Ditangkap Densus 88, IS Ternyata Fans “Kartun Naruto” (1)

Ilustrasi

Laporan: Sony Betaubun-M Natsir, Ambon

Jilbab lebar biru tua membungkus wajah tirus Hardiyanti Onoly. Celana panjang warna senada jilbabnya bahkan terlihat menyisakan betis dan mata kaki. Isteri terduga jaringan teroris Bom Medan ini memang jauh dari kesan kelompok radikal Islam.

Penangkapan tiba-tiba oleh pihak Densus 88 Anti Teror Polda Maluku terhadap suaminya IS alias Iksan Onoly mungkin itu yang lagi terbayang di kepala Hardiyanti. Saat Kabar Timur mendatangi rumah keluarga Onoly Senin (27/1), dia terlihat tegang. Tatapan matanya kosong, tak berkedip.

Namun suasana mencair juga. Kehadiran rekan wartawan Kabar Timur, Sony Betaubun disambut hangat keluarga Onoly yang sama-sama berasal dari Kecamatan Kei Besar Utara Timur, Kabupaten Maluku Tenggara. 

Seluruh anggota keluarga Onoly termasuk Anti panggilan akrab Hardiyanti juga dibuat tersenyum geli, dengan tingkah kocak Sony yang tak tanggung-tanggung meminta suguhan kopi ala warga Banda Eli yakni “kopi yang dimasak di atas api.”

Wawancara dengan gaya interogasi Kabar Timur bahkan terkesan masih bisa membuat nyaman untuk sementara waktu, semua anggota keluarga Onoly yang hadir. Tapi suasana hangat itu berubah, sekira pertengahan waktu wawancara. Saat Hardiyanti tiba-tiba tak mampu bertutur lagi.

Perempuan berusia 20 tahun ini, terlihat bingung saat ditanya soal buku-buku agama yang dimiliki suaminya. “Ass-Syams, buku itu dong bawa lagi,” ucapnya dengan nada suara tertahan setelah beberapa detik terdiam.

As-Syams, seperti digambarkan Hardiyanti adalah buku dengan sampul menyolok. Bergambar seseorang dengan pakaian pejuang Muslim menenteng senjata. Tapi isinya, tidak seperti yang tergambar pada sampul tersebut. “Beta seng ingat persis lagi. Tapi di buku itu kalau gambar-gambar perang atau bendera hitam yang abang bilang ISIS itu, seng ada,” akuinya.

Sebutan As-Syams sendiri merujuk pada negara Suriah, yang diketahui pernah menjadi ajang medan jihad sejumlah kelompok radikal Islam. Salah satunya Negara Islam Suriah atau ISIS yang identik dengan bendera berwarna hitamnya itu.

Sama seperti Hardiyanti, anggota keluarga Onoly lainnya juga mengaku, buku tersebut adalah salah satu dari barang-barang yang dibawa pergi polisi ketika menggeledah rumah Bukhari Onoly (60) ayah kandung Iksan dimana Hardiyanti dan suaminya itu menumpang tinggal sejak menikah. Sejumlah barang dibawa petugas yang diduga milik IS antara lain leptop, beberapa hape diantaranya ada yang rusak. Lalu kabel-kabel, paku dan beberapa potong pipa.

Buku yang diakui miliknya sendiri, sebelum menikah dengan Iksan Onoly itu dibeli dari tempat dimana sebelumnya dia belajar ilmu agama. Sebuah majelis pengajian bermahzab Salafi. 

Majelis pengajian ini diketahui terletak di Kampung Kisar, kawasan Kebun Cengkeh, Desa Batumerah, Kecamatan Sirimau. Kecuali seorang perempuan yang biasa dipanggil Umi Muthmainnah, Hardiyanti mengaku tidak mengetahui satu pun nama ustad-ustad di majelis pengajian yang konon milik pimpinan UD Amin itu.

