Dikatakan, selama ini, harga jual rempah-rempah Maluku seperti pala dan cengkih diserahkan kepada pasar termasuk kopra dan coklat. “Pemerintah selama ini tidak mengendalikan harga jual. Sehingga yang untung lebih adalah tengkulak dan bukan petani,” sebutnya.
Menurut dia, selama ini produk yang dijual ke luar Maluku hanya dalam bentuk biji atau bahan baku mentah. Dengan hilirisasi rempah-rempah hasil yang keluar atau dijual keluar berupa produk siap pakai, dengan sendirinya dimasa datang program ini membawa dampak ekonomi signifikan bagi daerah maupun petani.
“Sejarah telah buktikan bahwa rempah-rempah kita Pala dan Cengkih menjadi buruan dunia. Itu ratusan tahun lalu, tapi sekarang harga rempah kita tidak menguntungkan petani,” terangnya.
Bagi dia, hilirisasi rempah-rempah inipenting, terutama buah pala dan cengkih yang mengandung usnur-unsur kimia dan kerap digunakan ragam produk ekonomi, bukan hanya industri makanan, tapi juga dalam bidang medis obat-obatan dan fashion dan lainnya.
Dia optimis, bila konsep hilirasi rempah-rempah dibuat dan dijadikan prioritas sudah pasti dikemudian hari ketergantungan anggaran pembangunan dari pusat akan berkurang. (KT)



























