Sekilas Info

Tokoh Agama Kutuk Penembakan di Selandia Baru

KABARTIMURNEWS.COM, AMBON - Kutukan dan kecaman keras terhadap penembakan umat muslim di Masjid Al Noor dan Linwood, Kota Christchurch, Selandia Baru datang dari tokoh agama di Maluku.

Mereka menyebut perbuatan pelaku Brenton Tarrant (28), warga Australia, bersama tiga rekannya, biadab.

Aksi penembakan brutal yang dilakukan keempat teroris terhadap umat muslim yang bersiap melaksanakan ibadah shalat, Jumat (15/3) di dua masjid tersebut dikecam tokoh agama Kristen Protestan, Katolik, Hindu, Budha, Konghucu dan Islam di Maluku.

“Secara khusus, kami umat Kristiani di Provinsi Maluku dengan tegas mengutuk penembakan itu. Karena ini bukan hanya bertentangan dengan keagamaan, tapi bertentangan dengan kemanusiaan. Ini adalah perbuatan yang biadab. Kami kutuk 100 persen,” tegas Uskup Diosis Amboina, MGR. Petrus Canisius Mandagi di Markas Polda Maluku, Kota Ambon, Sabtu (16/3).

Pasca aksi penembakan di Selandia Baru, para tokoh agama di Maluku menggelar pertemuan di Mapolda Maluku. Usai rapat, para pimpinan tokoh agama menyampaikan pernyataan sikap bersama.

Mandagi berharap peristiwa tersebut tidak menimbulkan aksi balas dendam. “Karena itu hanya akan merusak hubungan antara kita, terlebih di Maluku yang sudah bagus, sudah tentram dan aman. Mari kita jaga,” ajak Mandagi.

Dia berharap, pemerintah Australia dan Selandia Baru dapat segera menyelesaikan persoalan itu dengan menghukum pelaku. “Pelaku harus diadili kemudian dihukum seberat beratnya, karena ini telah menimbulkan situasi rasa tidak aman bagi kemanusiaan,” pintanya.

Kepada pemerintah Indonesia, Mandagi berharap dapat mengimbau pemerintah Australia dan Selandia Baru agar secepatnya menuntaskan kasus ini sebagaimana aturan hukum yang berlaku. “Jangan kita bergerak di luar hukum, karena akan menimbulkan perpecahan diantara kita,” harapnya.

Ketua Sinode GPM Pdt. A.J.S. Werinussa juga mengutuk aksi penembakan itu karena telah mencederai peradaban umat manusia di bumi.

“Penembakan itu biadab. Apalagi kami bangsa Indonesia yang berfalsafah Pancasila dengan nilai kemanusiaan, kami menganggap tindakan itu adalah tindakan biadab yang merusak peradaban modern. Ketika nilai-nilai kemanusiaan dijadikan sebagai nilai yang menyatukan kita warga bumi dalam menghadapi bencana yang ada, tiba-tiba adanya tindakan itu bagi kami merupakan suatu tindakan yang perlu dikutuk oleh semua umat beragama,” tegasnya.

Warga Protestan, khususnya di Maluku, turut menyampaikan duka cita yang mendalam kepada keluarga yang menjadi korban dalam peristiwa tersebut. “Semoga para korban yang meninggal diterima disisi Tuhan Yang Maha Kuasa,” imbuhnya.

Werinusa mengimbau aparat keamanan menggunakan segala cara untuk menghentikan penyebaran video penembakan di dalam masjid tersebut. Sebab, peredaran video itu bisa mengganggu tali persaudaraan, baik di Maluku khususnya maupun di Indonesia.

“Persaudaraan itu sangat penting. Jangan kita terprovokasi. Kepada pemerintah pusat agar bisa menyampaikan nota diplomasi yang tegas kepada pemerintah Australia. Karena pelaku adalah warga Australia. Pelaku harus dihukum seberat-beratnya,” tegas dia.

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Maluku, Abdullah Latuapo mengimbau masyarakat Maluku menyikapi persoalan tersebut dengan pikiran yang bijak, arif dan hati yang tenang, agar keamanan, kedamaian, kerukunan umat beragama di Maluku selalu kondusif.

“Kita hidup bersama-sama sebagai orang basudara di Maluku. Bukan hanya kami tokoh agama, tapi masyarakat kami himbau agar bisa bekerja sama dengan TNI/Polri dan pemerintah untuk menciptakan kondisi aman dan nyaman di Maluku. Kita juga menghimbau kepada masyarakat agar video terkait penembakan itu jangan lagi disebarluaskan, karena itu bisa menyulut atau menimbulkan hal-hal yang tidak kita inginkan bersama,” ajaknya.

Pertemuan tokoh agama melalui Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) ini dipimpin Wakil Kapolda Maluku Brigjen Pol. Teguh Sarwono. Pertemuan itu juga dihadiri sejumlah organisasi mahasiswa dan kepemudaan.

Empat poin pernyataan sikap yang dilahirkan dalam pertemuan tersebut. Pertama, mengutuk dengan keras perbuatan keji berupa penembakan terhadap umat Islam yang sedang menjalankan ibadah di Selandia Baru. Perbuatan ini merusak citra kemanusian dan nilai-nilai keagamaan yang sejati.

Kedua, mendoakan para korban, keluarga dan sanak keluarga yang kehilangan orang-orang terkasih, semoga dikuatkan dan diberikan ketabahan, serta diterima di sisi Allah. Ketiga, mengimbau masyarakat dan umat beragama di Maluku maupun di Indonesia agar bersikap arif menyikapi persoalan tersebut. Tidak terprovokasi dan tetap menjaga suasana kedamaian sambil tetap berdoa agar masalah ini dapat diselesaikan secepat-cepatnya dan pelaku diberi sanksi seberat-beratnya.

Keempat, mendukung pemerintah Indonesia melakukan langkah-langkah diplomasi dan komunikasi untuk bersama-sama melawan terorisme dan turut menjaga keamanan dan ketertiban dunia sesuai amanat pembukaan Undang-Undang Dasar 1945.

Pernyataan sikap tersebut ditandatangani pimpinan tokoh agama yang hadir, yaitu Ketua MUI Maluku Dr. H. Abdullah Latuapo, Ketua Sinode GPM Pdt. A.J.S. Werinussa, Keuskupan Amboina MGR. Petrus Canisius Mandagi, Ketua Pengurus Harian PHDI Maluku I Nyoman Sukadana, Ketua Walubi Maluku Wilhemus Jauwerissa, dan Pengurus Matakin Maluku Kiki Tan. (CR1)

Penulis:

Baca Juga