Bareskrim Usut Skandal Izin BPS di Gunung Botak

Internasional

Ancaman dan Peluang bagi RI di Balik Gempuran Tarif Impor Trump

badge-check


Ancaman dan Peluang bagi RI di Balik Gempuran Tarif Impor Trump Perbesar

KABARTIMURNEWS.COM.WASHINGTON – Pada akhirnya memang kebijakan tarif yang dicanangkan oleh Donald Trump membawa tantangan tersendiri bagi Indonesia. Apa yang harus dilakukan Indonesia?

Kebijakan tarif dasar impor baru yang diterapkan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, memberikan dampak signifikan pada perekonomian global, termasuk Indonesia. Kebijakan tarif impor yang disebutnya sebagai timbal balik atau Reciprocal Tariffs ini disebut sebagai tarif balasan Trump karena beberapa negara dianggap telah menerapkan tarif lebih dahulu atas barang impor asal AS.

Trump diketahui menetapkan aturan main perdagangan dengan mengenakan tarif dasar impor baru rata-rata sebesar 10 persen untuk barang impor yang masuk ke AS. Besaran tarif yang lebih tinggi juga dikenakan bagi negara mitra dagang yang memiliki surplus perdagangan dengan AS, termasuk Indonesia.

Indonesia dalam hal ini berada di urutan ke delapan di daftar negara-negara yang terkena kenaikan tarif AS, dengan besaran 32 persen. Negara yang dikenakan tarif timbal balik tertinggi di atas Indonesia adalah Kamboja, yakni sebesar 49 persen.

Pengenaan tarif oleh AS pada produk tertentu dari Indonesia tentu saja berpotensi mengurangi daya saing ekspor Indonesia di pasar global. Beberapa produk unggulan Indonesia, seperti pakaian dan aksesoris – baik rajutan maupun bukan rajutan serta kelompok mebel, furnitur, dan perabotan dapat mengalami hambatan di pasar AS akibat kenaikan tarif tersebut.

Komoditas utama lain yang terkena imbas paling besar adalah produk olahan dari daging, ikan, krustasea (kelompok udang-udangan) dan moluska atau hewan bertubuh lunak semacam siput dan cumi-cumi. Dalam jangka pendek, ini dapat menyebabkan penurunan volume ekspor, yang pada gilirannya akan mempengaruhi pendapatan negara.

“Kebijakan tarif Amerika ini menimbulkan risiko yang cukup signifikan bagi Indonesia, karena memukul industri padat karya,” ujar Direktur Eksekutif NEXT Indonesia Center, Christiantoko, dalam pernyataanya kepada Tirto, Sabtu (5/4/2025).

Dari hasil riset NEXT Indonesia, tiga komoditas dari sektor usaha padat karya yang terpukul adalah pakaian dan aksesorinya – rajutan (HS 61), pakaian dan aksesorinya – bukan rajutan (HS 62), serta mebel, furnitur, dan perabotan (HS94). Secara keseluruhan, nilai ekspor tiga komoditas tersebut ke Amerika Serikat pada 2024 mencapai 6,0 miliar dolar AS. Adapun nilainya selama periode 2020-2024 mencapai 30,4 miliar dolar AS.

Dia menyebut alasan sektor-sektor tersebut paling terpukul, lantaran sepanjang periode 2020-2024, Amerika Serikat menyerap lebih dari separuh dari total ekspor tiga komoditas asal Indonesia tersebut yang dikirim ke seluruh dunia. Untuk pakaian dan aksesorinya rajutan misalnya, yang diserap pasar Amerika mencapai 60,5 persen atau senilai 12,2 miliar dolar AS selama lima tahun tersebut.

Sementara daya serap Amerika untuk komoditas pakaian dan aksesorinya yang bukan rajutan asal Indonesia, sepanjang lima tahun di periode yang sama, nilainya 10,7 miliar dolar AS atau 50,5 persen dari total ekspor Indonesia ke dunia. Begitu pun dengan komoditas mebel, furnitur, dan perabotan, Amerika menyerap 58,2 persen atau sekitar 7,5 miliar dolar AS.

“Jadi kalau pengiriman ke Amerika Serikat terhambat gara-gara tarif, ekspor komoditas-komoditas tersebut bisa terganggu atau bahkan mungkin tumbang. Sebab lebih dari separuh produk-produk tersebut diserap oleh pasar Amerika,” imbuhnya.

Selain tiga komoditas utama tersebut yang sebagian besar penjualan ekspornya diserap oleh pasar Amerika, produk lainnya adalah olahan dari daging, ikan, krustasea dan moluska. Sepanjang 2020-2024, pasar Amerika menyerap 4,3 miliar dolar ASatau 60,2 persen dari total ekspor Indonesia untuk komoditas tersebut.

Dari 10 komoditas yang dianalisis NEXT Indonesia, Christiantoko menyebut yang terbesar diekspor ke Amerika memang komoditas mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya (HS85),

yakni senilai 4,2 miliar dolar AS pada 2024 atau 14,7 miliar dolar AS untuk periode 2020-2024. Namun, dari total ekspor Indonesia ke dunia untuk komoditas tersebut, rata-rata daya serap pasar Amerika hanya 22,6 persen.

“Jadi, walaupun ada pengaruhnya, ya tidak sebesar yang terjadi pada empat komoditas lainnya, yang lebih dari separuhnya diserap pasar Amerika,” jelas Christiantoko.

BAYANG-BAYANG PHK

Dampak lanjutan dari kebijakan tarif baru AS adalah keamanan tenaga kerja di sektor tekstil dan produk tekstil yang jumlahnya lebih dari 3 juta orang. Menurut Christiantoko, ini menjadi masalah serius yang harus dipikirkan oleh pemerintah karena menyangkut dengan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).

“Apalagi saat ini sedang ramai-ramainya informasi tentang PHK,” paparnya.

Dalam kalkulasi sementara Litbang Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) dan Partai Buruh, diperkirakan akan ada tambahan 50 ribu buruh yang ter-PHK dalam tiga bulan pasca diberlakukannya tarif baru tersebut. Kenaikan tarif sebesar 32 persen membuat barang produksi Indonesia menjadi lebih mahal di pasar Amerika.

Konsekuensinya, permintaan menurun, produksi dikurangi, dan perusahaan terpaksa melakukan efisiensi, termasuk PHK. Bahkan, dalam beberapa kasus, perusahaan memilih menutup operasionalnya.

Tinggalkan Balasan

Baca Juga

Indonesia Kutuk Langkah Zionis Israel Tutup Masjid Al-Aqsa di Bulan Ramadhan

12 Maret 2026 - 17:13 WIT

Diroket  Hizbullah, Salah Satu Anak Menteri Kabinet Netanyahu Anti-Islam Jadi Korban

7 Maret 2026 - 03:16 WIT

AS dan Israel Gunakan 3.000 Amunisi Dalam 36 jam Pertama Serangan Iran

7 Maret 2026 - 00:01 WIT

Kebohongan Presiden Trump Serang Iran Terbongkar

6 Maret 2026 - 15:43 WIT

Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim Telepon Presiden Turki Erdogan 

6 Maret 2026 - 14:57 WIT

Trending di Internasional