Sekilas Info

Huwae: Hasil Penelitian Butuh Akurasi, Tidak Asal

DOK/KABAR TIMUREdwin Huwaee

Soal Ikan di Pulau Ambon & Buru Tercemar Sianida

KABARTIMURNEWS.COM, AMBON - Pernyataan pakar kimia dan lingkungan Universitas Pattimura (Unpatti) Ambon, DR Justinus Male soal ikan di Pulau Buru dan Pulau Ambon sudah terkontaminasi bahan beracun mercuri dan sianida dinilai wajar dan sah-sah saja.

Namun, penelitian itu harus didasari fakta-fakta yang tentunya tidak hanya asal. Artinya, harus ada pertanggungjawaban seberapa benar dan akuratnya penelitian tersebut sebelum informasi itu disampaikan ke publik.

“Sah-sah saja ketika Pak Justinus mengatakan demikian. Namun, dalam rangka mempublikasikan satu hasil penelitian itu, seorang peneliti jangan asal saja. Harus punya tanggunjawab berkaitan informasi yang disampaikan ke masyarakat. Masyarakat butuh fakta seberapa benar dan akurat dari penelitian itu,”kata Ketua DPRD Provinsi Maluku, Edwin Adrian Huwae kepada wartawan di Baileo Rakyat Karang Panjang Ambon, Rabu (31/10).

Dia mengatakan, pernyataan DR Justinus Male disejumlah media lokal di Ambon beberapa waktu lalu menimbulkan keresahan masyarakat yang kemudian mereka (masyarakat-red) ragu dan takut mengkonsumsi ikan.

Selain dampak ke masyarakat, lanjut dia, statment itu juga bisa menurunkan nilai produk ikan Maluku di kancah internasional. Sebab, wacana ini akan menjadi pertanyaan besar bagi orang yang berada diluar Maluku.

“Kami ingin mendorong investasi dan membuka industri dari produk perikanan Maluku ini agar lebih baik, tapi disisi lain ada satu penilitian secara ilmiah yang bagi saya masih diragukan. Mestinya dampak inilah yang dari awal dipikirkan pak Justinus,”tandasnya.
Oleh karena itu, lanjut dia, DR Justinus Male harus secara terang-terangan menyampaikan ke publik. Bukan saja hasil penelitian itu disampaikan ke jurnal atau media akan tetapi yang bersangkutan menjelaskan pertanggungjawabannya ke masyarakat.

“Tidak sekedar asal pernyataan itu dimuat di media tapi pak Justinus harus keluar dan jelaskan ke publik. Apalagi, penelitian ini tidak atas nama Universitas Pattimura (Unpatti) Ambon namun atas nama pribadi,”pungkasnya.

Legislator Dapil Malteng itu mengaku, jika penelitian ini atas nama Unpatti Ambon, maka ini yang kemudian menjadi tugas kelembagaan untuk disikapi bersama Pemprov Maluku maupun Pemkab Buru. Hanya saja atas nama pribadi sehingga yang bersangkutan perlu untuk mempertanggungjawabkannya.

Meski demikian, Huwae mengajak masyarakat Maluku untuk tetap berfikir positif bahwa memang ada satu kejadian di tambang emas Gunung Botak, Kabupaten Buru yang berkaitan dengan penggunaan zat kimia berbahaya merkuri dan sianida.

“Mari kita berfikir postif. Tapi ini juga harus menjadi tugas pihak Unpatti Ambon, LIPI, Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Maluku serta DKP Buru untuk bisa membuktikan itu agar supaya tidak menimbulkan keresahan ditingkat masyarakat,”katanya.

Sebelumnya, pakar kimia dan lingkungan Universitas Pattimura (Unpatti) Ambon, DR. Justinus Male mengingatkan masyarakat Maluku khususnya di Pulau Buru dan Pulau Ambon agar jangan mengonsumsi kepala maupun tulang ikan karena sudah mengandung bahan beracun mercuri dan sianida.

“Bahan beracun seperti mercuri dan sianida itu biasanya mengendap di dalam sumsum tulang dan kepala ikan, sehingga kebiasaan mengonsumsi bagian ikan ini akan berbahaya untuk jangka panjang,” kata Justinus, di Ambon, Sabtu.

Peringatan yang disampaikan pakar lingkungan dan kimia ini bukan tanpa alasan, sebab hasil penelitian terhadap sejumlah sampel ikan, baik yang diambil dari pasar di Namlea, Kabupaten Buru maupun di perairan laut Latuhalat, Pulau Ambon sudah tercemar merkuri dan sianida.

Penelitian ini sudah dilakukan sejak 2015, pascamaraknya aktivitas penambangan emas ilegal di Gunung Botak, Gogorea, dan Anahoni yang menggunakan berton-ton mercuri dan sianida.

Langkah ini diambil Justinus dengan mengumpulkan dana sendiri melalui penjualan bazar roti karena tidak ada dukungan dana pemerintah provinsi(Pemprov) Maluku dan kabupaten Buru.

Menurut dia, limbah-limbah beracun dan berbahaya ini dibuang ke sungai anahoni dan Waeapu, selanjutnya mengalir sampai ke kawasan Teluk Kayeli yang banyak dikelilingi hutan mangrove.

Setelah mengendap di daerah hutan mangrove, endapan lumpur mengandung B3 ini dimakan mikroba-mikroba kecil, plankton dan zooplankton selanjutnya terjadilah proses rantai makanan yang berujung dimakan kepiting, ikan kecil dan ikan besar sampai akhirnya dikonsumsi manusia.

“Ikan dari perairan laut di sekitar Teluk Kayeli ini tidak selamanya menetap di sana, namun bermigrasi dan menyebar ke mana-mana sehingga kondisi seperti inilah yang membahayakan kesehatan manusia,” tandasnya.

Sehingga masyarakat diingatkan kalau membeli ikan segar di pasar, haruslah membuang kepala dan tulang serta isi perutnya karena di situlah mengedap bahan beracun mematikan. (MG3)

Penulis:

Baca Juga