Bareskrim Usut Skandal Izin BPS di Gunung Botak

Aneka

Kasus Kekerasan Anak di Maluku Masuk Level Prihatin

badge-check


Kasus Kekerasan Anak di  Maluku Masuk Level Prihatin Perbesar

KABARTIMURNEWS.COM.AMBON-Angka kekerasan terhadap anak di Maluku dalam beberapa tahun terakhir terus meningkat dan kini berada pada level yang sangat memprihatinkan.

Bentuk kekerasan yang terjadi pun beragam—mulai dari fisik, psikis, seksual hingga penelantaran—menjadi potret buram kondisi perlindungan anak di daerah ini.

Kegelisahan atas situasi tersebut disampaikan AKP Imelda Haurissa, Kaur Penmas Bidang Humas Polda Maluku, dalam sebuah rilis yang diterima redaksi, Senin, 17 November 2025. Dengan pesan yang kuat dan menyentuh, ia menegaskan bahwa suara anak-anak Maluku kini bukan lagi keluhan lirih, tetapi jeritan yang menggugah nurani.

“Tolong kami… selamatkan masa depan kami,” tulisnya, menggambarkan betapa mengkhawatirkannya kondisi kekerasan terhadap anak dewasa ini.

Menurut AKP Haurissa, banyak anak hidup di lingkungan yang seharusnya memberi rasa aman, namun justru meninggalkan luka mendalam—entah terlihat maupun tersembunyi. Trauma, ketakutan, hingga hilangnya keceriaan menjadi kenyataan pahit bagi sebagian anak yang seharusnya tumbuh dalam kasih sayang.

“Ketika seorang anak berkata ‘Beta takut pulang’ atau ‘Jangan kase tinggal beta’, itu bukan sekadar keluhan. Itu adalah teriakan yang harusnya menggugah kita semua,” ujar Haurissa.

AKP Haurissa menegaskan bahwa perlindungan anak adalah kewajiban bersama—bukan hanya orang tua, tetapi juga negara, pemerintah daerah, penegak hukum, lembaga sosial, tokoh agama, tokoh adat, hingga masyarakat umum.

Menurutnya, setiap tindak kekerasan bukan hanya mencoreng keluarga, tetapi juga mencoreng wajah Maluku. Meski pemerintah dan aparat kepolisian terus memperkuat sistem perlindungan anak serta menindak tegas para pelaku, upaya tersebut mustahil maksimal tanpa dukungan masyarakat.

“Sikap diam atau pembiaran, adalah bentuk kekerasan baru,” tegas Haurissa.

Haurissa membayangkan, jika anak-anak diberi ruang untuk menyampaikan isi hati secara jujur, pesan mereka mungkin sederhana tetapi amat dalam. “Kami cuma mau rasa aman. Kami mau sekolah, bukan dipukul. Kami mau bermain, bukan dieksploitasi. Kami mau orang dewasa lindungi kami.”

Pesan-pesan tersebut, lanjutnya, seharusnya mampu menggerakkan kebijakan, mengubah perilaku, dan mengetuk hati seluruh masyarakat Maluku agar bertindak nyata.

Jika Maluku ingin tumbuh sebagai daerah yang damai, maju, dan penuh harapan, fondasinya harus dimulai dari perlindungan anak hari ini.

AKP Haurissa menegaskan bahwa setiap kasus kekerasan adalah bukti bahwa sistem perlindungan anak masih gagal. Namun setiap anak yang terselamatkan adalah tanda bahwa masa depan Maluku masih memiliki harapan.

“Dengarkan mereka, lindungi mereka. Berdirilah bersama mereka. Masa depan Maluku bukan milik kita—masa depan itu milik mereka, dan mereka memohon kepada kita hari ini,” tulisnya menutup rilis tersebut. (KT)

 

 

Tinggalkan Balasan

Baca Juga

Maluku-Ditjen SDA Perkuat Infrastruktur Air dan Ketahanan Kepulauan

13 Mei 2026 - 02:47 WIT

15 WNA China di Gunung Botak Maluku Terancam Dideportasi

13 Mei 2026 - 02:41 WIT

Dua WNA Pendaki Gunung Dukono Malut Ditemukan Meninggal Dunia

11 Mei 2026 - 02:44 WIT

Skandal Seragam Bank Maluku Rp17 Miliar: Bidik Tersangkan, Jaksa Kejar Pernyataan 250 Pegawai

8 Mei 2026 - 07:16 WIT

Korupsi PT Dok Waiame Ambon, Wilis Ayu Lestari dan Rekan Digarap Jaksa

8 Mei 2026 - 06:55 WIT

Trending di Maluku