Keluarga Korban Kesetrum di Passo Sebut PLN Tutupi Kesalahan

KABARTIMURNEWS.COM,AMBON- Keluarga Iksan Latuconsina, korban kesetrum listrik di Passo, Kota Ambon, Kamis (20/2) lalu, tidak terima disebut sebagai pihak yang lalai atau salah. Justru sebaliknya, kesalahan hingga berujung terjadinya kecelakaan kerja tersebut berada di tangan PLN.

Akibat kelalaian petugas PLN sendiri, yaitu Mateos Wenno, yang bersama korban kala itu, menyebabkan Iksan mengalami luka bakar hampir di sekujur tubuhnya. Korban kini telah dirujuk ke Rumah Sakit Umum Daerah dr. M. Haulussy Kota Ambon.

“Ada statemen dari pak Ramli Malawat dan Mateos, kami lihat ada kejanggalan. Ade laki-laki (Korban) sebelum dia naik, dia sudah menanyakan apakah aliran di atasnya ini sudah padam apa belum. Dia (Mateos) katakan sudah padam,” ungkap Memet Samanery, kakak korban di ruang redaksi Kabar Timur, Poka, Senin (2/3) malam.

Kala itu, lanjut Memet, korban masih belum percaya dengan perkataan Mateos yang menyebutkan jika jalur gangguan dan bagian atasnya sudah dipadamkan PLN. Dia bertanya kembali hingga Mateos menghubungi Ambon 5.

“Korban sempat meminta Mateos untuk mengecek jaringan atas dan bawa sudah padam ka balom, dia katakan sudah padam dua-dua. Saat pertanyaan ke dua itu, Pak Mateos bilang tunggu, beta tanya di Ambon 5. Dia (Ambon 5) katakan sudah, semua sudah padam,” ungkapnya.

Setelah beberapa kali bertanya untuk meyakinkan dirinya hingga berani naik memperbaiki jaringan rusak, korban kemudian bekerja sambil duduk jongkok. Sejak awal hingga kesetrum, korban tidak pernah berdiri.

“Saat bekerja, Iksan dalam posisi duduk, jongkok, bukan berdiri. Kalau dia berdiri, berarti dia sudah lewat dengan kabel yang di atas. Jadi saat itu Iksan tarek kabel yang putus, lalu tangannya ditarik oleh strom. Tangannya belum menyentuh kabel, tapi strom yang tarik,” jelasnya.

Memet menyesalkan sikap PLN yang seakan lari dari tanggungjawabnya. PLN hanya mementingkan nama baik tanpa berfikir nyawa pegawai jadi taruhannya.

“Jadi kalau Iksan dibilang lalai, dia lalai di mana. Dia sudah berulang kali bertanya apakah jalur atas dan bawa sudah padam atau belum. Mateos menjawab sudah padam. Dia memang beda perusahaan. Dia diminta bantu, karena dia kuasai aliran di situ,” ujarnya.

Ironisnya, tambah Memet, saat kejadian itu, Mateos menghubungi istri korban untuk tidak melayani wartawan. Istri korban diminta untuk tidak menerima awak media yang datang menemui Iksan.

“Dari situ beta mulai ragu. Beta bilang ini ada apa. Jadi seakan akan PLN ini lepas tangan. Dia mau melindungi diri sendiri. PLN cari posisi aman. PLN tutupi kesalahan. Katong su jadi korban malah katong yang disalahkan. Bahkan sampai sekarang saja dari PLN baik Pak Ramli atau Mateos itu tidak pernah menengok korban,” sesalnya.

Sebelumnya diberitakan, Naas menimpa Iksan Latuconsina. Pekerja listrik dari PT. Tarakan, anak perusahaan dari PT. PLN Unit Induk Wilayah Maluku dan Maluku Utara, ini kesetrum saat sedang memperbaiki gangguan jaringan listrik.

Iksan kesetrum dan langsung jatuh tergantung di atas tiang listrik yang berada tepat di depan SPN Passo, Kecamatan Baguala, Kota Ambon, Kamis (20/2). Beruntung, nyawa Iksan selamat dari maut.

Iksan masih mendapat penanganan medis di rumah sakit Hative Kecil, Passo. Kedua tangannya mengalami luka bakar, setelah menyentuh kabel jaringan listrik bertegangan 20 Kv di Tempat Kejadian Perkara (TKP).

"Korban merupakan pegawai PT. Tarakan, anak perusahaan dari PT. PLN," kata Manager Komunikasi PLN Maluku dan Maluku Utara, Ramli Malawat, kepada Kabar Timur.

Menurutnya, korban ditugaskan oleh perusahaannya untuk memperbaiki jaringan setempat lantaran putusnya bemperan di wilayah SUPM. Saat bekerja dia dipantau oleh pengawas dari PLN yakni Mateos Wenno.

"Awalnya petugas yamtek melaksanakan pekerjaan gangguan sisi 20 Kv pukul 12.00 WIT. Sesuai SOP, jalur (gangguan) tersebut dipadamkan sebelum perbaikan dimulai," kata Malawat.

Sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP), korban kala itu bekerja dalam posisi jaringan telah padam. Iksan yang harusnya bekerja dengan posisi duduk, tanpa sadar berdiri dan tangannya menyentuh kabel jaringan di atasnya.

"Saat bekerja korban berdiri di atas traves atau tempat isolator. Tanpa sadar tangannya besentuhan dengan tegangan 20 Kv yang berada di atasnya. Saat kesetrum korban langsung jatuh.

Alhamdulilah dia memakai alat pelindung diri (APD), sehingga dirinya tersangkut," jelasnya.
Sejak peristiwa itu, petugas PLN yaitu Mateos kemudian mengambil alternatif untuk melarikan korban ke RS Hative Kecil. Korban kemudian mendapatkan pertolongan pertama.

"Saat ini korban sudah sadar dan kedua tangan korban mengalami luka bakar. Alhamdulillah korban selamat," katanya.

Menurutnya, jaringan gangguan yang dikerjakan oleh korban, kini telah diambil alih oleh petugas PLN. Sebab, jaringan tersebut merupakan jalur suplai listrik menuju Pusat Kota.

"Saat ini petugas PLN tetap melaksanakan eksekusi perbaikan gangguang jaringan tersebut. Mudah-mudahan berjalan lancar," ujarnya.

Kecelakaan kerja tersebut, lanjut Malawat, bisa terjadi akibat kelalaian korban. Beruntung, sebelum bekerja, korban juga telah melengkapi semua SOP yang diterapkan.

"Semua SOP dia sudah lengkap, petunjuk penggunaan APD sudah dia lakukan. Cuman karena dia lalai yaitu berdiri tegak lurus lalu tangannya tanpa disadari menyentuh tegangan di atasnya. Seharusnya dia tidak boleh berdiri. Dia harus bekerja di daerah yang sudah padam," tandasnya. (KTC)

Komentar

Loading...