonsumsi air tersebut.

Kini, kejernihan air sungai Anahoni dirusaki sendiri oleh manusia. Untuk mendapatkan emas yang banyak, warga yang berprofesi sebagai Penambang Emas Tanpa Ijin (PETI) tak lagi menghiraukan alam. Mereka tidak memikirkan dampak dari perbuatan mereka terhadap anak cucu mereka dikemudian hari.

Agar supaya masalah ini tak berlarut-larut, sejumlah tokoh adat Pulau Buru mendatangi Mapolda Maluku. Kedatangan mereka untuk meminta bantuan pihak kepolisian dalam melihat aktivitas pertambangan yang masih dilakukan secara diam-diam di GB.

“Masyarakat adat Buru datang kesini karena mereka prihatin dengan kondisi sungai Anahoni. Nah, saya akan menggerakan Polres Buru untuk melakukan tindakan,” kata Kapolda Maluku, Irjen Pol Refdi Andri di Mapolda Maluku, Kamis (25/11)

Menurutnya, masalah di GB menjadi tanggungjawab bersama. Tentu, pihak kepolisian juga membutuhkan bantuan para tokoh adat untuk membenahi kondisi yang ada.

“Persoalan Gunung Botak tetap menjadi tanggung jawab kita bersama, kami juga mengucapkan terima kasih atas kerja sama yang sudah terjalin selama ini antara aparat keamanan dengan tokoh adat di Pulau Buru,” katanya.

Memang, lanjut Jenderal bintang 2 Polri itu, kawasan GB ini belum kosong penuh. Masih terdapat sejumlah oknum masyarakat yang diam-diam melakukan pengolahan emas secara ilegal. Bahkan mereka juga nekat menggunakan bahan kimia.

“Kita tau bersama masih ada juga oknum yang main kucing-kucingan untuk mencari keuntungan pribadi dengan menambang emas menggunakan bahan sianida, merkuri, yang merupakan zat berbahaya,” ujarnya.

Mantan Kakorlantas Polri ini berharap kekayaan alam yang ada di Gunung Botak kiranya dapat memberikan manfaat bersama kepada masyarakat yang mendiami Pulau Buru. “Olehnya itu, kami harap GB dapat dikelola dengan baik karena apabila salah dalam pengelolaannya maka dampak buruknya akan dirasakan oleh anak cucu kita dikemudian hari,” ingatnya.

Prinsipnya, masalah ini akan akan ditindaklanjuti dengan mengirim personil Polres Pulau Buru untuk menindak mereka yang melakukan tindakan pencemaran di kawasan Gunung Botak dan sungai Anahoni.

Untuk diketahui, pada kesempatan itu, para tokoh adat di Pulau Buru itu juga menyatakan sikap mendukung semua proses penataan dan regulasi yang dilakukan Pemerintah terhadap Gunung Botak ke depan. (KTY)

Tinggalkan Balasan

Baca Juga

Oratmangun Desak Struktur Saham BUMD Ditata Proporsional

24 Mei 2026 - 23:49 WIT

Bukan Cuma Jaga Keamanan, Polisi di Maluku Kini Masuk Kelas Ajarkan Hukum ke Pelajar Kepulauan

21 Mei 2026 - 01:24 WIT

Kawal Megaproyek Blok Masela, Pemprov Maluku Satukan Kekuatan TNI-Polri

20 Mei 2026 - 13:57 WIT

Maluku-Ditjen SDA Perkuat Infrastruktur Air dan Ketahanan Kepulauan

13 Mei 2026 - 02:47 WIT

15 WNA China di Gunung Botak Maluku Terancam Dideportasi

13 Mei 2026 - 02:41 WIT

Trending di Maluku