KABARTIMURNEWS.COM.AMBON-Maluku bukan lagi sekadar wilayah kepulauan yang tenang. Data terbaru dari Kanwil DJBC Maluku menunjukkan bahwa wilayah ini sedang bertransformasi menjadi motor baru ekonomi nasional.
Sepanjang tahun 2025, Bea Cukai Maluku mencatatkan angka-angka fantastis yang melampaui ekspektasi pasar.
Kepala Kanwil DJBC Maluku, Estty Purwadiani Hidayataie, mengungkapkan angka yang bikin geleng-geleng kepala: Rp6,912 triliun berhasil dikumpulkan hanya dari pajak impor.
Sementara itu, penerimaan bea cukai sendiri tumbuh 35,01 pernsen dibanding tahun sebelumnya, mencapai Rp613,8 miliar.
Ini sinyal kuat bahwa aktivitas industri di Maluku sedang “ngegas”, terutama di sektor yang membutuhkan mesin dan bahan baku dari luar negeri.
Yang paling menarik bagi para analis ekonomi adalah data investasi. Melalui fasilitas Kawasan Berikat, Maluku sukses mengawal 16 perusahaan dengan total nilai investasi mencapai Rp365 triliun.
“Ini bukan sekadar angka di atas kertas. Fasilitas kepabeanan yang kita berikan adalah karpet merah untuk pertumbuhan ekonomi lokal,” ujar Estty.
Sektor ekspor juga menunjukkan ototnya dengan pengumpulan devisa sebesar 14,812 miliar dolar AS, membuktikan produk Maluku semakin laku di pasar global.
Tak hanya bermain di level korporasi besar, Bea Cukai Maluku juga “turun gunung” membina 35 pelaku UMKM untuk bisa go export. Namun, di sisi lain, ketegasan tetap jadi prioritas. Sebanyak 151 penindakan cukai dilakukan sepanjang 2025, termasuk penyitaan ratusan ribu batang rokok ilegal.
Strategi yang digunakan pun modern: Keadilan Restoratif. Artinya, penegakan hukum tidak hanya sekadar menghukum, tapi memastikan penerimaan negara kembali melalui mekanisme yang efektif.
Memasuki 2026, tantangan belum usai. Kondisi geografis Maluku yang luas menuntut sinergi antar-instansi yang lebih kuat. Bea Cukai Maluku kini fokus pada percepatan fasilitas ekspor untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi agar tidak melambat di tengah dinamika fiskal global. (KT)