Derita Warga SBB, Hendak Melahirkan Ditandu 10 Km

KABARTIMURNEWS.COM,AMBON, - Hampir 18 tahun tahun setelah Seram Bagian Barat dimekarkan dari Maluku Tengah, kabupaten induknya, penderitaan masih tetap menghampiri Niniari Gunung.

Di saat Bupati Seram Bagian Barat, M. Yasin Payapo menggelar pernikahan megah anaknya M. Iqbal Payapo dengan Gadis Nadia Umasugi, warganya harus bertaruh nyawa untuk mendapatkan pelayanan kesehatan.

Iqbal mempersunting Gadis, putri Bupati Buru Ramli Umasugi dengan mahar senilai Rp 1 miliar. Dua anak pesohor ini melangsungkan akad nikah dan resepsi pernikahan di Namlea, ibu kota kabupaten Buru selama dua hari, Jumat dan Sabtu (27/2).

Di tengah kemegahan pesta pernikahan putranya, warganya di desa Niniari Gunung, Kecamatan Taniwel, harus berjuang bertahan hidup. 

Linda Latue, harus ditandu dari desanya Niniari Gunung menuju desa Riring sejauh 10 kilometer. Wanita 22 tahun itu harus bertahan hidup untuk menyelamatkan bayi dirahimnya. Dia ingin proses melahirkan berjalan normal dengan bantuan tenaga medis di Puskesmas. 

Ketiadaan akses jalan untuk kendaraan bermotor menuju Desa Riring, warga Niniari Gunung harus jalan kaki menerjang hutan. Belasan warga Niniari bergantian memikul tandu selama 6 jam untuk mencapai Desa Riring. Butuh tenaga super ekstra untuk melewati jalan setapak yang terjal dan menanjak. 

Sepanjang perjalanan, Linda harus menahan rasa sakit yang tidak terkira untuk tiba di Desa Riring. Setelah menuntaskan perjalanan yang mendebarkan dan melelahkan, Linda yang ditandu dengan batang bambu dan kain tiba di desa Riring.

Di Riring, perjalanan menuju Puskesmas di kota kecamatan Kecamatan Taniwel dilanjutkan dengan mobil sejauh puluhan kilometer.

Hampir 18 tahun tahun setelah Seram Bagian Barat dimekarkan dari Maluku Tengah, kabupaten induknya, penderitaan masih tetap menghampiri Niniari Gunung. Mereka harus menjalani hidup di tengah keterbatasan dan himpitan ekonomi. 

Mengeluh pun tiada guna, silih berganti bupati SBB dan gubernur Maluku, Niniari Gunung tetap terpinggirkan. Ketiadaan akses jalan dan transportasi begitu juga penerangan, Niniari Gunung benar-benar terisolir. 

Penderitaan warga Niniari Gunung yang menandu Linda untuk mendapatkan pertolongan medis ini diposting Ancha Sapsuha Tunny Laturissa di akun Facebook-nya, Senin (1/3) pukul 21.30 WIT. 

Postingan Ancha mendapat komentar dari netizen. Akun bernama Yustin Tunny berkomentar “potret kehidupan di bumi raja, entah siapa yg akan disalahkan, (Pempus, Pemprov atau Pemda setempat) namun inilah fakta yang benar2 terjadi. lalu sampain kapan derita ini harus dialami oleh sudara2 kita disana? suka atau tidak suka pada saat musim politik tentu banyak yang menaburkan janji politik bagaikan bunga lenggua berguguran, dan ketika sda menduduki tahkta kekuasaan janji politik itu bagaikan sampah yang terbawa derasnya air tala, eti dan sapalewa batai. inilah potret yang harus di publikasikan agar penderitaan sudara2 kita dapat dilihat dan dirasakan oleh tuan dan puan yang menduduki kursi empuk di negeri ini.”

Lain lagi komentar netizen dengan akun Gua Patty; ”Sparu orang bilang biasa itu oo, kalaupun ibu itu meninggal dunia (untung saja zg terjadi) sudah takdir Tuhan jgn sdikit2 salahkan pemerintah daerah dg hal2 bagini.” 

Ketika berita ini kami publis, status tersebut sudah mendapat puluhan komentar dan tiga kali dibagian netizen. 

Kesedihan dan penderitaan Niniari Gunung untuk mendapatkan sentuhan kesehatan sebelumnya juga diposting Ancha Sapsuha Tunny Laturissa pada 1 Februari 2021. 

Ketika itu Ancha menulis, Rony Matitil, satu dari banyak kisah orang-orang Negeri Neniari Gunung yang ditandu untuk mendapat pelayanan kesehatan di Puskemas. 

Tandu merupakan satu-satunya cara warga lantaran terbatasnya akses kesehatan, jalan dan transportasi. Pria 30 tahun itu ditandu keluarga sejauh 10 kilometer menembus lorong hutan tropis, sungai dan lembah ke Negeri Riring. 

Meskipun masih menempuh perjalanan puluhan kilometer ke Puskesmas Kecamatan Taniwel atau ke Rumah Sakit Umum, Piru namun di Negeri Riring, bayangan pengobatan dan harapan untuk sembuh serasa dekat. 

Yuter Romasoal, seorang tenaga Posyandu mengisahkan derita orang-orang Neniari Gunung. Berbekal pengalaman menjadi kader posyandu, Yuter melakukan pengobatan kepada warga yang membutuhkan pertolongan. 

“Saya tidak lulus sekolah dasar, pengalaman ini karena diangkat sebagai kader posyandu. 10 tahun sudah saya mengabdi, jadi tahu tensi, tahu obat dan penyakit,” kata Yuter. 

Dia tak ingin kisah sedih kepergian istrinya bersama anak yang dikandung dialami perempuan lain di negerinya. “Istri meninggal bersama anak dalam kandungan karena terlambat pertolongan,” kisahnya ditulis Ancha.

Obat-obatan kata Yuter dibiayai lewat anggaran dana desa. Demikian insentifnya sebagai tenaga Posyandu. Sekalipun memperoleh insentif Rp2 juta per tahun, namun tak jua membuat  Yuter patah arang. Selain kader posyandu, Yuter sehari-hari mengabdi sebagai tua agama di gereja. Baginya, pengabdian dan pelayanan adalah ibadah. (KT)

Komentar

Loading...