KABARTIMURNEWS.COM, AMBON– Kasus dugaan “tipu” dengan modus barter proyek yang dilakoni Ketua DPRD Maluku, Lucky Wattimuri telah ikut mencederai marwah PDI-perjuangan sebagai partai penguasa di Maluku.
Kasus ini, selain reputasi PDI Perrjuangan sebagai partai “wong cilik” juga telah ikut mencoreng marwah DPRD Maluku, sebagai lembaga wakil rakyat. Apalagi muncul kasus ini para wakil rakyat di Geduang DPRD Maluku seolah melegalkan apa yang dilakukan ketuanya.
Tidak ada satupun anggota parlemen rakyat itu, yang bersuara atas kejahatan Wattimury yang dilakukan ketuanya. “Jika sampai hari ini tidak ada dari DPRD yang bersikap, ada dugaan, jangan-jangan seluruh anggota DPRD Maluku, tersandera oleh satu pimpinan, atau bisa saja ada kepentingan besar lainnya. Wait And See (tunggu dan lihat),” ungkap Koordinator Paparisa Perjuangan Maluku (PPM_95DJAKARTA), Fadli Tuhulele, kepada Kabar Timur, Senin (5/10).
Menurutnya, sikap bungkam yang saat ini ditujukan para anggota DPRD Maluku, terkesan memalukan. Bagaimana tidak, wakil rakyat yang kerjanya mengawal kepentingan masyarakat dengan jujur, harus diam dan tak berdaya menghadapi kejahatan didepan mata.
“Kasus LW sungguh memprihatinkan sekaligus memalukan. Jika didiamkan, perbuatan koruptif dengan memperdagangkan proyek-proyek APBD diyakini akan semakin massif terjadi, “ terangnya.
Diungkapkan Tuhulele, sikap bungkam anggota DPRD Maluku, terhadap dugaan kejahatan Lucky Wattimury, bakal menimbulkan banyak persepsi. “Apakah ada kepentingan tertentu yang sengaja diamankan, sehingga mereka semua diam seperti ini, “ katanya.
“Jika kasus ini ditelusuri maka akan banyak ditemukan kasus-kasus yang sama, dimana aset rakyat dijaminkan demi kepentingan pribadi maupun kelompok, “ paparnya.
Sementara Ketua Gerakan Mahasiswa Kristen Indoensia (GMKI) Cabang Ambon, Almindes Falantino Syauta mengatakan, kasus Lucky mencederai marwah PDI-perjuangan sebagai partai penguasa di Maluku.



























