KABARTIMURNEWS.COM.AMBON-Selama hampir tiga dekade, cerita tentang Sosoki (tradisi menangkap ikan komunal menggunakan rangkaian daun enau) hanya menjadi dongeng pengantar tidur bagi anak-anak di Desa Kampung Baru Sewale, Kecamatan Ambalau, Kabupaten Buru Selatan (Bursel).
Komunitas Budaya Rumah Film Walang Kreatif berhasil membangunkan kembali tradisi yang telah mati suri selama 28 tahun tersebut melalui sebuah proyek revitalisasi yang melibatkan seluruh elemen warga.
Praktik ramah lingkungan ini terakhir kali terlihat pada tahun 1998, sebelum akhirnya tenggelam ditelan zaman. Namun, Minggu, 17 Mei 2026, pesisir Ambalau kembali riuh.
“Alhamdulillah saya sangat termotivasi. Ini menjadi momen mengenal identitas budaya yang selama ini hanya saya dengar lewat kisah orang tua,” ungkap Alimudin Mahtelu (27), nelayan muda yang ikut merajut daun enau dari awal.
Bukan sekadar upacara seremonial, revitalisasi ini melibatkan anak-anak usia 8 tahun hingga pemuda usia 20-an tahun yang penuh semangat dan antusiasme.
Mereka turun langsung melaut dalam dua sif, yakni subuh hari pukul 04.00 – 06.00 WIT dan sore hari pukul 17.30 – 20.00 WIT, dengan harapan untuk melestarikan tradisi yang telah berlangsung selama beberapa generasi.
Kegiatan ini tidak hanya memberikan mereka pengalaman berharga dalam mengenal lingkungan laut, tetapi juga menanamkan rasa tanggung jawab terhadap kelestarian sumber daya alam.
Melalui kerja sama dan interaksi antar peserta, mereka belajar tentang pentingnya kolaborasi dan persatuan dalam mencapai tujuan bersama, sambil membangun ikatan yang kuat antar sesama generasi muda.
Menurutnya, tradisi unik ini hanya bisa ditemukan di Pulau Ambalau dan Pulau Nusalaut, Maluku Tengah (Malteng), yang merupakan dua pulau yang menyimpan banyak cerita dan budaya yang kaya.
Selain itu, masyarakat setempat menjaga keaslian tradisi ini dengan penuh cinta dan dedikasi, menjadikannya sebagai warisan tak ternilai yang patut dilestarikan.
Dengan keindahan alam yang memukau dan keramahan penduduk, kedua pulau ini tidak hanya menawarkan pengalaman budaya yang mendalam, tetapi juga keindahan alam yang menawan bagi siapa pun yang berkunjung. 
Ketua Rumah Film Walang Kreatif, Abdul Latif Fakaubun, mengaku haru sekaligus bangga atas kerja kolektif ini. Agar kearifan lokal ini tidak kembali hilang, pihaknya mendokumentasikan seluruh prosesi ke dalam film dokumenter dan buku.
“Ini sarana edukasi visual modern agar nilai gotong royong “Sosoki” bisa ditransmisikan ke generasi penerus,” jelas Abdul Latif.
Ia juga mendesak Kementerian Kebudayaan RI untuk segera menetapkan “Sosoki” sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) demi mendapatkan perlindungan hukum.
Langkah Walang Kreatif ini mendapat dukungan penuh dari akademisi Universitas Pattimura, John Pattiasina.
Menonton langsung prosesi di bawah gerbang ikonik ‘Yoma Suli’, John menyebut “Sosoki” adalah jawaban atas tantangan ekonomi pesisir hari ini.
Dikatakan, saat hasil panen cengkeh di darat tidak menentu, laut dengan metode “Sosoki” hadir sebagai penyelamat berbiaya rendah yang tidak merusak alam.
Metode ini tidak hanya memberikan alternatif dalam mengatasi ketidakpastian hasil panen, tetapi juga menjaga ekosistem laut tetap seimbang. Dengan penerapan teknik yang ramah lingkungan, para petani bisa mendapatkan hasil yang memuaskan tanpa harus khawatir akan dampak negatif terhadap lingkungan.
Selain itu, metode “Sosoki” juga membuka peluang baru bagi komunitas lokal untuk berinovasi, meningkatkan taraf hidup, dan memperkuat ketahanan pangan daerah. Dengan cara ini, keberlanjutan sumber daya alam dapat terjaga, dan generasi mendatang bisa terus menikmati hasil bumi yang kaya dan beragam. 
“Namun esensi sejati “Sosoki” melampaui urusan ekonomi. Di sana ada nilai kebersamaan, persaudaraan, dan keuletan,” tegas John.
Di sisi lain, Sekretaris Kecamatan Ambalau, Bahrun Mahtelu, mengingatkan aset wisata bahari sekaya ini tidak boleh dibiarkan berjalan sendiri tanpa komitmen pemerintah daerah dan pusat.
Pihak kecamatan berjanji akan segera berkoordinasi dengan pemerintah desa untuk mengawal ketat aset budaya yang langka ini.
Pagi dan sore itu, Ambalau tidak hanya berhasil menangkap ikan. Mereka berhasil menangkap kembali identitas mereka yang sempat hilang, membuktikan masa depan kelestarian laut justru ada pada kebijakan masa lalu. (KTE)


























