Sekilas Info

Dihantam Bencana Ratusan Rumah Warga di MBD Rusak

ILUSTRASI

KABARTIMURNEWS.COM, AMBON - Dampak siklon tropis lili yang berada di sebelah utara Laut Timor terus bergerak ke arah barat daya dan menyebabkan cuaca ekstrem berupa banjir, angin kencang melanda wilayah Kabupaten Maluku Barat Daya.

Ribuan warga dilaporkan masih menempati lokasi pengungsian akibat rumah mereka mengalami kerusakan. Pemerintah Kabupaten MBD masih mendata kerugian akibat dampak bencana alam tersebut.

Sekretaris Daerah MBD Alfons Siamloy mengatakan, bencana akibat dampak siklon tropis lili itu telah berakhir. “Banjir telah surut. Angin dan hujan mulai reda. Siklon sudah lewat,’’ kata Siamiloy dihubungi Kabar Timur, Jumat (10/5).

Meski begitu warga yang terdampak bencana masih tinggal di tempat-tempat pengungsian. ’’Mereka masih ngungsi karena rumahnya rusak. Begitu juga di Kota Tiakur sekitar 70 rumah terendam banjir, warga masih berada di di tempat penampungan,’’ terangnya.

Tak hanya sejumlah desa di pulau Moa dan Letti, pulau Lakor dan Luang dan Sermatang juga terkena badai. “Lakor 30 rumah rusak. Di sana air naik empat meter. Tinggi gelombang 4 sampai 5 meter. Kita minta camat lapor dan foto. Begitu juga di Luang Sermatang kena dampak. Kita tunggu laporan dari camat setempat,’’ jelasnya.

Setelah mendapat laporan dari camat, Pemkab akan berkordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BNPD) MBD untuk melaporkan kerusakan rumah warga dan menghitung kerugian akibat bencana ini. “Di Moa ada beberapa rumah rusak belum terdeteksi. Kita tunggu laporan dari BNPB,’’ tandasnya.

Dampak embung serbaguna di Laitutun yang jebol, sejumlah rumah penduduk terendam air. ‘’Kita tunggu laporan Camat Letti. Setelah camat lapor kita investigasi lapangan hitung kerusakan di lapangan. Kalau masyarakat cenderung subjektif. BNPD yang akan hitung kerugian setelah mengumpulkan data di lapangan,’’ ujar Siamloy.

Sementara itu, BNPB mencatat desa yang terkena dampak adalah Desa Laitutun di Kecamatan Pulau Letti, Desa Tounwawan di Kecamatan Moa Lakor, dan Desa Luang Timur di Kecamatan Mdona Hiera, Kabupaten MBD. Banjir dan cuaca ekstrem mulai terjadi sejak Rabu (8/5) pukul 19.00 WIT.

Di Desa Laitutun, tinggi air mencapai 1 meter. Warga pun mengungsi. Sementara itu, di Desa Tounwawan angin kencang menyebabkan rumah rusak. Namun disebutkan tidak ada korban jiwa.

"Tidak ada korban jiwa dalam bencana yang melanda Maluku Barat Daya. Di Desa Laitutun, banjir setinggi 1 meter menggenangi rumah-rumah warga. Beberapa warga di Desa Laitutun mengungsi. Jumlah pengungsi masih dalam pendataan," kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho di Jakarta, Jumat (10/5).

"Di Desa Tounwawan, angin kencang menyebabkan beberapa rumah rusak. Sedangkan di Desa Luang Timur, angin kencang mengakibatkan 10 unit rumah rusak berat, 1 unit kantor desa rusak berat, dan 1 buah kapal tenggelam akibat gelombang tinggi," imbuh dia.

Selain itu, dilaporkan ada sebuah sekolah rusak di Dusun Poliwu. Sekolah itu terendam air setinggi 1,5 meter. Namun saat ini banjir disebutkan telah surut. Disebutkan ketinggian air saat ini 30-50 cm.

"Sementara itu, di Desa Pulau Letti, terdapat satu unit bendungan jebol sehingga beberapa rumah rusak. Di Dusun Poliwu, terjadi banjir mengakibatkan gedung Sekolah Dasar Kristen Poliwu rusak karena terendam air dengan setinggi 1,5 meter," ujar Sutopo.

Dampak siklon tropis sudah dirasakan masyarakat di Pulau Letti sejak Senin (6/5) dan puncaknya pada Rabu (8/5) pukul 21.00 WIT. Gelombang laut juga tinggi, sehingga masyarakat tidak ada yang berani berlayar.

