KABARTIMURNEWS.COM, AMBON – Meskipun gaji guru tingkat SD dan SMP di wilayah Kecamatan Salahutu dan Leihitu dan Kabupaten Maluku Tengah (Malteng) telah terbayarkan, namun sebagian besar guru berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS) tetap saja resah.
Penyebabnya gaji guru dibayarkan pada pekan ketiga bulan berjalan. Sudah begitu gaji guru dipotong tanpa alasan yang jelas.
Salah satu guru SD di wilayah Kecamatan Leihitu menuturkan, setelah bendahara UPTD Leihitu dipimpin Mohtar Muhammad, pembayaran gaji guru kerap mengalami keterlambatan. Hal itu berbeda saat Ratna Latarisa menjabat bendahara UPTD Kecamatan Leihitu.
“Gaji bulan Oktober baru kita terima pada 27 November 2018. Dan itu kita maklumi saja karena adanya pengalihan dari masing-masing sekolah ke bank atas nama pribadi guru. Tapi untuk gaji November ini, kita baru terima pada 14 Desember 2018, itu juga terjadi pemotongan bahkan di atas Rp 1 juta,”jelasnya.
Sementara di masa Ratna Latarissa, gaji guru SD maupun SMP sudah bisa diperoleh sekitar tanggal 7 atau 8 bulan berjalan.
“Ini tergantung bendahara. Jika bendahara bekerja cepat ya gaji yang kita terima juga cepat. Tapi dia (Mohtar) malas masuk kantor dan sedikit acuh dengan hak kami,” geram guru yang menolak namanya diberitakan kepada Kabat Timur, kemarin.
Guru SD lainnya juga mengaku kecewa dengan prilaku yang ditunjukan Mohtar Muhamad. Betapa tidak, ketika didatangi untuk ditanya soal pemotongan gajinya sebesar Rp. 800 ribu, Mohtar tidak berada di tempat.
Nomor telepon genggamnya juga tidak aktif. Ketika aktif, apa yang ditanyakan tidak pernah direspon Mohtar. “Kan harus dijelaskan supaya kita tahu pemotongan gaji ini untuk apa. Ironisnya, bukan hanya saya tapi sebagian besar guru SD maupun SMP di wilayah Leihitu mengalami hal yang sama,” kesalnya.



























