KABARTIMURNEWS.COM.AMBON-Kabar Timur telah melewati 12 tahun yang berliku. Dari masa jaya hingga masa penuh perjuangan.
Industri media cetak hari ini ibarat kapal yang sedang bertarung melawan gelombang pasang. Di tengah gempuran disrupsi digital yang tanpa ampun dan situasi ekonomi yang kian menyempit, Harian Kabar Timur membuktikan diri sebagai “karang” yang tetap berdiri tegak.
Tepat hari ini, Selasa, 6 Januari 2026, harian ini genap berusia 12 tahun sebuah angka yang melambangkan kematangan, ketangguhan, dan kesetiaan.
Momen satu dekade plus dua tahun ini tidak dirayakan dengan dentum pesta pora. Di Gedung Harian Kabar Timur, Senin, 5 Januari 2025, tadi malam, suasana justru terasa begitu syahdu dan emosional.
Seluruh kru berkumpul bersama sejumlah rekan-rekan media lainnya, dalam lingkaran doa syukuran yang dipimpin Ustadz Ibnu Jarir. Kesederhanaan acara tersebut seolah mengirimkan pesan kuat, bahwa ruh dari sebuah media bukan terletak pada megahnya seremonial, melainkan pada ketajaman pena dan ketulusan niat para awaknya.
Dua belas tahun perjalanan bukanlah waktu yang singkat, apalagi jika separuh perjalanannya harus dilewati dengan “napas yang tersengal” akibat dinamika global. Pimpinan Redaksi Harian Kabar Timur, Ongki Anakoda, memberikan refleksi yang sangat jujur sekaligus menyentuh hati.
Ia mengakui bahwa pasca-pandemi COVID-19, tantangan mengelola media cetak menjadi berkali-kali lipat lebih berat. Persaingan dengan platform digital yang serba cepat, ditambah seretnya perputaran ekonomi dari pusat hingga ke daerah, membuat bisnis media cetak harus memutar otak untuk sekadar bertahan hidup.
“Kami cukup terseok-seok,” ungkap Ongki tanpa basa-basi. Pengakuan ini bukan bentuk menyerah, melainkan sebuah realitas pahit yang justru menjadi fondasi kekuatan mereka. “Tapi kami terus yakin dan percaya, bahwa kerja-kerja dengan semangat yang solid akan memberikan dampak positif ke depan,” tambahnya.
Ada bagian yang sangat menarik dan menggugah dari pesan Ongki Anakoda malam itu. Ia menyinggung soal kondisi internal kru yang kini tak lagi “gemuk” seperti tahun-tahun sebelumnya. Namun, baginya, kuantitas bukanlah penentu kemenangan dalam pertarungan informasi.
“Kendati dengan kru yang ada saat ini tidak seperti sebelum-sebelumnya, meski kru kita makin ‘kurus’, itu tidak menjadi masalah. Yang terpenting adalah semangat untuk terus menghidupkan Kabar Timur,” tegasnya.
Pernyataan ini menjadi amunisi semangat bagi para kru. Bahwa meski dengan personel yang terbatas, Kabar Timur tetap harus hadir sebagai “suluh”—penerang di tengah kegelapan informasi, dan tetap menjadi corong publik yang kritis namun tetap menawarkan solusi bagi pembangunan di Maluku.
BADAI PASTI BERLALU
Semangat yang diusung dalam usia ke-12 ini adalah semangat optimisme yang realistis. Keyakinan bahwa Kabar Timur akan terus ada bukan sekadar angan-angan, melainkan janji untuk terus beradaptasi tanpa harus kehilangan jati diri.
Ongki menekankan bahwa energi terbesar Kabar Timur terletak pada dukungan kolektif seluruh kru. Dengan solidaritas yang tak tergoyahkan, ia percaya badai tantangan industri media ini akan bisa dilewati.
“Yakinlah, bahwa badai ini akan berlalu,” pesan Ongki, sebuah kalimat yang kini menjadi mantra penyemangat bagi setiap jurnalis dan staf di Kabar Timur.
Kabar Timur telah melewati 12 tahun yang berliku. Dari masa jaya hingga masa penuh perjuangan, media ini tetap memilih untuk berada di jalur kebenaran. Di usia yang baru ini, mereka tidak hanya merayakan hari lahir, tetapi merayakan keteguhan hati untuk tidak menyerah pada keadaan.
Bagi masyarakat Maluku, kehadiran Kabar Timur adalah jaminan bahwa suara-suara dari bawah akan terus terdengar. Bagi para kru, 12 tahun adalah pengingat bahwa sekecil apa pun timnya, selama nurani dan pena tetap menyatu, Kabar Timur akan tetap menjadi mercusuar informasi dari Timur Indonesia. (KT)


























