Pihaknya juga menargetkan, di tahun 2019 mendatang, akan meningkatkan Indeks Penanaman (IP) melalui perbaikan jadwal tanam. “Kita juga targetkan, kalau di Jawa, IP nya 200 yaitu 2 kali tanam, maka kita targetnya 3 kali yang musim tanamnya dimulai pada bulan April,” ucapnya.
Untuk pemasaran hasil petani, pihaknya mempercayakan ketangguhan petani dalam bernegosiasi di pasar. Namun demikian pihaknya tidak begitu saja membiarkan petani sendiri mencari pasar.
“Yang jelas, kami akan membantu petani dalam memasarkan hasil mereka. Ada beberapa distributor yang sudah mulai mendekati. Kami juga berharap Distan Provinsi Maluku dapat membantu petani untuk berkoordinasi dengan dinas terkait di Ambon baik Bulog, Perindag maupun dengan pemasok/distributor untuk mengatasi over stock yang terjadi pada petani kami,” ungkapnya.
Dengan demikian, kata dia, cita-cita menjadikan “Maluku Tenggara Mutiara Baru Sentra Bawang Merah di Indonesia Timur” dapat terwujud. “Kami optimis petan akan menguasai pasar Maluku Tenggara dan Kota Tual Tahun 2018 dan akan menguasai pasar Maluku Tahun 2019,” tandasnya.
Sementara itu, salah satu petani yang diwawancarai, Paulus Ohoirat mengatakan, dirinya sangat berterimakasih kepada pemerintah. “Ini untuk pertama kali, kami menerima bantuan bibit bawang, yang mana dari hasil panen ini, nantinya bisa membantu kebutuhan hidup kami sehari-hari,” paparnya.
Dia katakan, dirinya akan terus mengembangkan bawang sebagai mata pencahariannya. “Kami ingin berkebun. Saat ini ibu, bapak telah meliat kami sudah berhasil, sehingga kami berharap adanya perbaikan sarana prasarana dan infrastruktur lainnya seperti bak penampung air untuk mengatasi kekeringan,” tandasnya.
Hal yang sama juga disampaikan oleh salah satu petani bernama Tobi. Dirinya mengakui bisa menghidupi keluarganya dari hasil panen bawang ini. “Memang sudah ada pemasok yang mendekati beta. Pemasok itu dari salah satu daerah di Maluku Tenggara Barat,” ungkapnya.
Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultra, Dinas Pertanian Kab.Malra, Amin Latuconsina mengatakan, kegiatan pengembangan penanaman bawang merah di Kabupaten Malra pada tahun 2018 seluas 40 Hektar.
Menurutnya, bawang merah di Kecamatan Kei, sudah dipastikan kontinuitas penanaman secara berkelanjutan. “Sudah terbukti kualitas panen di sini terjamin, harga bersaing dengan Jawa Timur dan Sulawesi,” ujar Amin mempromosikan bawang petani setempat.
Dia juga menambahkan, dari pengembangan sentra bawang merah di ketiga desa tersebut melibatkan 75 Kepala Keluarga (KK). ”Dengan harapan penghasilan per KK per bulan diatas 5 juta, selain itu dapat menyerap tenaga kerja 19.000 HOK per tahun,” beber Amin.
Tim TP4D yang diturunkan bersama Distan Maluku ini sebanyak dua orang, untuk melihat langsung kegiatan pembangunan yang berkaitan dengan kesejahteraan rakyat. Sebagaimana diketahui Distan Maluku, telah menandatangani Memorandum of Understunding (MoU) dengan Kejati Maluku dalam rangka pengawalan proyek pembangunan.
(KT)


























