Sekilas Info

Klaim Pattimura Berasal Dari Hulaliu

Ilustrasi Hari Pahlawan

KABARTIMURNEWS.COM, AMBON - Thomas Matulessy atau yang dikenal dengan Kapitan Pattimura Pahlawan Nasional asal Maluku yang setiap tahun 15 Mei diperingati HUTnya. Sejauh ini, dari mana asal muasal sang Pahlawan Nasional Maluku ini masih jadi perdebatan sebagian orang.

Akademisi dan peneliti Universitas Pattimura Ambon, Happy Lunard Lelapary. M. Pd yang juga Dosen FKIP Unpatti serta anggota Forum Dosen Indonesia (FDI) Maluku itu menyebutkan Thomas Matulessy atau yang kini lebih dikenal dengan Kapitan Pattimura berasal dari Hulaliu, Pulau Haruku, bukan dari Haria di Saparua.

Bahkan kata dia, berdasarkan hasil seminar Pahlawan Nasional Pattimura di Ambon Tahun 1993 silam, seharusnya dilakukan penelitian ulang terkait silsilah Thomas Matulessy atau Kapitan Pattimura, namun belum dilakukan.

“Seminar 93 menghasilkan rekomendasi lakukan penelitian ulang. Meneliti silsilah Thomas Matulessy di Pulau Haruku dan Saparua. Saya sayangkan itu rekomendasi tidak pernah ditindaklanjuti. Tahun 2018, kebetulan saya dalam tanggungjawab akademisi menghadiri sebuah seminar yang diselenggarakan Balai Arkeologi Maluku di Latuhalat. Saya sempat berjumpa Pak Wem Manuhutu dan Pak Tom Matulessy (klaim ahi waris dari Hulaliu) mengkonfrontir informasi di forum. Saya tertarik menelusuri rekam jejak penelitian Pattimura ini,”ungkapnya saat berikan keterangan pers di Ambon, Sabtu (11/5) didampingi Thomas Matulessy S.Sos yang mengklaim sebagai keturunan langsung atau ahli waris dari Kapitan Pattimura atau Thomas Matulessy dari Hulaliu.

Lelapary melanjutkan, di tahun 2018 bulan Juni, dirinya melakukan penelitian di Hulaliu dan menemukan fakta-fakta baru serta dokumen baru yang memperkuat Kapitan Pattimura anak adat dari negeri Hulaliu, bukan dari Haria.

“Dokumen yang saya temukan keluarga pertama silsilah keluarga Matulessy disusun sejak tanggal 4 Maret 1908 sudah disusun, jauh sebelum silsilah yang dibuat di Haria. Dimana jelas Thomas Matulessy ada dalam silsilah yang disusun itu. Itu berarti dari aspek silsilah saja menggugurkan Haria yang menyatakan Thomas Matulessy masih muda tidak berkeluarga. Ternyata fakta di Hulaliu, dia (Pattimura) berkeluarga dan sudah generasi kedelapan saat ini,”ujar sang akademisi.

Dikatakan lagi, pihaknya pernah berjumpa dalam Forum Dosen Indonesia Maluku dengan perwakilan dari Haria, tapi entah pertimbangan apa perwakilan dari Haria meninggalkan forum itu. “Setelah membuka fakta-fakta dan beliau sendiri mengaku tidak menguasai sama sekali materi sejarah yang diwariskan keluarga Matulessy disana (Haria),”sambungnya.

Maka dari itu, kata Lelapary, perjuangan bersama klaim ahli waris Thomas Matulessy dari Hulaliu yang baru terungkap saat ini akan dilakukan sampai ke tahap revisi SK Presiden.

“SK Presiden, ini perjuangan kita harus dilakukan sampai kesana serta revisi terhadap SK Presiden yang hanya sebatas menyebutkan Pahlawan Nasional Kapitan Pattimura, tidak pernah ditaruh nama Thomas Matulessy dalam nama itu, sehingga kalau terjadi klaim-klaim. Padahal di dalam seminar FDI kita sudah tegaskan jangan mengaburkan tokoh Pattimura dengan tokoh-tokoh yang lain (klaim). Banyak orang kira sejarah Pattimura sudah clear. Tidak! Dia tokoh besar Pahlawan Nasional yang harus dihargai dengan mempublis identitas atau jatidiri, agar kita tidak mewarisi identitas Pattimura yang salah kepada generasi lain,”sebutnya.

