Bareskrim Usut Skandal Izin BPS di Gunung Botak

Opini

“Perang Proxy Yang Dilancarkan Oleh Iran Dalam Kepentingan nya Di Timur Tengah Pasca Krisis Gaza 7 Oktober”

badge-check


					Muhamad Ardhan Kamsurya, Mahasiswa Hubungan Internasonal. Perbesar

Muhamad Ardhan Kamsurya, Mahasiswa Hubungan Internasonal.

mengganggu perdagangan global dengan serangan terhadap kapal-kapal di perairan laut merah Yaman.

Iran telah berhasil mengelola proksi-proksinya dengan fleksibilitas dan dinamisme yang luar biasa. Mereka menggunakan kelompok payung dan ruang operasi gabungan untuk mengoordinasikan berbagai macam faksi, sambil juga memecah-mecah kelompok lain untuk mempertahankan dominasi mereka. Selain memberikan dana dan dukungan material, Iran juga mulai mentransfer alat produksi dan melakukan modifikasi senjata agar milisi-milisi tersebut dapat mempertahankan produksi independen yang berkelanjutan. Meskipun ada risiko kehilangan kendali kepentingan, Iran tetap melihat manfaat besar dalam membangun redundansi pasokan, inovasi, dan meningkatkan kapasitas milisi-milisi tersebut. Faksi “kelompok militant” Iran yang terfokus pada komponen penting diantaranya adalah Hizbullah di Lebanon, Jihad Islam Palestina dan Hamas, kekuatan penuh milisi Syiah Irak, dan Houthi di Yaman. Kelompok-kelompok ini muncul sebagai simpul yang paling kuat dalam jaringan milisi Iran, namun mereka hanya mewakili minoritas kecil dari banyak kelompok di seluruh dunia yang dilindungi oleh Teheran selama 45 tahun terakhir.

Selama lebih dari empat dekade, kelompok proksi militan telah menjadi bagian penting dari strategi regional dan internasional Republik Islam Iran. Iran telah lama menggunakan taktik perang asimetris ini untuk melawan lawan-lawannya yang lebih kuat, terutama Israel sebagai rivalnya di Kawasan Timur Tengah dan Amerika Serikat di Eropa, dengan tujuan memperkuat pengaruhnya sendiri. Dengan menghilangnya pesaing sejarah Iran di Timur Tengah seperti Saddam Hussein dan Moammar Gaddafi, Iran telah menjadi salah satu kekuatan utama yang paling dianggap sebagai ancaman berbahaya di wilayah tersebut. Secara keseluruhan, konflik ini menyoroti kompleksitas politik dan militer di Timur Tengah, dengan Iran memainkan peran yang signifikan dalam mendukung kelompok-kelompok proxy yang terlibat dalam perang ini. Dengan ketegangan yang semakin meningkat, upaya perdamaian dan penyelesaian konflik menjadi semakin sulit dilakukan di wilayah tersebut. (*)

Oleh : Muhamad Ardhan Kamsurya

Mahasiswa Hubungan Internasonal

Tinggalkan Balasan

Baca Juga

Mengajarkan Puasa Dalam Bingkai Kepentingan Terbaik Anak

15 Februari 2026 - 23:05 WIT

Ramadhan, Prapaskah Bertemu: Momen Kerukunan dan Pertobatan Ekologis

15 Februari 2026 - 22:59 WIT

Cetak Generasi Tangguh, Lanud Pattimura Gelar Persami KKRI 2026 bagi Pelajar Maluku

14 Februari 2026 - 19:19 WIT

Skandal UP3 Tanimbar, Dugaan Pelanggaran Prosedur Pembayaran Proyek Ratusan Miliar

7 Februari 2026 - 12:11 WIT

Pentingnya Profesi Penilai Bagi Stabilitas Sektor Keuangan Indonesia

7 Februari 2026 - 11:51 WIT

Trending di Opini