KABARTIMURNEWS.COM.AMBON-Menyongsong fajar Ramadhan 1447 Hijriah, suasana di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Ambon terasa jauh lebih sejuk dan penuh khidmat.
Tak sekadar menjalani masa pidana, para Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) kini tengah menyelami program pembinaan rohani intensif selama 30 hari penuh.
Langkah besar ini merupakan upaya serius pihak Lapas untuk memperkuat mental spiritual sekaligus membentuk karakter baru yang lebih agamis bagi setiap warga binaan.
Geliat perubahan ini sebenarnya sudah dimulai sejak persiapan menyambut bulan suci. Dipimpin langsung Kepala Lapas Kelas IIA Ambon, Hendra Budiman, seluruh lingkungan lapas dibersihkan secara masif sebagai simbol kesiapan hati.
Aksi bersih-bersih ini mencakup segala sudut, mulai dari pengepelan lantai masjid, pengecatan dinding yang mulai kusam, hingga pencucian dan penataan karpet serta tempat wudhu.
Semua dilakukan dengan satu tujuan mulia: memastikan para jamaah merasa nyaman dan tenang saat bersimpuh di hadapan Sang Pencipta selama sebulan penuh.
Memasuki rutinitas harian di bulan puasa, Lapas Ambon seolah menjelma menjadi sebuah pesantren besar.
Dari waktu ke waktu, area lapas riuh dengan aktivitas keagamaan yang terjadwal rapi, mulai dari pelaksanaan shalat tarawih berjamaah yang dilanjutkan dengan tadarus Al-Qur’an setiap malamnya.
Program tadarus ini menjadi sangat krusial agar para warga binaan dapat mendalami dan mengilhami setiap tuntunan ayat suci serta sunnah Nabi Muhammad dalam perjalanan hidup mereka yang baru.
Menjelang senja, suasana semakin hangat dengan hadirnya sesi kultum atau kuliah tujuh menit yang menghadirkan para dai kompeten.
Di sana, para warga binaan diberikan suntikan tausiah untuk memperdalam pemahaman agama sekaligus memperkokoh mental mereka.
Tidak berhenti di situ, rutinitas ibadah juga mencakup buka puasa dan sahur bersama, zikir berjamaah setelah shalat lima waktu, hingga pembinaan akhlak yang dievaluasi setiap harinya oleh petugas pembinaan.
Kalapas Hendra Budiman menegaskan bahwa momentum Ramadhan ini adalah sarana introspeksi yang paling efektif.
Harapannya sangat jelas, agar para warga binaan tidak hanya melewati waktu di dalam sel, tetapi benar-benar memanfaatkan perjalanan spiritual ini untuk lebih mengandalkan Tuhan dalam setiap langkah ke depan.
Melalui komitmen pembinaan kepribadian yang menyeluruh ini, Lapas Ambon berharap saat mereka kembali ke masyarakat nanti, mereka tidak hanya membawa raga yang merdeka, tetapi juga jiwa yang telah bertransformasi menjadi pribadi yang lebih baik dan bermanfaat. (AN/KT)