Bareskrim Usut Skandal Izin BPS di Gunung Botak

Internasional

Israel Perang Atas Dasar Agama, Negara Islam Takut Gunakan Slogan Agama?

badge-check


					Israel Perang Atas Dasar Agama, Negara Islam Takut Gunakan Slogan Agama? Perbesar

Nama ini juga memiliki dimensi psikologis, karena penggunaan kata “tembok” meningkatkan rasa aman dan stabilitas di kalangan masyarakat Israel dan mengurangi sifat permusuhan dari operasi tersebut di media internasional, karena pendudukan mengklaim bahwa ini adalah respons yang diperlukan untuk melindungi diri dan bukan agresi.

Sebuah operasi yang dilancarkan oleh tentara Israel terhadap Jalur Gaza dari 27 Desember 2008 hingga 18 Januari 2009. Nama operasi ini memiliki konotasi simbolis yang menyatukan antara militer dan budaya.

Nama ini merujuk pada proses peleburan peluru dan membentuknya menjadi tanda kekuatan dan kekerasan serta mencerminkan keinginan Israel untuk memberikan pukulan kuat terhadap perlawanan Palestina, terutama Gerakan Perlawanan Islam Hamasdengan tujuan melemahkan kemampuan militernya.

Cast Lead adalah judul lagu Ibrani yang dinyanyikan oleh anak-anak pada saat Hanukkah (Festival Cahaya). Liriknya mengekspresikan keberanian para Makabe, kelompok Yahudi pemberontak yang memimpin pemberontakan melawan pemerintahan Seleukus di Yudea pada abad kedua sebelum Masehi.

Mereka menolak dominasi Helenistik dan upaya memaksakan budaya kafir, sehingga menjadi simbol perjuangan agama dan bangsa dalam ingatan orang Yahudi.

Nama ini mencerminkan keinginan Israel untuk menyamakan pasukannya dengan para Makabe, para pembela identitas Yahudi, dalam upaya untuk menghubungkan pertempuran dengan perjuangan historis Yahudi dan memperkuat mitos nasionalis tentang ‘perlawanan Yahudi’.

Sebuah operasi militer yang dilancarkan oleh tentara Israel terhadap Jalur Gaza pada November 2012. Nama ini memiliki konotasi alkitabiah yang jelas.

Berasal dari Keluaran 13:21, yang menyatakan, “Tuhan berjalan di depan orang Israel pada siang hari di atas tiang awan untuk menuntun mereka di jalan.”

Nama “Tiang Awan” terinspirasi dari Taurat, karena dikatakan bahwa selama periode pengembaraan di gurun Sinai, orang Israel mengikuti “tiang awan” pada siang hari dan “tiang api” pada malam hari, menjadikannya sebagai panduan untuk mencerminkan bimbingan dan perlindungan Tuhan.

Dalam konteks militer Israel, nama tersebut mencerminkan simbol “hukuman surgawi” atau “balas dendam ilahi”, yang melanggengkan apa yang Israel anggap sebagai sifat hukuman dan pencegahan dari operasi terhadap perlawanan Palestina.

Nama tersebut juga menunjukkan pembenaran terselubung atas agresi sebagai “kehendak ilahi”, dan eksploitasinya dalam wacana media yang memperkuat rasa “perlindungan surgawi” masyarakat Israel.

Operasi Penjaga Tembok diluncurkan oleh tentara Israel terhadap Jalur Gaza pada Mei 2021, sebagai tanggapan atas Operasi Pedang Yerusalem.

Perlawanan Palestina melancarkan serangan rudal ke wilayah Israel, setelah serangan pemukim ke Masjid Al-Aqsa, dan sebagai tanggapan atas rencana Israel untuk memindahkan penduduk lingkungan Sheikh Jarrah di Yerusalem.

Nama “Penjaga Tembok” diambil dari nubuat Yesaya dalam kitab Taurat, yang berbunyi: “Di atas tembok-tembokmu, hai Yerusalem, Aku telah menempatkan para pengawal yang tidak akan berdiam diri sepanjang hari dan sepanjang malam.” (Yesaya 62:6).

Nubuat ini berbicara tentang para penjaga yang terus-menerus mengawasi tembok, mengacu pada perlindungan Yerusalem dan tempat-tempat suci Yahudi, yang mencerminkan promosi Israel atas “komitmennya untuk melindungi perbatasannya”, terutama mengingat eskalasi yang disaksikan oleh Yerusalem pada saat itu.

Sebuah operasi militer yang dilakukan oleh tentara Israel terhadap Jalur Gaza pada Oktober 2023, sebagai tanggapan atas Operasi Badai Al-Aqsa, yang dimulai dengan pengeboman udara intensif di Jalur Gaza kemudian diikuti dengan invasi darat yang kemudian berubah menjadi genosida.

