KABARTIMURNEWS.COM.TEHERAN-Iran dilaporkan menggunakan teknologi militer bantuan Rusia untuk memblok Starlink.
Pada 8 Januari 2026, Pemerintah Iran mematikan total jaringan internet sebagai respons atas demonstrasi warga yang menjelma menjadi kerusuhan di berbagai kota. Segera setelah internet dimatikan, 90 persen lalu lintas komunikasi dunia maya di Iran berhenti.
“Sambungan internasional di Iran terblok dan jaringan ponsel dalam negeri tak berfungsi,” ujar ahli hak-hak digital Iran, Amir Rashidi dikutip the Guardian, belum lama ini.
Bagi Rashidi skala pemblokiran internet kali ini belum pernah terjadi di Iran sebelumnya dan bahkan menurutnya lebih parah dari demo besar pada 2019.
Di mana saat itu banyak ahli menggambarkan sebagai momen pemutusan internet terparah yang belum pernah mereka rasakan di negara manapun.
“Tidak ada penerimaan (sinyal) oleh ponsel. Tidak ada antena. Seperti anda tinggal di tengah antah berantah tanpa menara BTS,” kata Rashidi.
Bahkan, upaya Starlink, perusahaan telekomunikasi satelit milik Elon Musk membantu para demonstran dengan menggratiskan layanan, tak mampu menembus langit Iran.
Jika pada masa demo kematian Mahsa Amini pada 2022, Starlink menjadi satu-satunya “garis kehidupan” untuk warga Iran, kondisinya kali ini jauh berbeda. Internet di Iran sekarang mati total kecuali untuk kalangan pemangku kekuasaan.
Kala warga seantero Iran tak mendapatkan sinyal internet, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei terus menggungah pesan di X. Pada Jumat pekan lalu saja contoh, Khamenei 12 kali mengunggah pesannya di X, termasuk cuitan-cuitan yang ‘menyerang’ Presiden AS Donald Trump.
Menurut ahli infrastruktur internet, Doug Madory, kondisi di Iran kali ini berbeda dengan momen pemutusan internet yang pernah terjadi sebelumnya.
Pemblokiran internet di Iran sekarang, menurut Madoy, lebih seperti aksi sapu bersih tapi tetap menyediakan saluran untuk kepentingan tertentu.
BELAJAR DARI MESIR
Baik Rashidi dan Madoy menilai, pemerintah Iran seperti belajar dari pengalaman Mesir pada 2011. Saat itu, langkah pemerintahan Hosni Mubarak memutus total jaringan internet malah menjadi bumerang karena pihak-pihak pemilik otoritas di pemerintahan juga sama sekali tidak bisa saling berkomunikasi.
“Jika anda melihat apa yang pernah terjadi di Mesir… pemerintah tidak bisa beroperasi,” kata Madory.
“Masyarakat benar-benar menggunakan internet untuk banyak hal, dan saat jaringan diputus, semua aktivitas berhenti.”
Atas dasar itu, Madory dan Rashidi meyakini, pemerintah Iran saat ini membuat daftar putih (whitelist), menyeleksi pihak-pihak yang tetap bisa mengakses internet, termasuk sejumlah pejabat dan institusi di pemerintahan.
Rashidi mencontohkan, beberapa kanal Telegram tetap aktif, yang mengindikasikan para pejabat pemerintahan tetap bisa menggunakan layanan internet.
Pada Jumat lalu, pemerintah sempat melonggarkan pemblokiran internet untuk laman-laman universitas, namun kemudian diputus lagi setelah beberapa jam. Semua itu, kata Madory, mengindikasikan pemerintah menggunakan alat atau teknologi tertentu untuk mensensor internet.
“Jika mereka mengimplentasikan sebuah sistem daftar putih, dan itu berjalan sesuai rencana maka itu bisa membuat mereka mengoperasikan sistem itu pada level satu negara dalam periode waktu tertentu,” kata Madory.
Rashidi dan Madory menambahkan, Iran selama beberapa tahun terakhir berupaya untuk meningkatkan kemampuan sensor terhadap internet, membangun layanan pengiriman pesan singkat internal mirip dengan yang dimiliki China di mana masyarakat tetap bisa berkomunikasi di dalam negeri namun akses internetnya dengan dunia luar terputus.
Seperti India yang tengah membangun satu aplikasi yang bertujuan untuk menyaingi WhatsApp, sementara Rusia juga tengah mengembangkan ‘super app’ yang sama seperti WeChat milik China.
STARLINK TAK BERFUNGSI
Dalam artikelnya pada Senin (12/1/2026), Forbes melaporkan bahwa mereka belum pernah melihat apa yang terjadi di Iran sebelumnya. Pemutusan jaringan internet oleh Iran saat ini menggunakan sistem pemblokir sinyal militer yang diduga dipasok dari Rusia. Hasilnya, Iran berhasil melumpuhkan Starlink, layanan internet satelit yang digratiskan oleh Elon Musk untuk para demonstran.
“Meski dilaporkan puluhan ribu unit Starlink beroperasi di dalam Iran. Pemblokiran juga berdampak pada sambungan via satelit,” demikian laporan Iran Wire dilansir Forbes.
Pada Jumat lalu, awalnya dilaporkan 30 persen dari lalu lintas internet Starlink terganggu, lalu meningkat hingga 80 persen pada beberapa jam selanjutnya. Menurut Times of Israel, “jumlah unit antena dan router Starlink di Iran saat ini lebih banyak daripada era pemblokiran internet sebelumnya (2019 dan 2022).” Tetapi, para pengguna tidak dapat memperloleh sambungan internet ke satelit.
“Sejak perang 12 hari dengan Israel pada Juni, Iran telah mendisrupsi sinyal GPS,” demikian laporan Times of Israel.
Itu artinya, pemutusan internet bersifat lokal, dan mengakibatkan sambungan internet Starlink bersifat tambal sulam, bahkan mati total di sejumlah area. Pemblokiran Starlink secara terlokalisasi dikonfirmasi oleh NetBlocks.
Kelompok pemantau Alp Toker kepada Times of Israel pada Senin mengatakan bahwa akses ke Starlink didisrupsi tetap masih tersedia di beberapa area.
“Meski tidak jelas bagaimana layanan Starlink bisa didisrupsi di Iran, beberapa ahli mengatakan, itu bisa terjadi akibat jamming dari terminal Starlink yang melemahkan kemampuan penerimaan sinyal dari satelit,” demikian laporan Times of Israel.
Beberapa unggahan di media sosial meyakini bahwa tekonologi militer Rusia diimpor ke Iran pada beberapa bulan terakhir yang mengakibatkan Iran mampu mengganggu atau merusak GPS dan sinyal satelit lain.
Channel 4 News menggambarkan aktivitas Rusia sebagai sebuah “perlombaan teknologi dengan Starlink” dengan menduga, “diketahui (Rusia) mengerahkan truk-truk radio untuk mendisrup sinyal satelit”.
Menurut NetBlocks, hingga Senin malam. “Internet Iran telah mati selama 96 jam.” “Otoritas Iran terbukti mereka mempersiapkan saluran internet sebagai senjata. Jika 2019 menjadi indikasi, rezim bisa mempertahankan pemblokiran internet hingga berhari-hari,” tulis NetBlocks. ( ROL)