Namun, menurut warga, sekembalinya oknum Babinsa ini di Kampung Waelulu, dari pemeriksaan akibat laporan itu, bukannya menjadi lebih baik, tapi malah sebarkan informasi ke warga kalau dia dilapor kerana ada warga yang iri atas pembangunan yang dilakukan oknum ini.
Menurut mereka, gerakan oknum Babinsa ini membenturkan warga dilakukan sejak proses Pilkades atau pemilihan raja di Negeri Waelulu. Dimana, calon raja yang “dibeking” oknum Babinsa ini, tidak terpilih. Sehingga sampai dengan saat ini yang bersangkutan terus melakukan manuver-manuver terselubung dengan memprovokasi warga untuk melakukan gugatan, terhadapa Raja Negeri Waelulu yang telah dilantik ini.
Warga mengaku, proses pemilihan raja di tahun 2018 di negeri mereka sempat terjadi kubu-kubuan. Tapi, itu hanya berlangsung saat proses itu berjalan. Namun, setelah raja dilantik, warga kembali hidup damai tanpa bermusuhan atau kubu-kubuan, seperti saat ini.
“Jadi saat ini, kubu yang kalah dalam pemilihan raja seperti “diracun” pikiran-pikiran oleh oknum ini. Kita berharap untuk menciptakan Negeri Waelulu dari kehidupan warga yang kubu-kubuan, para petinggi TNI, seperti Pak Pangdam dan Pak Dandrem dapat memenuhi permintaan kami, untuk memindahkan atau mutasi oknum ini ke Kodim lain, di selain Maluku Tengah,” pintahnya.
Para tokoh masyarakat, pemuda dan adat Negeri Waelulu, sudah sangat resah dengan sikap angkuh sang oknum Babinsa ini. Karena itu, solusi terbaik menghindari benturan warga di Negeri Waelulu, dan mengembalikan Waelulu yang damai seperti dulu, mereka meminta oknum Babinsa ini segera dimutasi. (KT)



























