Bareskrim Usut Skandal Izin BPS di Gunung Botak

Nasional

Kesaksian Bocah di NTT Bunuh Diri, “Sa Mau Minta Uang Beli Buku”  

badge-check


     Kesaksian Bocah di NTT Bunuh Diri, “Sa Mau Minta Uang Beli Buku”   Perbesar

KABARTIMURNEWS.COM.JAKARTA-Berita soal kematian bocah YBR di Kabupaten Ngada ramai jadi pembicaraan belakangan. Bagaimana sedianya kejadian tersebut? Benarkah ada persoalan ekonomi dan pendidikan di baliknya?

Pondok di Desa Batajawa, Kecamatan Jerebuu, Ngada, itu bukannya besar sangat. Hanya tiga kali empat meter luas bangunannya. Dinding-dindingnya dari bambu.

Di dalamnya, tinggal berdesak-desakan Oma Welu bersama empat cucunya. Sekitar lima meter dari pintu depan rumah, ada pohon cengkeh. Satu dari beberapa yang dibiakkan empunya lahan.

Kamis (29/1/2026) pagi, YBR, usia 10 tahun siswa kelas IV SD, terlihat duduk di pintu pondok tersebut. “Bastian! Kenapa tidak pergi sekolah!?” tanya seorang warga yang melintas sekitar pukul 08.00 WIT.

Sa sakit, Om,” jawab sang anak.

Setengah jam kemudian, melintas lagi warga lainnya. “Bastian, kau tidak sekolah!?” ia melayangkan pertanyaan yang sama.

“Sakit, Om,” ujarnya seraya memegang dahi. Ia terlihat murung dan merenung saat itu.

Agak siang sedikit, sekitar pukul 11.00 WIT, datang lagi warga yang hendak mengikat kerbau. Sang anak sudah tak di depan pintu. Ia tergantung di pohon cengkeh depan pondok. Dan gegerlah sekampung itu. Geger yang kemudian meluas ke satu negara.

Philipus Jio, kepala desa Batajawa mengaku kenal dekat dengan anak tersebut. “Dia sering main-main ke rumah. Kalau lagi ada, kita kasih makan juga,” ujarnya saat dihubungi Republika, Rabu.

Rumah Om Lipus, sapaan akrabnya, hanya sekitar 100 meter dari pondok sang nenek. “Dulu kita juga yang bantu membangun itu pondok,” kata dia.

YBR, inisial sang anak yang kini beritanya mengudara di mana-mana, setahu Om Lipus adalah bocah yang cerdas. “Guru-guru dia cerita begitu. Dia pintar, nilainya bagus-bagus juga,” tuturnya.

Om Lipus ingat, ia terakhir kali bertemu dengan YBR pada Rabu (28/1/2036) silam. Saat itu, YBR hendak ke rumah ibunya di Desa Naruwolo, sekitar 3,5 kilometer dari pondok sang nenek.

Sehari-hari, YBR dan saudara-saudarinya tinggal dengan sang nenek karena kondisi ekonomi keluarga mereka. Ayahnya sudah pergi merantau dan tak berkabar sejak YBR masih dikandungan.

“Ke Kalimantan kerja di sawit macam orang-orang,” kata Om Lipus. Sekitar 20 laki-laki dari desa itu yang saat ini tengah merantau.

Sang ibunda, kata dia, bekerja serabutan sebagai buruh panggil. Bekerja saat ada panggilan untuk bersih-bersih atau memanen kemiri, cengkeh, dan pala. Hanya dapat Rp 50 ribu per hari dengan kerja yang kadang-kadang ada lebih sering tidak tersebut.

Kondisi itu membuat anak-anaknya kerap dititipkan ke sang nenek yang usianya kini sudah lebih 80 tahun. Sehari-hari, sekeluarga itu kerap mengonsumsi umbi-umbian belaka.

Om Lipus menuturkan, ia sempat menanyakan tujuan YBR mengunjungi mamanya. “Saya ketemu sore-sore, dia bilang ‘Sa mau minta uang sama Mama. Minta uang buat beli bolpoin, buku tulis, buat uang sekolah juga’,” kata Om Lipus.

Sepahamnya, malam itu YBR menginap di rumah mamanya. Baru pagi-pagi kembali ke rumah sang nenek dan tak lama kemudian berpulang.

Om Lipus menuturkan, ia mendengar kabar soal kejadian dari sekretaris desa yang dilapori warga. Ia yang tengah di balai desa langsung bergerak ke lokasi kejadian.

Orang-orang sudah ramai di sana. “Kami sudah coba selamatkan. Saya yang coba dengar sendiri dia masih napas tidak, siapa tahu bisa tolong, tapi terlambat,” ujarnya.

Menurut Om Lipus, baru sekitar dua jam kepolisian dari Polres Ngada tiba di lokasi. “Memang jauh, jaraknya 40 kilometer.”

Atas kejadian di kampungnya, Om Lipus mengiba pada pemerintah. “Tolong perhatikan anak-anak telantar yang kurang kasih sayang dari orang tua ini. Perhatikan biaya pendidikan dan ekonomi mereka,” kata dia.

Sementara tak jauh dari YBR, warga menemukan juga secarik kertas dari buku tulis. Ia pesan dalam bahasa setempat: “Kertas Tii Mama Reti. Mama galo zee, Mama molo ja’o. Galo mata mae rita ee Mama. Mama jao galo mata. Mae woe rita nee gae ngao ee. Molo Mama.”

