Sekilas Info

Sambangi Kabar Timur, Kapolda: Polusi Udara itu Sampah

RUZADY ADJIS/KABAR TIMURnews

KABARTIMURNEWS.COM,AMBON -Kepala Polda Maluku Inspektur Jenderal Polisi Royke Lumowa, didampingi Irwasda Maluku Kombes Pol. Purwolelono dan Direktur Krimsus Kombes Pol. Firman Nainggolan, sambangi kantor Harian Kabar Timur di Jalan Mutiara Mardika, Kecamatan Sirimau Kota Ambon, Senin (24/9).

Kunjungan silaturahmi itu membicarakan berbagai persoalan yang terjadi dan gagasannya membangun Maluku kedepan. Diantaranya penanganan kemacetan lalu lintas, polusi udara, pembinaan dan pelatihan di Sekolah Sepak Bola, serta beragam program lainnya.

Kapolda mengaku, perparkiran yang berlaku di Kota Ambon, banyak kecualinya. Sehingga aturan tersebut malah menimbulkan kemacetan. “Kita akan lihat perparkiran. Disini banyak kecualinya. Kecuali mobil, kecuali bapak itu. Ini kan sudah macet,” kata Lumowa bercanda.

Khusus Polda Maluku, mantan Kakor Lantas Polri ini akan menerapkan aturan kepada jajarannya agar tidak membawa kendaraan saat menjalankan tugas. Aturan itu berlaku selama satu hari dalam sepekan. “Kita dari Polda Minggu depan, dalam satu hari kita tidak bawa mobil. Jangan malu-malu naik angkot, naik sepeda ka, atau jalan kaki. Saya di Ambon ini, tidak pernah melihat ada polisi jalan kaki,” terangnya.

Dikatakan, bila dirinya tinggal di Swisbell Hotel jaraknya berdekatan dengan Markas Polda Maluku, maka dia memilih berjalan kaki ke kantor. “Saya akan kasih contoh, kalau misalnya saya tinggal di swisbell, saya jalan kaki. Pulang kantor kalau bisa jalan kaki, jalan. Kan dekat,” terangnya.

Menurutnya, jalan di Ambon pendek dan terbagi dalam beberapa blok. Jalan terasa jauh, karena dilalui rute satu arah atau memutar. Pendeknya jalan di Ambon dapat ditempuh dengan berjalan kaki, melalui lorong-lorong. “Di Ambon ini kan jalannya per blok. Akan jauh karena dia puntar. Tapi kalau jalan kaki, kan potong. Kita jalan, polisi, karyawan. Jalan kaki ini masih malu-malu, gengsi,” sebutnya.

Jalan kaki, bersepeda, bahkan naik becak selain mengurangi kemacetan, tambah Lumowa, juga mengurangi polusi udara. Olehnya itu, dirinya akan menggulirkan program bernama “Transportasi Sehat Merakyat.”

“Kalau di negara maju seperti di Amerika disebut Active Transportation. Ada penelitian mengatakan 50 tahun ke depan, apabila warga dunia naik mobil terus maka kaki akan mengecil. Ini hasil riset, makanya di Amerika gulirkan program Active Transportation yakni jalan kaki, modal speda dan angkutan umum. Ini yang ditonjolkan. Ini bisa mereduksi polusi udara,” jelasnya.

Di Indonesia, khususnya di Maluku, Lumowa mengaku sedang memperjuangkan program “Transportasi Sehat Merakyat.” Untuk menerapkan program itu, pihaknya akan mendorong pemerintah untuk benahi transportasi umum, serta mengajak masyarakat aktif menggunakan angkutan umum.

“Kompensasinya pemerintah harus menyediakan sarana memadai. Angkutannya, terminalnya, haltenya. Kemudian sarana berjalan kaki. Karena orang naik angkutan umum tentu berjalan kaki. Turun ke terminal, pergi ke terminal berikutnya, mau ke warung, halte dengan berjalan kaki. Jangan malu, jangan cape. Kalau dia berjalan jauh, naik sepeda. Bisa juga becak. Ini solusi mengurangi polusi udara,” jelasnya.

Menurutnya, knalpot kendaraan menyebabkan terjadinya polusi udara 70 sampai 80 persen. Kendati demikian, lanjut dia, melihat Ambon dari sisi polusi udara belum berbahaya dibanding kota-kota lainnya di Indonesia.

“Polusi udara Ambon belum berbahaya karena kiri kanan laut, pabrik tidak ada. Tapi knlapot itu 70 sampai 80 persen mengakibatkan polusi. Di Jakarta kita lihat ke atas tidak lihat langit. Itu kenapa, itu polusi udara. Makanya saya anggap dan secara extrim saya bilang kalau polusi itu sampah yang tidak dilihat. Orang buang sampah sembarangan kita marahin, sementara sampah udara, tidak,” tandasnya. (CR1)

Penulis:

Baca Juga