Bareskrim Usut Skandal Izin BPS di Gunung Botak

Amboina

Theodora Mattrutty, Pulang Pergi Luar Negeri Karena Kreativitas

badge-check


					Theodora Mattrutty, Pulang Pergi Luar Negeri Karena Kreativitas Perbesar

KABARTIMURNEWS.COM.AMBON – Pemanfaatan SDA sekaligus merupakan pembentukan karakter (spirit) wirausahawan yang perlu dirangsang dengan motivasi.

Ketika pengunjung untuk pertama kali memasuki walang atau pondok kayu yang berada di kawasan Desa Wayame, Kecamatan Teluk Ambon, Kota Ambon kemungkinan besar akan membaca di lembaran kayu bertuliskan “Rukawa.”

Singkatan dari Rumah Kayu Wayame. Sementara di bawahnya ada tulisan “Theodora Homestay” juga tertulis di lembaran kayu.

Di homestay tampak berbagai piagam penghargaan. Setidaknya ada delapan plakat dipasangi kaca, salah satunya Kartini Award. Beberapa piala juga dipajang oleh pemilik walang kayu, Theodora Matrutty.

Tapi hari itu lebih tampak kesibukan puluhan mahasiswa/mahasiswi dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Pattimura (Unpatti) Ambon. Mereka terlihat berkelompok sepertinya sedang membuat semacam produk kerajinan tangan.

Beberapa terlihat mengetok daun paku (pakis) dengan martil kecil yang diambil zat taninnya. Ternyata tanin tersebut dipakai untuk mewarnai kain.

“Jadi itu mahasiswa-mahasiwi yang bikin. Mereka anak-anak semester 4 fakultas perikanan. Menurut kami ini ekonomi kreatif,” ujar Reinald Papilaya.

Dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Unpatti Ambon bergelar doktor ini menjelaskan, para mahasiswa/i tersebut diajarkan untuk memanfaatkan sumberdaya alam (SDA) yang diambil dari lingkungan sekitar. “Tapi yang penting prakteknya tuh,” ujarnya sembari tersenyum, saat berada di sekitar puluhan mahasiswa/i nya itu.

Menurut Reinald, pemanfaatan SDA ini sekaligus merupakan pembentukan karakter (spirit) wirausahawan. Yang perlu dirangsang dengan motivasi.

Jika tidak dimotivasi, ujar dia, memungkinkan mereka mengalami kesusahan ekonomi di kemudian hari. “Susah for anak-anak to? contoh limbah sisik ikan besar ini saja kalau dijual bisa 5 ribu, 10 ribu, dan untuk bros 30 ribu,” ujarnya memberi contoh.

Yang mengajarkan para mahasiswa/i nya mata kuliah ekonomi kreatif, ungkap Reinald, adalah Ir. Theodora E.A.A.Matrutty Msc. Yang juga salah satu dosen pengajar pada Program Studi (Prodi) Teknologi Hasil (THP) Perikanan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Unpatti Ambon.

Mereka, ujar Reinald, merupakan mahasiswa/i prodi agrobisnis perikanan dengan mata kuliah ekonomi kreatif. “Jadi Ibu Tia ini dosen ekonomi kreatif. Gunakan tanaman-tanaman sekitar untuk dicetak di atas kain,” paparnya.

Dihubungi terpisah Theodora yang akrab disapa, “Ibu Tia” oleh sesama civitas akademiknya itu menjelaskan, bidang yang diajarkan ke mahasiswa/i adalah  untuk mengajak mereka berpikir kreatif. Dengan memanfaatkan kearifan lokal dari bahan alam yang dianggap sudah jadi limbah.

Namun begitu tidak ada limbah terbuang percuma. “Jadi ini kerja-kerja zero waste, tidak ada limbah, semua terpakai,” imbuhnya.

Tinggalkan Balasan

Baca Juga

Pungli Parkir Pantai Mardika Ambon Bakal “Masuk” Jaksa 

22 Januari 2026 - 23:35 WIT

LPKA Ambon Bentuk Tim Zona Integritas WBK-WBBM Maksimalkan Layanan

22 Januari 2026 - 23:11 WIT

Kodaeral Ambon Bantu Alat Keselamatan Bagi Nelayan Malteng

22 Januari 2026 - 23:03 WIT

Pemkot Ambon Siapkan Tim Terpadu Berantas Parkir Liar

20 Januari 2026 - 22:23 WIT

Warga Kate-Kate Ambon Geger Temukan Jasad Bayi Laki-laki

14 Januari 2026 - 01:06 WIT

Trending di Amboina