“Surat buat Mama Reti. Mama jangan pelit-pelit. Mama baik-baik sudah. Kalau saya pergi jangan menangis ya, Mama. Mama saya pergi, jangan menangis, jangan mencari saya. Selamat tinggal Mama.”

Kapolda NTT Irjen Pol Rudi Darmoko mengakui motif Utama anak bunuh diri di NTT diduga kuat karena faktor ekonomi dan rasa kecewa. Namun polisi masih melakukan penyelidikan untuk memastikan kebenarannya.

“Motif utama karena hal itu namun masih didalami. Untuk sementara, sesuai dari hasil penyelidikan awal dan olah TKP karena kekecewaan tapi masih didalami lagi,” ujar Kapolda NTT.

Hasil olah TKP dan laporan awal menunjukkan bahwa tindakan korban yang masih duduk di sekolah dasar kelas IV itu karena masalah ekonomi. Korban ditengarai bunuh diri lantaran tak bisa membeli buku.

Bocah kecil itu ditemukan tewas dengan posisi tergantung pada pohon cengkeh pada Kamis (29/1) di Karadhara, Desa Nenowea, Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada.

Kapolda NTT telah mengirim konselor psikologi untuk memberikan pendampingan terhadap keluarga, khususnya orang tua dari siswa kelas IV SD. “Tim sudah ke Kabupaten Ngada hari ini dan memberikan pendampingan serta penguatan bagi keluarga korban,” kata Kapolda NTT di Kupang, Rabu.

Tim yang dikirim tersebut terdiri dari Kabag Psikologi Biro SDM Polda NTT Kompol Dwi Chrismawan bersama Kasubbag Psipol Bagian Psikologi Biro SDM Kompol Prasetyo Dwi Laksono dan Bamin Bagian Psikologi Biro SDM Polda NTT Bripda Yoseph Alexander Rewo

Konseling dan pendampingan akan dilakukan tim mulai Rabu (4/2) sampai dengan Minggu (8/2) di Karadhara, Desa Nenowea, Kecamatan Jerubuu, Kabupaten Ngada. “Tim melakukan pembinaan dan pendampingan mental kepada keluarga korban,” ujar Kapolda NTT.

Dia menambahkan kejadian siswa kelas IV SD di Kabupaten Ngada, NTT bunuh diri dengan cara gantung diri menjadi perhatian serius.

Pascakejadian ini, Kapolda NTT memerintahkan Kapolres Ngada, AKBP Andrey Valentino menemui keluarga korban.

“Saya sudah perintahkan Kapolres Ngada ke kediaman orang tua korban,” katanya sambil menyatakan melalui Kapolres Ngada, Polda NTT menyalurkan bantuan material dan dukungan moril.

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menyatakan akan menyelidiki insiden tragis seorang siswa SD di NTT. “Nanti coba kita selidiki ya. Saya belum tahu informasinya,” kata Mendikdasmen Abdul Mu’ti menjawab pertanyaan wartawan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa.

Mu’ti mengaku belum mendapat informasi mengenai peristiwa tersebut. “Saya belum tahu, nanti kita selidiki lagi ya penyebabnya apa dan sebagainya,” kata dia dikutip Antara.

Sementara itu, Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf menyatakan rasa keprihatinannya terhadap insiden memilukan itu. Gus Ipul, sapaan akrab Saifullah Yusuf menegaskan insiden yang dialami anak tersebut menjadi perhatian pemerintah, khususnya Kemensos.

“Kami prihatin, turut berduka. Tentu, ini menjadi perhatian, menjadi atensi kita bersama, tentu bersama pemerintah daerah. Kita harus memperkuat pendampingan, kita harus memperkuat data kita. Ya kita harapkan tidak ada (keluarga miskin dan miskin ekstrem, red.) yang tidak terdata,” kata Gus Ipul.

Dia menekankan pentingnya membangun basis data Kemensos agar menjangkau seluruh keluarga di Indonesia, termasuk keluarga-keluarga yang berada di kategori miskin ekstrem (desil-1), dan kategori miskin (desil-2).

“Ini hal yang sangat penting. Saya kira kembali kepada data. Bagaimana data ini kita saksikan sebaik mungkin sehingga kita bisa menjangkau seluruh keluarga-keluarga yang memang memerlukan perlindungan, memerlukan rehabilitasi, dan memerlukan pemberdayaan,” ujar dia. (ROL)

Tinggalkan Balasan

Baca Juga

Baznas RI Tetapkan Zakat Fitrah Rp50 Ribu Pada Ramadhan 1447 H

5 Februari 2026 - 11:05 WIT

Prabowo Bakal Evaluasi Program Satu Tahun Pemerintahan di Rakornas

2 Februari 2026 - 12:39 WIT

Pakar Ungkap Alasan Iran Sulit Diusik Negara Manapun, Termasuk AS

1 Februari 2026 - 02:49 WIT

Dahnil: Petugas Haji Harus Tanggalkan Jabatan dan Fokus Layani Jamaah

29 Januari 2026 - 16:33 WIT

Ini Profil Delapan Anggota DEN Unsur Pemangku Kepentingan Yang Dilantik Presiden Prabowo

29 Januari 2026 - 01:46 WIT

Trending di Nasional