Memikul tanggungjawab moral sebagai peneliti dan akademisi, dirinya mendukung penuh apa yang dilakukan keluarga Matulessy maupun Negeri Hulaliu yang membuat rangkaian acara HUT Pattimura.

“Membuktikan kekuatan adat Hulaliu dan ketokohan Thomas Matulessy dengan Kapitan Pattimura bisa dibuktikan disana (Hulaliu). Kuburan Van Den Berg ada di Hulaliu di Dusun Dati Thomas Matulessy bernama Marsala. Sampai sekarang Van den Berg istri dan anaknya terkubur disitu. Ini baru dibuka, bukan di Saparua. Sudah tiga kali kunjungan anak cucu dari Van den Berg,” ungkapnya.

Dikatakan, register Negeri Hulaliu 1.859 tercatat Thomas Matulessy pemilik empat dati pusaka termasuk enam dusun dati milik Keluarga Matulessy. Dari perspektif adat, Matulessy tidak terdaftar sebagai marga adat di Haria, di Hulaliu tertulis jelas di tiang baileo anak adat.

“Temuan-temuan ini yang kita mengindikasikan dia adalah anak adat dari Hulaliu segara diclear dan dibuat dalam dokumen resmi untuk diwariskan kepada anak cucu agar tidak salah,”tandasnya.

Sementara Thomas Matulessy S.Sos yang mengklaim sebagai salah satu keturunan atau ahli waris dari Pattimura lewat catatan sejarah ahli waris Pahlawan Nasional Thomas Matulessy Kapitan Pattimura secara tegas mengklaim Pattimura berasal dari Hulalui, Kecamatan Pulau Haruku, Kabupaten Maluku Tengah.

Keluarga Matulessy diklaim, adalah anak adat Negeri Hulaliu Rakanyawa dari uli Amarima Hatuhaha di Pulau haruku, Maluku Tengah. Kapitan Pattimura disebut hidup sekitar abad 16 di Negeri Hulaliu. Thomas Matulessy kawin dengan Huaputih anak perempuan dari Kapitan Besar Haturessy Rakanyawa yang bernama Upu Pentury Noya. Upu Pentury Noya menetap di benteng Hatu Marsalah.

“Mata rumah keluarga Matulessy bernama Loha Samal dan memiliki tiang sendiri adat nomor 3 di dalam baileo asal Nusa Hulaliu, dari deretan tiang seniri pada soa Nusahuhu. Secara turun-temurun keluarga Matulessy yang ada sekarang berasal dari tiga moyang,” kata Thomas.

Moyang itu, adalah moyang Marpati Matulessy yang menurunkan keturunan Markus Matulessy sebagai Kewang Negeri, moyang Huapati Matulessy yang menurunkan keturunan Thomas Matulessy sebagai Saniri Negeri, moyang Tapi Ratu Matulessy yang menurunkan keturunan Anthony Matulessy sebagai kepala Dati Matulessy.

Dikatakan pria yang mengkalim masih satu keturunan dengan Kapitan Pattimura itu, dalam sejarah, ada dua saudara dari Anthony Matulessy yang bernama Maria dan Mateos dimana keduanya berpindah ke Pulau Saparua dan menurunkan keluarga Matulessy di negeri Itawaka, Ulath, dan Haria sampai saat ini.

Pada awal tahun 1.800 ketika pemerintah mengeluarkan perintah kepada semua raja Patih Negeri jajahan di Maluku agar supaya rakyatnya harus mendaftarkan Dusun Dati pusaka yang dimiliki kepada Raja Pati di negeri masing-masing, Anthony Matulessy ditunjuk sebagai kepala Dati mendaftarkan dua Dusun Dati dan empat Dusun pusaka. Thomas Matulessy mendaftarkan empat buah Dusun pusaka dan Marcus Matulessy mendaftarkan enam buah Dusun pusaka.

Semua Dusun keluarga Matulessy terdaftar dalam register negeri Hulaliu adalah Dati Waenia, Dati Waesaro, pusaka Larurua, pusaka waihuhu, pusaka Waehokal dan lain masih tetap dimiliki dan dinikmati keluarga Matulessy sampai sekarang.

“Thomas Matulessy lahir di Hulaliu tanggal 8 Juni 1783. Ia meninggal di atas tiang gantungan di Kota Ambon 16 Desember tahun 1817 tepat di Pattimura park. Jabatan dalam perang adalah penghulu dengan gelar kapitan Pattimura,” sebutnya.

