Sekilas Info

Tekan Inflasi, BI Genjot Petani Bawang

Istimewa/Kabartimurnews

KABARTIMURNEWS.COM,AMBON - Salah satu pemicu inflasi di Provinsi Maluku berasal dari komoditas sayuran atau hortikultura. Untuk keluar dari masalah tersebut, Bank Indonesia (BI) Perwakilan Maluku menggenjot produksi petani dengan menambah luas lahan petani bawang merah di Desa Abean Kecamatan Kei Kecil, Kabupaten Maluku Tenggara (Malra).

“Inflasi ini berpengaruh pada ekonomi daerah. BI bekerja sama dengan pemerintah daerah membuka lahan kepada petani. Ya, kami harap hasilnya bisa mengendalikan inflasi yang terjadi di Maluku,” kata Kepala Tim Advesori dan Pengembangan Ekonomi BI Maluku, Andi Septobiwardo kepada Kabar Timur di Langgur, Malra, pekan kemarin.

Setelah menambah produksi lahan, BI Maluku bersama Pemda Malra juga memberikan bantuan berupa sarana dan prasarana, alat pertanian maupun pendampingan pelatihan kepada klaster yang dibentuk dari petani bawang merah.

Meski bantuan yang disalurkan BI melalui Tanggung jawab Sosial Perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR), tidak seberapa, tetapi jumlah yang diberikan sangat cukup untuk membantu para petani.

“Bantuan yang diberikan masih dibawah Rp 100 juta. Tapi nilainya saya rasa sangat cukup untuk membantu para petani bawang merah di desa Abean,” kata Andi.

Bantuan yang diberikan BI kepada petani bawang merah kini telah berhasil. Hasil produksi petani bahkan melebihi kebutuhan masyarakat Kota Tual maupun Malra.

“Kami sangat bangga karena hasil panen petani melebihi kebutuhan masyarakat Kota Tual dan Malra. Bahkan, petani sampai bingung ke mana bawang merah ini harus dijual,” ungkapnya.

Soal pemasaran yang masih terbatas, Andi mengungkapkan pihaknya sedang memikirkan kerjasama antar daerah. Kerjasama itu untuk menggaet kontributor dari setiap daerah agar bisa mengambil bawang merah dalam jumlah yang banyak dari hasil petani bawang merah di Malra.

“Memang petani bawang merah di Malra mengeluh karena pemasaran masih terbatas. Banyak bawang merah masih menumpuk di rumah para petani. Kami lagi mencari solusinya, akan berkoordinasi dengan daerah-daerah lain di Maluku untuk mencari kontributor bawang merah. Kalau harga bersaing, kami juga mengupayakan untuk didistribusi ke provinsi lain,” kata Andi.

Dia berharap, satu atau dua tahun ke depan, bawang merah hasil petani Malra bisa menguasai Maluku dan provinsi lain di Indonesia. (MG3)

Penulis:

Baca Juga