Sekilas Info

Bentrok Warga di SBB, Satu Meninggal

ILUSTRASI

KABARTIMURNEWS.COM, AMALATU - Tiga kampung di Kecamatan Amalatu Kabupaten Seram Bagian Barat, terlibat bentrok. Tiga luka dan satu orang dilaporkan meninggal dunia.

Bentrokan melibatkan tiga kampung bertetanga, Negeri Latu, Desa Tomalehu dan Negeri Hualoy. Tiga warga terluka ditembak orang tidak dikenal menggunakan senjata api, dan seorang lainnya meninggal dunia.

Perang antarwarga kampung terjadi, Rabu (20/2) dini hari sekira pukul 03.00 WIT.

Tiga warga terluka adalah Jubair Riring. Pria 35 tahun ini mengalami luka tembak di dada kanan. Hamdan Patty (37) ditembak mengenai tangan kanan dan Tahir Patty (48) mengenai perut. Sementara korban meninggal, Taher Pellu (58).

Saling serang menggunakan senjata api dan bahan peledak antara tiga kampung ini juga mengakibatkan sejumlah fasilitas negara seperti dua unit rumah guru, dua bangunan SD Tomalehu dan Hualoy, serta satu bangunan SMP 11 Tomalehu terbakar. Kebakaran juga menimpa lima rumah warga.

Belum diketahui pasti penyebab sehingga bentrokan antarwarga yang masih memiliki hubungan keluarga ini bisa terjadi. Tapi hingga sore kemarin, situasi ketiga kampung sudah kembali kondusif. Arus lalu lintas dari dan menuju Masohi, Kabupaten Maluku Tengah yang sebelumnya lumpuh total saat bentrokan telah kembali normal dilalui kendaraan.

Hingga tadi malam, aparat gabungan TNI dan Polri masih mengamankan wilayah perbatasan ketiga kampung tersebut. “Korban meninggal dunia 1, luka-luka 3. Sementara dirawat di RSU. Situasi sudah terkendali. Dari Polda Maluku sudah membackup (keamanan) di sana,” kata Kabid Humas Polda Maluku, Kombes Pol Muhamad Roem Ohoirat di Ambon, kemarin.

Karo Ops Polda Maluku Kombes Pol Gatot Mangkurat telah berada di lokasi bentrokan. “Beberapa PJU, Polres SBB, Kodim Masohi ditambah aparat Satgas Rahwan juga berada di TKP. Jalan poros Trans Seram sudah terbuka. Masyarakat sudah bisa lewat,” ujar dia.

Roem mengimbau kepada warga tiga desa yang bertikai, baik di SBB maupun di mana saja berada agar dapat menjaga situasi dan kondisi keamanan agar cepat mereda. Menjaga agar peristiwa itu tidak merembet, yang pada akhirnya merugikan diri sendiri dan orang lain.

“Latu dan Hualoy ini bersaudara. Kita tahu bahwa Raja Latu, bapaknya Latu, mamanya Hualoy. Mari sama-sama menjaga situasi, kondisi keamanan agar secepatnya reda. Kasus seperti begini tidak ada yang menang dan tidak ada yang kalah. Yang ada adalah dua-dua sama-sama hancur dan sama-sama rugi,” pintanya.

Roem mengimbau masyarakat tidak mudah terpancing dan terprovokasi isu-isu yang ingin membuat kerukunan antara hidup orang bersaudara di SBB terganggu.

Juru Bicara Polda Maluku ini mengakui, bentrokan di SBB itu berawal dari kasus penganiayaan di Kota Ambon, hingga meluas ke kampung masing-masing. Kedua desa sempat memblokir jalan. Namun berhasil dibuka setelah mediasi antara warga dengan aparat kepolisian.

“Mungin ini karena ada provokasi dari pihak-pihak tertentu sehingga kasus yang tadinya tidak muncul, akhirnya muncul kembali. Ini yang sangat kita sayangkan. Saya berharap juga kepada basudara di Ambon jangan terpengaruh dengan situasi yang ada di sana,” harapnya.

Roem mengatakan, hingga saat ini, baik di Ambon maupun SBB, polisi telah melaksanakan pengamanan. Patroli di sejumlah wilayah lebih ditingkatkan. “Walaupun aparat sudah bersiaga, tapi masyarakat itu tidak mau hidup berdamai, selalu terprovokasi maka akan terus terjadi. Sekali lagi saya minta kepada masyarakat di Ambon tidak terprovokasi dengan kejadian di sana,” ajak mantan Kapolres Malra ini. (CR1)

Penulis:

Baca Juga