Ayahnya bernama Corneles Matulessy, Ibunya bernama Petrosina Noya, dan istrinya bernama Maria Bungasina Taihuttu dan berakhir kan tiga orang anak. Mereka adalah, Huapatty, dengan nama baptis Asaf Matulessy keturunannya masih ada sampai sekarang di Hulaliu.

Risamena dengan nama baptis Matheos Matulessy, dan Benjamin Matulessy yang keturunannya masih ada di Hulaliu. Pada tahun 1817 terjadi perang Pattimura. Benteng Duurstede sebagai lambang kekuasaan Belanda di Saparua 16 Mei 1817 direbut Thomas Matulessy dan kawan-kawan.

Gubernur Maluku di Ambon pada waktu itu mengeluarkan seruan serta beberapa kali upaya berunding dan berdamai bersama pasukan rakyat namun ditolak Thomas Matulessy, kapitan Pattimura dan upaya damai itu gagal total.

Setelah itu, Laksamana Buskes mengumpulkan raja-raja di Ambon. Dalam pertemuan itu, Raja Hulaliu Abraham Tuanakotta Pati Kota Alicia, mengatakan kalau keluarga Matulessy berasal dari Hulaliu. Namun setelah peristiwa 16 Mei 1817, mereka sudah pergi ke Negeri Kariuw dan berganti marga menjadi Salataya.

“Saat ini kami atas nama keluarga Matulessy menyampaikan terima kasih dan hormat kami kepada semua leluhur orang Hulaliu yang pada saat 4 November 1817, sepakat tutup mulut memegang rahasia demi keselamatan keluarga Matulessy dari ancaman kematian,”bebernya.

Belakangan keluarganya diketahui lolos dari pembantaian dan berada di luar negeri Kariuw yaitu di Bojonegoro Pulau Jawa. Pada tahun 1989 kami keluarga Matulessy, Tuanakotta, Siahaya, dan Noya telah melaksanakan pertemuan dan memohon doa pengampunan serta membuat meja damai bersama keluarga John Salataya almarhum di Ambon.

Keputusan untuk kembali memaknai nama marga Matulessy pada zaman pemerintahan Belanda sangatlah berat, dan beresiko. Pasalnya, keturunan Thomas Matulessy dicap sebagai pemberontak.

“Setelah 100 tahun, pemerintah Indonesia masih keliru dan mengakui orang lain yang tidak berhak sebagai ahli waris. Kami ahli waris sejati terus menggugat agar saatnya nanti pemerintah harus mengakui kami dan mengembalikan semua hak kami yang menjadi milik pusaka ahli waris sejati yang sebenarnya,”jelasnya.

Dia mengaku, kecewa tim sejarah Pattimura yang dibentuk leh Gubernur Johanes Latuharhary pada tahun 1951. Mereka hanya datang sesaat ke Saparua dan memberikan masukan yang keliru tentang ahli waris Thomas Matulessy.

Menurut dia, hal ini telah disampaikan ahli waris sejati dalam seminar nasional sejarah Pattimura tahun 1993 di Ambon. Tim perumus seminar berkesimpulan, bukti sejarah ahli waris keluarga Matulessy yang benar adalah bukti-bukti yang harus dibuat dan ditulis sebelum Indonesia merdeka.

Hasil rekomendasi seminar tahun 1993 perlu diteliti silsilah keluarga Matulessy di Haria dan di Hulaliu. Namun belum ditindaklanjuti sampai sekarang. “Juli 2016 telah dilakukan penelitian oleh forum dosen Indonesia Maluku di negeri Hulaliu Haturessy Rakanyawa dan hasil penelitian tersebut telah diseminarkan tanggal 14 Agustus 2016 di kampus Unpatti Ambon. Rekomendasi hasil seminar sangat mendukung semua bukti dan fakta sejarah yang berasal dari negeri Hulaliu. Mereka menerangkan Thomas Matulessy kapitan Pattimura berasal dari negeri Hulaliu pulau Haruku,”ungkapnya.

Oleh karena itulah, berdasarkan fakta-fakta ini, dia (Thomas Matulessy S.Sos) meminta Gubernur Maluku, Murad Ismail menindaklanjuti semua hasil seminar yang telah ada dengan bersedia membentuk tim peneliti tentang sejarah asal usul pahlawan kebanggaan Maluku pahlawan nasional Thomas Matulessy atau Pattimura. (RUZ)

Penulis:

Baca Juga