“Itu bukan dia (Iksan) punya. Buku itu beta pung dari bujang lai. Beli di sana Rp 15 ribu,” kata Hardiyanti soal buku As-Syams.

Dalam anggapan seluruh anggota keluarga, semua barang bukti yang dibawa polisi saat penggeledahan pasca Iksan dicokok Densus 88 pada 20 Nopember 2019 lalu, tak satu pun berkaitan dengan anak keempat Bukhory Onoly (60) itu. 

Ditanya soal kabel-kabel, pipa dan paku-paku, Ny Onya Onoly (50) mengaku itu bukan kepunyaan anaknya.”Itu bapa (suami) punya. Antua kerja bangunan, pekerjaan su selesai, kabel, paku deng pipa-pipa itu suda yang bapa kumpul. Jual ke tampa timbang besi tua untuk tambah-tambah ongkos ojek,” terang Ny Onya.

Bagi Ny Onoly, Iksan yang merupakan anak keempat dari sembilan bersaudara ini adalah tulang punggung keluarga di samping suaminya, Bukhory. Sebelum digelandang oleh Densus 88 Anti Teror Polda Maluku, tak terlihat sedikit pun kalau karyawan toko roti BreadTalk di Maluku City Mall (MCM) Tantui ini punya kegiatan lain.

Jangankan kemana-mana, kata Ny Onya, Iksan lebih banyak menghabiskan waktu di rumah selama tidak shift kerja. Hal itu terkadang membuatnya kesal. Di rumah, anaknya itu cenderung malas melakukan apa saja pekerjaan di rumah, semisal pergi menimba air.

Ketimbang keluar rumah, Iksan lebih suka melihat-lihat youtube bersama sang adik yang paling bungsu, Taufik (8). Bukan saja adiknya itu, Iksan juga doyan menonton filem kartun. 

“Dia fansnya filem Korea atau Dora Emon dengan Naruto,” kata Hardiyanti. “Jadi kalau bilang kemana-mana apalagi sampai ke Jakarta atau Medan, itu kapan? seng pernah,” timpal Ny Onya Onoly.

Inayah Onoly (30) kakak perempuan Iksan, sendiri mengaku jika adiknya itu tidak pernah kedatangan tamu asing. Apalagi yang berjenggot dan berpakaian gamis atau mengenakan sorban di kepala.

Pantauan Kabar Timur, kawasan Kampung Rinjani, tepatnya RT 06/RW 16, dusun Ahuru Kelurahan Karang Panjang tidak memberi kesan sebuah pemukiman masyarakat muslim yang fanatik. Meski depan gapura masuk kawasan ini, sebuah bekas kios tertulis grafiti atau tulisan dinding bergambar dua pedang Zulfikar saling menyilang, dengan kalimat “Laa Ilaha Illallah” dan ditranslate secara asal-asalan ke bahasa Inggris, “No God But Allah”.

Bukan pemukiman padat penduduk juga, sehingga Kampung Rinjani relatif terlihat lengang. Rumah-rumah penduduk mulai terlihat makin rapat semakin ke arah tempat tinggal Iksan Onoly. 

“Di sini semua keluarga-keluarga dekat saja. Kalau yang ada bunyi tep basar-basar di bawah itu, Saleh Ubeleeuw. Dia anak kampung Taar di Tual sana,” kata Arianto Onoly, salah satu kakak Iksan.

Ketika sore, seperti daerah pemukiman lain umumnya di Kota Ambon, Kampung Rinjani, bisa saja berubah hingar bingar diramaikan dengan lagu-lagu yang berasal dari salon milik warga. Termasuk bunyi salon Saleh Ubeleeuw. 

“Biasa pesta di sini lai, kalau ada yang pung acara hajatan. Ambel rambut anak atau kawinan. Ada mabo-mabo lai, katong kaka satu tuh khan mati gara-gara minum,” ungkap Ariyanto. (***)

Komentar

Loading...