Nama ini terinspirasi dari Taurat, karena pedang disebutkan sebagai alat penghukuman ilahi dalam teks-teks seperti Mazmur Daud dan Yesaya, termasuk: “Dengan pedang besi Aku akan menghukum mereka” (Yesaya 27:1).

Dengan nama ini, Israel ingin menggambarkan serangannya ke Jalur Gaza sebagai perang pemurnian agama yang dipimpin oleh Ilahi, dan bahwa tentara Israel adalah alat pembalasan dendam dan hukuman Ilahi, yang menekankan gagasan ketegasan mutlak dan penghancuran total terhadap mereka yang dianggap musuh.

“Pedang Besi” melambangkan kesombongan Israel dan mengekspresikan kekuatan keras dalam makna Abad Pertengahan yang absolut, jauh dari aturan hukum kemanusiaan internasional yang mengatur perang.

“Merkavot Gideon” dalam bahasa Ibrani, sebuah operasi militer yang bertujuan untuk memperluas agresi Israel di Gaza pada awal 2025 yang memiliki konotasi religius, historis, dan militer.

Hal ini karena Israel sebelumnya telah memberikan nama yang sama untuk salah satu operasinya pada Nakba 1948, ketika Israel menguasai wilayah Palestina Beisan dan mengusir penduduknya.

Gideon adalah tokoh Alkitab yang disebutkan dalam Kitab Hakim-Hakim, yang berperang melawan bangsa Midian.

Sebuah bangsa telah ditempatkan Tuhan atas bangsa Israel karena perbuatan jahat mereka, sehingga Tuhan memerintahkan Gideon untuk menyelamatkan bangsa Israel, dan memintanya untuk menghancurkan mezbah Baal, tetapi bangsanya memberontak terhadapnya, dan hanya sedikit dari mereka yang berdiri bersamanya.

Menurut Taurat (Kitab Hakim-Hakim, pasal 7), Gideon mengurangi jumlah pasukannya dari 30 ribu orang menjadi hanya 300 orang, berdasarkan perintah ilahi untuk mengecualikan orang-orang yang “penakut” dari pasukannya.

Namun mereka berhasil mengalahkan pasukan Midian – para pengembara dari Hijaz – dan membuat mereka mundur ke seberang Sungai Yordan, serta membunuh para raja dan seluruh pasukan mereka.

Gideon disebut dalam media Israel sebagai pahlawan nasional yang menyelamatkan bangsa Israel dari tentara Midian yang canggih pada saat itu, karena mereka tahu cara mengendarai unta dan dikenal dengan “kekerasan, kecepatan dan kejutan dalam menyerang”.

Sementara Gideon mampu mengatasi mereka “dengan pasukan sederhana dan peralatan sederhana, termasuk kereta perang, dengan rencana militer yang solid”.

Sebuah operasi militer, di mana Israel melancarkan serangan berskala besar ke berbagai wilayah di Iran pada Juni 2025, menargetkan fasilitas militer dan nuklir serta para pemimpin senior Iran di bidang keamanan, militer, dan lembaga penelitian.

Israel mengilhami nama operasi ini (Singa yang Bangkit) dari Taurat dalam teks Perjanjian Lama, yang berbicara tentang “masa depan yang makmur di mana Israel yang kuat akan berjaya”.

Ungkapan tersebut ditemukan dalam “pasal 23/24”: “Suatu bangsa akan bangkit seperti singa, dan seperti singa, ia tidak akan tidur sebelum memakan mangsanya, dan dari darah korbannya ia akan minum.”

Singa memiliki tempat simbolis dalam ajaran Talmud Yahudi. Dalam sebuah nubuat Bileam ben Ba’ala, seorang nabi dan pelihat yang meramalkan kekuatan dan otoritas Israel, ia menyamakannya dengan seekor singa yang tidak akan beristirahat hingga rasa laparnya terpuaskan.

Sehari sebelum operasi, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu meletakkan sebuah catatan tulisan tangan di sebuah celah di Tembok Barat di Yerusalem yang diduduki, sebelum kantornya kemudian mempublikasikan foto catatan yang ia letakkan, yang bertuliskan “Rakyat akan bangkit seperti singa.” (ROL)

Tinggalkan Balasan

Baca Juga

Indonesia Kutuk Langkah Zionis Israel Tutup Masjid Al-Aqsa di Bulan Ramadhan

12 Maret 2026 - 17:13 WIT

Diroket  Hizbullah, Salah Satu Anak Menteri Kabinet Netanyahu Anti-Islam Jadi Korban

7 Maret 2026 - 03:16 WIT

AS dan Israel Gunakan 3.000 Amunisi Dalam 36 jam Pertama Serangan Iran

7 Maret 2026 - 00:01 WIT

Kebohongan Presiden Trump Serang Iran Terbongkar

6 Maret 2026 - 15:43 WIT

Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim Telepon Presiden Turki Erdogan 

6 Maret 2026 - 14:57 WIT

Trending di Internasional