Tim Reaksi Cepat BPBD Kabupaten MBD melakukan kajian cepat dan melaporkan kejadian bencana alam ini ke Bupati Maluku Barat Daya. BPBD MBD bersama Wakil Bupati Benjamin Noach dan OPD/lembaga terkait telah melakukan kunjungan ke lokasi kejadian. Penanganan darurat dilakukan bersama BPBD, TNI, Polri, SKPD, relawan, dan masyarakat.

Namun penanganan darurat ini sempat mengalami kendala. Persoalan di lapangan di antaranya minimnya jumlah personel di BPBD MB dan buruknya jaringan telekomunikasi.

Selain itu, akses lokasi yang sulit dijangkau dari kota/kabupaten (pulau) menyebabkan pendataan tidak bisa cepat. Daerah dengan pulau-pulau kecil yang infrastruktur komunikasi dan transportasi terbatas menjadi kendala dalam penanganan bencana.

Terpisah, BPBD Provinsi Maluku terus memantau dampak kerusakan yang ditimbulkan akibat siklon tropis lili yang melanda sejumlah wilayah di daerah yang berbatasan dengan negara Timor Leste itu.

"Kami masih terus memantau perkembangan bencana akibat bibit siklon tropis, termasuk mendata kerusakan yang ditimbulkan," kata Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Maluku Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Maluku, John M. Hursepuny, di Ambon, kemarin.

Menurutnya berdasarkan hasil analisa Tropical Cyclone Warning Centre (TCWC) Jakarta terpantau adanya bibit siklon tropis yang melanda kabupaten Kepulauan Tanimbar (KKT), MBD, Perairan Selatan Ambon, Laut Banda Bagian Utara, Perairan Kepulauan Kai, Perairan Kepulauan Aru.

Selain itu, Laut Arafuru Bagian Tengah, Laut Banda Bagian Selatan, Kepulauan Sermata dan Letti sehingga mengakibatkan terjadi cuaca buruk dengan dampak bencana alam di KKT dan MBD. "Data yang kami terima dari BPBD MBD bibit siklon tropis telah dirasakan masyarakat di Pulau Letti, MBD sejak 7 Mei lalu dan puncaknya pada Rabu (8/5) pukul 21.00 WIT," katanya.

Badai yang terjadi selama dua hari tersebut, ujar John, menyebabkan meluapnya air pada embung milik Balai Wilayah Sungai (BWS) Maluku, karena tinggi muka air naik sehingga air tampungan di dalamnya melimpah dan merendam permukiman masyarakat di beberapa titik.

Sejumlah pemukiman warga di Pulau Letti yang terendam yakni di desa Batumiau, Tomra, Nuwewang, Laitutun dan Nulely sehingga masyarakat mengungsi sejak Rabu (8/5). "Sebagian masyarakat dari lima desa tersebut mengungsikan diri ke dataran lebih tinggi yakni di Gunung Ile dan Gunung Yalnera," katanya.

Selain itu pada Rabu (8/5), di desa Tounwawan dusun Poliwu, Pulau Moa juga dilaporkan terjadi pohon tumbang akibat angin kencang dan banjir yang menggenangi 97 unit rumah warga menyebabkan 97 kepala keluarga (KK) atau 485 jiwa sementara mengungsi di gedung gereja GSJA serta akses jalan menuju lokasi masih terputus dikarenakan lokasi masih terendam air.

Banjir yang melanda dusun Poliwu juga menyebabkan gedung Sekolah Dasar Kristen Poliwu tidak bisa digunakan karena tinggi air mencapai 1,5 meter.

Begitu juga sembilan unit rumah warga serta masing-masing satu unit rumah dinas guru dan kantor desa di Desa Luang Timur, kecamatan Mdona Hyera rusak berat, bangunan SD Inpres rusak ringan serta satu kapal (dalam kondisi rusak) tenggelam akibat gelombang tinggi.

Banjir juga dilaporkan terjadi di Kota Tiakur dengan ketinggian muka air antara 60 centimeter hingga 1,5 meter menyebabkan 28 unit rumah tergenang air, sehingga 15 kepala keluarga terpaksa mengungsi ke gedung serbaguna Tiakur serta rumah kerabatnya.

Banjir akibat siklon tropis juga menggenangi seluruh pemukiman di Desa Teinaman, kecamatan Wuarlabobar yang dihuni 274 KK dengan ketinggian 30 - 45 centimeter sehingga 274, genangan air yang mengalir ke pantai menyebabkan dua unit rumah roboh, satu unit rusak ringan serta merusak talud dan mematahkan penahan gelombang sepanjang 275 meter dengan 3 titik kerusakan.

Selain itu terjadi tanah longsor di Kelurahan Saumlaki, Kabupaten Kepulauan Tanimbar yang mengakibatkan 2 unit rumah warga rusak berat. (KT/DTC)

Penulis:

Baca Juga