KABARTIMURNEWS.COM,AMBON, – Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) RI, Dwikorita Karnawati dan rombongan, diketahui tiba di Provinsi Kota Ambon, Provinsi Maluku, Kamis (2/9) kemarin.
Kedatangannya disambut Wakil Gubernur Maluku Barnabas Nathaniel Orno, Plh Sekda Sadali Ie, Kepala BPBD Hendrik Far-Far, dan Asisten Intelejen Kajati Muji Martopo, di VIP Room Bandara Udara Internasional Pattimura.
Dwikorita akan melakukan kunjungan kerja (Kunker) dan survei di Provinsi Maluku. Kunker BMKG RI itu, dijadwalkan berlangsung hingga Sabtu 5 Agustus 2021, dan ada tiga wilayah yang menjadi lokasi Kunker yakni Kota Ambon, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB) dan Maluku Tengah (Malteng).
Untuk diketahui, tujuan dari Kunker BMKG RI itu adalah, untuk melihat kondisi wilayah rawan bencana alam terutama Tsunami dan gempa bumi di Maluku.
Kamis kemarin, ketua BMKG RI melakukan tinjauan awal dj pantai Dusun Air Manis Negeri Laha, Kantor BMKG Stasiun Meteorologi Kelas II Pattimura Ambon, Tanjung Martafons Kampung Pisang, pantai Rumah Tiga, pantai Hutumuri dan meninjau lokasi Sirine di Waihaong.
Dia mengatakan, dalam Kunker ini, hal urgen yang dilakukan pihaknya adalah melakukan mitigasi bencana gempa bumi dan Tsunami, juga melaksanakan verifikasi peta bahaya.
“Serta mengecek kondisi rute evakuasi yang akan dilalui masyarakat, ketika terjadi bencana menuju kawasan aman (Titik kumpul). Biar pada saat terjadi gempa, evakuasi warga diupayakan berlangsung cepat dan aman,” katanya.
Ditempat yang sama, Kepala BPBD Maluku, Hendrik Far-Far mengatakan, sebagai unit teknis, pihaknya akan selalu siap berkoordinasi dan bekerja sama menindaklanjuti informasi yang disampaikan BMKG ke masyarakat Maluku.
“Tujuannya agar masyarakat selalu sigap ketika menghadapi bencana.Mengingat, kondisi alam di provinsi Maluku selalu berubah di setiap saat,” jelas Far-Far.
Selain itu, Kepala Stasiun Geofisika Ambon Herlambang Muda mengaku, pihaknya siap berkomitmen membantu pemerintah daerah dan masyarakat Maluku.
Menurutnya, gempa bumi dan Tsunami di Maluku memiliki karakteristik berbeda dari daerah lain. Sebab, merupakan kawasan kepulauan dan mempunyai beberapa sesar, yang berpotensi aktif lalu menimbulkan gempa.
Sesar atau patahan, merupakan bidang batas antara dua fraksi kulit bumi yang mengalami gerakan relatif. Sesar biasanya merupakan daerah yang relatif lemah, mengalami retakan, atau terdapat celah.
“Secara historis, di tahun 1899 terjadi gempa besar di pulau Seram. Warga disana (Seram) menyebutnya sebagai Bahaya Seram. Kemudian di tahun 1647 juga. Berdasarkan sejarah ini, kami sangat memperhatikan kondisi kegempaan yang ada di Maluku,” tutupnya. (KTE)


























