Simulator Politeknik Kuat Indikasi Korupsi Kejati Harus Fokus

KABARTIMURNEWS.COM,AMBON, - Kasus dugaan korupsi mesin simulator Politeknik Negeri Ambon senilai Rp 10 miliar hampir pasti tidak bergerak di Kejati Maluku. Kejati mengaku kekurangn personil, namun pengamat menilai itu hanya dalih.

Faktanya, kasus dilapor pas satu tahun lalu, tapi penanganan masih di tahap penyelidikan. Dikonfirmasi kembali Kasipenkum Kejati Maluku Samy Sapulette memastikan, tim jaksa masih fokus menghadapi perkara dugaan korupsi PLTMG Namlea.

Sehingga kemungkinan penyelidikan kasus tersebut akan melambat untuk sementara waktu. “Mestinya jaksa fokus. Karena ini menyangkut kepastian hukum,” tandas pengacara Mourits Latumeten, Rabu (3/3) di PN Ambon. 

Kasus yang dilapor dengan tenggat waktu tersebut dengan lokus kasus Kota Ambon, menurutnya cukup bagi jaksa menuntaskan penyelidikan. Di lain sisi, kasus ini patut menjadi perhatian Kejati, apalagi kuat terindikasi korupsi.

Menurutnya, pencairan anggaran hingga 100 persen, tapi barang belum ada, sudah cukup jadi  indikasi. Apalagi kalau telah melewati masa kontrak barulah barang didatangkan. 

Yang mana masa kontrak berakhir Desember 2019, namun akhirnya didatangkan pada Januari 2020. Bahkan setelah datang, barang tersebut ternyata tidak sesuai spesifikasi yang ditentukan.

Seperti yang diduga terjadi, kontrak pengadaan mesin simulator untuk praktikum mahasiswa jurusan mesin Politeknik Negeri Ambon adalah mesin asal USA. Tapi ternyata setelah adendum barang yang datang merek Cina. 

“Kalau informasi, pengadaan mesinnya lain daripada kontrak, itu sudah bisa dibilang indikasi,” cetus Mourits.

Bahkan sekalipun ada adendum, kata Mourits, hal itu tidak berkaitan dengan spek barang. Tapi berkaitan dengan waktu kontrak yang diperpanjang. “Artinya, spek barang tetap harus sama dengan kontrak,” tambahnya. 

(KTA)

Komentar

Loading...